Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Penjelasan Gunung Anak Krakatau Aktif Usai 'Tidur' Sejak 2024
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Rabu (8/7/2026). (Dok. PVMGB).
  • Gunung Anak Krakatau menunjukkan peningkatan aktivitas sejak awal Juni 2026 dengan terdeteksinya emisi gas SO2 dan anomali panas di kawah, menandakan sistem magmanya kembali aktif.
  • Puncak lonjakan aktivitas terjadi pertengahan Juni 2026 dengan ratusan gempa vulkanik tercatat serta indikasi inflasi tubuh gunung, menunjukkan tekanan magma di bawah permukaan masih berlangsung.
  • Erupsi terjadi pada 2 Juli 2026 disertai kolom abu setinggi 200 meter, membuat PVMBG menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) dan menetapkan radius bahaya tiga kilometer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik setelah relatif tenang sejak 2024. Kenaikan aktivitas tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi telah terpantau secara bertahap sejak awal Juni 2026 hingga akhirnya statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi mengatakan, peningkatan aktivitas diawali munculnya sejumlah indikator vulkanik. Berdasarkan citra satelit Sentinel, emisi gas sulfur dioksida (SO2) mulai terdeteksi pada 1 Juni 2026.

Selanjutnya pada 10 Juni, pengamatan memperlihatkan anomali panas dan titik api di area kawah yang menjadi indikasi aktivitas di permukaan gunung mulai meningkat.

"Sejak 1 Juni 2026 citra satelit Sentinel sudah mendeteksi adanya emisi gas sulfur dioksida (SO2). Kemudian pada 10 Juni mulai terlihat anomali panas dan titik api di kawah, yang menandakan aktivitas di permukaan gunung mulai meningkat," ujarnya dikonfirmasi,

1. Aktivitas kegempaan meningkat

DPD PDIP Lampung meninjau langsung Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan. (Dok. PDIP Lampung).

Selain pengamatan visual berupa kepulan asap kawah yang semakin intens, Andi menyebutkan, aktivitas kegempaan vulkanik juga mengalami peningkatan signifikan. Jenis gempa mendominasi yakni gempa hembusan, hybrid atau fase banyak, serta gempa low frequency.

Menurutnya, peningkatan gempa vulkanik dangkal menjadi salah satu indikasi adanya pergerakan magma menuju permukaan. "Ini mengindikasikan dinamika magma di bagian dangkal atau dekat permukaan gunung api," katanya.

Meski demikian, peningkatan tersebut belum diikuti lonjakan signifikan pada gempa vulkanik dalam maupun deformasi besar. "Pola kegempaan yang terus meningkat menjadi sinyal sistem magma di bawah Gunung Anak Krakatau kembali aktif," lanjut Andi.

2. Lonjakan aktivitas terjadi pertengahan Juni

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Rabu (8/7/2026). (Dok. PVMGB).

Andi mengatakan, peningkatan aktivitas paling mencolok terjadi pada 18-19 Juni 2026. Dalam dua hari tersebut, jumlah gempa hembusan, hybrid, dan low frequency melonjak hingga rata-rata lebih dari 50 kejadian per hari.

Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026, PVMBG mencatat sebanyak 740 gempa hembusan, 520 gempa hybrid, 247 gempa low frequency, 24 gempa harmonik, 16 tremor menerus, dua gempa vulkanik dangkal, tiga gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, serta lima gempa tektonik jauh.

"Dari hasil pemantauan deformasi menggunakan jaringan tiltmeter menunjukkan adanya inflasi atau penggembungan tubuh gunung dalam skala rendah pada salah satu stasiun pengamatan. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan magma di bawah permukaan masih terus berlangsung," ucap Andi.

3. Erupsi hingga status naik menjadi Siaga

Potret aktivitas di Gunung Anak Krakatau. (Dok. PVMBG)

Memasuki 26 Juni 2026, Andi menambahkan, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Intensitas gempa hembusan semakin sering disertai keluarnya asap kawah berwarna kelabu yang mengandung abu vulkanik tipis.

Sebaran abu tersebut bahkan terdeteksi satelit milik Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia. Menurutnya, puncak peningkatan aktivitas terjadi saat Gunung Anak Krakatau erupsi, Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB.

Kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak dengan warna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah barat laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung sekitar 20 detik.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap data visual, kegempaan, deformasi, dan pemantauan satelit, PVMBG kemudian menaikkan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB.

"Keputusan tersebut diambil karena seluruh parameter pengamatan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang berpotensi berkembang menjadi erupsi lebih besar," terang Andi.

4. Masyarakat diminta patuhi radius bahaya

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Rabu (8/7/2026). (Dok. PVMGB).

Seiring kenaikan status menjadi Siaga, Andi menambahkan, PVMBG melarang masyarakat, nelayan, maupun wisatawan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, maupun hujan abu apabila aktivitas erupsi kembali meningkat.

"PVMBG menegaskan hingga saat ini tidak ada indikasi aktivitas Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mengikuti perkembangan resmi dari pemerintah dan BPBD setempat," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article