Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, M Darmawan, mengatakan kesiapsiagaan harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak hanya ketika bencana terjadi.
Lamsel Rawan Erupsi Krakatau dan Tsunami, Perkuat Siaga Bencana

- Lampung Selatan dengan garis pantai sekitar 240 kilometer memperkuat kesiapsiagaan terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau dan tsunami, meski status gunung turun dari Level III ke Level II.
- BPBD memutakhirkan data seragam tentang desa terdampak, penduduk, jalur evakuasi, titik kumpul, pengungsian, serta kondisi lapangan untuk mempercepat keputusan saat bencana.
- Sistem komunikasi darurat akan diperluas di tujuh kecamatan, fasilitas evakuasi diperbaiki, dan simulasi koordinasi lintas instansi disiapkan untuk memastikan mobilisasi sumber daya cepat.
Lampung Selatan, IDN Times - Kabupaten Lampung Selatan memiliki wilayah pesisir dengan garis pantai sekitar 240 kilometer yang berhadapan langsung dengan berbagai potensi risiko bencana, termasuk erupsi Gunung Anak Krakatau dan ancaman tsunami.
Merujuk hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Caranya, membenahi data kebencanaan, memastikan kesiapan sarana evakuasi, serta memperkuat dukungan komunikasi dan sumber daya lintas sektor.
1. Kesiapsiagaan harus dilakukan secara berkelanjutan

ilustrasi tsunami (pexels.com/Ahmed akacha) “Kita berharap rapat koordinasi seperti ini dapat dilaksanakan setiap minggu berdasarkan informasi yang kita terima, sehingga kewaspadaan kita tetap meningkat,” ujar Darmawan dalam Rapat Koordinasi dan Tindak Lanjut Rencana Aksi Menghadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Ancaman Tsunami yang digelar di Ruang Rapat Pusdalops PB Kantor BPBD Lampung Selatan, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, meskipun status aktivitas Gunung Anak Krakatau telah turun dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada), kesiapan seluruh pihak tetap perlu diperkuat agar respons dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi apabila kondisi darurat terjadi.
2. Pemutakhiran data kebencanaan

ilustrasi database (unsplash.com/David Pupaza) Salah satu fokus utama dalam rapat tersebut adalah pemutakhiran data kebencanaan. Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan, Maturidi, langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat akurasi dan keseragaman data dari berbagai kecamatan dan perangkat daerah sebagai dasar pengambilan keputusan saat penanganan bencana.
Untuk itu, BPBD menyiapkan format pendataan yang seragam agar seluruh informasi yang dibutuhkan dapat dihimpun secara lebih akurat. Data tersebut mencakup desa yang berpotensi terdampak, jumlah kepala keluarga dan penduduk, jalur evakuasi, titik kumpul, lokasi pengungsian, hingga dokumentasi kondisi lapangan.
“Data ini harus kita lengkapi selagi kondisi masih normal, sehingga ketika terjadi bencana kita sudah mengetahui jumlah masyarakat, jalur evakuasi, titik kumpul dan lokasi pengungsian yang akan digunakan,” kata Maturidi.
3. Penguatan sistem komunikasi darurat juga menjadi perhatian

ilustrasi SOS darurat (pixabay.com/geralt) Maturidi mengatakan, selain pemutakhiran data, penguatan sistem komunikasi darurat juga menjadi perhatian. BPBD memprioritaskan pemasangan rig radio komunikasi, untuk memperluas jangkauan komunikasi saat kondisi darurat, di tujuh kecamatan: Katibung, Sidomulyo, Kalianda, Rajabasa, Bakauheni, Ketapang, dan Sragi.
Kesiapan lokasi evakuasi turut dievaluasi. Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, masih ditemukan sejumlah fasilitas yang memerlukan perbaikan, mulai dari kebocoran atap hingga sarana mandi, cuci, kakus (MCK).
Karena itu, perangkat daerah yang memiliki bangunan yang akan difungsikan sebagai tempat evakuasi diminta memastikan kondisi bangunan tetap terawat dan siap digunakan sewaktu-waktu.
4. Masing-masing sektor diminta menyiapkan dukungan sesuai tugas dan kewenangan

ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Maël BALLAND) Di sisi lain, masing-masing sektor diminta menyiapkan dukungan sesuai tugas dan kewenangannya, termasuk memastikan mekanisme penggunaan sumber daya dapat berjalan cepat saat keadaan darurat.
Hal ini juga mencakup peralatan milik perangkat daerah, termasuk peralatan berat, yang perlu didukung mekanisme penggunaan yang jelas agar dapat segera dimobilisasi ketika dibutuhkan.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Lampung Selatan akan mendorong pelaksanaan tabletop exercise atau simulasi di atas meja guna menguji pembagian tugas, alur komunikasi, serta koordinasi antarinstansi. Simulasi tersebut akan menjadi tahap awal sebelum pelaksanaan simulasi lapangan apabila dibutuhkan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















