Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penduduk Miskin Lampung 9,31 Persen, Tingkat Pengangguran Terbuka Naik

Bandar Lampung
Penduduk Miskin Lampung 9,31 Persen, Tingkat Pengangguran Terbuka Naik
ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Jordan Opel)
Intinya Sih
  • BPS mencatat penduduk bekerja di Lampung mencapai 4,95 juta pada Mei 2026, meski pengangguran terbuka naik tipis menjadi 3,97 persen dan pekerja informal mendominasi 69,17 persen.
  • Kemiskinan Lampung pada Maret 2026 turun menjadi 9,31 persen atau 831,89 ribu orang, dengan penurunan paling besar terjadi di wilayah perdesaan.
  • Pemerataan pengeluaran di perdesaan membaik, ditandai Gini Ratio turun menjadi 0,260 serta peningkatan porsi pengeluaran 40 persen penduduk berpengeluaran rendah menjadi 24,41 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026 Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Lampung turun menjadi 9,31 persen atau berkurang 0,35 persen poin dibandingkan September 2025. Secara jumlah, penduduk miskin berkurang 28,24 ribu orang menjadi 831,89 ribu orang.

Penurunan terbesar terjadi di wilayah perdesaan. Tingkat kemiskinan desa turun menjadi 10,41 persen atau berkurang 0,47 persen poin, sedangkan di perkotaan turun menjadi 7,28 persen atau berkurang 0,09 persen poin.

BPS juga mencatat kualitas kemiskinan di perdesaan semakin membaik. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,472 menjadi 1,417, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,303 menjadi 0,278.

"Hal ini menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin di desa semakin mendekati garis kemiskinan sekaligus mencerminkan ketimpangan pengeluaran antarkelompok miskin yang semakin menyempit," ujar Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution dalam keterangan resmi, Kamis (6/8/2026).

Pemerataan pengeluaran masyarakat desa terus membaik

ilustrasi uang (pexels.com/Ahsanjaya)
ilustrasi uang (pexels.com/Ahsanjaya)

Selain angka kemiskinan yang menurun, Ahmad mengatakan, BPS juga mencatat ketimpangan pengeluaran masyarakat di Lampung tetap terkendali. Gini Ratio provinsi pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,290, sedangkan Gini Ratio perdesaan turun dari 0,265 pada September 2025 menjadi 0,260.

Distribusi pengeluaran juga menunjukkan perbaikan di wilayah perdesaan. Porsi 40 persen penduduk berpengeluaran rendah meningkat menjadi 24,41 persen, sedangkan di perkotaan tercatat 21,96 persen. Pada saat yang sama, kelompok berpengeluaran menengah mencapai 38,82 persen di perdesaan dan 36,52 persen di perkotaan.

"Sementara itu, kelompok 20 persen penduduk berpengeluaran tertinggi tercatat sebesar 36,77 persen di perdesaan dan 41,52 persen di perkotaan. Data tersebut menunjukkan pemerataan pengeluaran masyarakat di perdesaan terus bergerak ke arah yang lebih baik," terangnya.

Penyerapan tenaga kerja meningkat, tetapi sektor informal masih mendominasi

ilustrasi tenaga kerja (pexels.com/@chevanon/)
ilustrasi tenaga kerja (pexels.com/@chevanon/)

Ahmadriswan mengatakan, jumlah penduduk usia kerja pada Mei 2026 mencapai 7,27 juta orang atau bertambah 24,46 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Penambahan itu diikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja sebanyak 35,50 ribu orang sehingga totalnya mencapai 4,95 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga tercatat sebesar 70,93 persen.

Menurut Ahmadriswan, meski penyerapan tenaga kerja meningkat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) naik tipis menjadi 3,97 persen atau bertambah sekitar 2,13 ribu orang menjadi 204,45 ribu orang. TPT di perkotaan mencapai 6,15 persen, lebih tinggi dibandingkan perdesaan sebesar 2,54 persen. Sementara itu, tingkat pengangguran perempuan sebesar 4,19 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 3,84 persen.

"Struktur ketenagakerjaan di Lampung masih didominasi pekerja informal dengan proporsi 69,17 persen, sedangkan pekerja formal sebesar 30,83 persen. Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar," jelasnya.

Dari sisi penambahan pekerja, lanjutnya, sektor administrasi pemerintahan, pertanian, serta akomodasi dan makan minum mencatat peningkatan tertinggi. Sementara itu, mayoritas penduduk yang bekerja masih lulusan SD ke bawah, yakni 36,67 persen atau sekitar 1,82 juta orang

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More