Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BPA Galon PC Picu Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker?

BPA Galon PC Picu Gangguan Hormon, Reproduksi, dan Kanker?
Ilustrasi galon. (IDN Times/Istimewa).
Intinya Sih
  • Hingga kini belum ada bukti klinis yang mengaitkan paparan BPA dari galon polikarbonat dengan gangguan hormon, reproduksi, atau kanker pada manusia.
  • Prof Johnner Sitompul menegaskan bahwa BPA dalam bentuk polikarbonat sulit terlepas karena ikatan kimianya kuat, sehingga kecil kemungkinan bermigrasi ke air pada suhu normal.
  • Ia menilai perlu riset khusus untuk menguji potensi migrasi BPA dari galon polikarbonat agar hasilnya bisa menjadi acuan ilmiah yang objektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Hingga kini belum ada bukti klinis secara langsung mengaitkan paparan Bisphenol A (BPA) dari galon PC dengan gangguan hormon, reproduksi, dan kanker pada manusia. Terlebih lagi BPOM belum pernah melakukan kajian terkait hal tersebut.

Hal itu disampaikan Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Johnner Sitompul. Ia menilai, masyarakat perlu kritis membedakan BPA sebagai senyawa yang berdiri sendiri dengan BPA sebagai unsur pembentuk kemasan. BPA sebagai bahan pencampur plastic polikarbonat sangat sulit terlepas dari ikatan plastiknya, jadi kecil kemungkinan migrasi, apalagi dalam suhu normal. PC adalah bahan kemasan yang tahan panas, karenanya digunakan sebagai kemasan guna ulang yang lebih ramah lingkungan.

"Riset itu (bahaya galon PC) belum terlihat, yang banyak itu risiko BPA terhadap bayi, terhadap kelenjar-kelenjar atau hormon terhadap obesitas BPA-nya ya, bukan polikarbonatnya," kata Johnner dalam keterangan resmi, Minggu (12/7/2026).

Johnner menjelaskan, BPA merupakan zat pembentuk yang berubah bentuk saat menjadi polikarbonat. Belum ada penelitian yang membuktikan polikarbonat dalam bentuk galon yang dapat terurai kembali menjadi BPA saat bersentuhan dengan air.

Dia mengatakan, penelitian yang selama ini banyak berkembang justru masih berfokus pada BPA sebagai senyawa tersendiri, bukan pada galon polikarbonat yang digunakan sebagai wadah air minum. Padahal, sambung dia, senyawa pembentuk (monomer) yang tergabung dalam polikarbonat berubah dan memiliki karakteristik yang jauh lebih stabil.

Johnner menjelaskan, hal ini lantaran materi polikarbonat dibentuk melalui reaksi polimerisasi sehingga memiliki ikatan kuat dan tidak mudah luruh atau rusak apabila digunakan sebagai kemasan pangan. Berbeda apabila materi tertentu yang hanya terbentuk melalui reaksi fisik sehingga memiliki ikatan yang lemah.

"Kalau sudah reaksi dia kan membentuk seperti senyawa baru yang kuat, kayak polimer (hasil bentukan monomer) itu kuat. Perdebatan selama ini kerap mencampuradukkan antara BPA sebagai bahan penyusun (monomer) dengan polikarbonat sebagai produk akhir yang telah mengalami reaksi kimia," kata Guru Besar Jebolan University of Wales ini.

Johnner berpendapat, diperlukan penelitian yang secara khusus yang menguji apakah BPA dalam polikarbonat dapat bermigrasi ke dalam air dalam kondisi penggunaan nyata. Menurutnya, hasil penelitian tersebut nantinya dapat menjadi rujukan ilmiah yang objektif.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More