Prediksi Ekonomi Lampung Semester II 2026, Ini Kata Akademisi

- Ekonomi Lampung diproyeksikan tetap tumbuh positif pada Semester II 2026, meski lebih moderat dari Triwulan I yang mencapai 5,58 persen secara tahunan.
- Panen kopi robusta, perdagangan jelang Natal-Tahun Baru, belanja pemerintah daerah, serta sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan diperkirakan menopang pertumbuhan.
- Ketidakpastian global dan fluktuasi harga komoditas menjadi hambatan; inflasi diperkirakan terkendali, sementara fokus berikutnya pada hilirisasi, investasi manufaktur, diversifikasi PAD, dan kerja formal.
Bandar Lampung, IDN Times – Perekonomian Provinsi Lampung diperkirakan masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif pada Semester II 2026. Meski demikian, lajunya diprediksi tidak setinggi capaian pada awal tahun seiring adanya tantangan dari perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas.
Hal tersebut disampaikan Akademisi Lampung sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin. Ia mengatakan, fondasi ekonomi daerah hingga pertengahan tahun masih cukup kuat.
Pada Triwulan I 2026, ekonomi Lampung tumbuh 5,58 persen (year on year/yoy), menjadi pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
"Pertumbuhan itu didukung sektor pertanian sebagai kontributor utama. Hingga Semester I 2026, konsumsi rumah tangga juga tetap kuat, sementara inflasi Juni berada di level 2,46 persen secara tahunan," ujarnya,, Rabu (5/8/2026).
1. Panen kopi hingga belanja pemerintah diprediksi jadi motor pertumbuhan

Usep menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang akan menopang ekonomi Lampung pada paruh kedua tahun ini. Di antaranya musim panen kopi robusta dan komoditas perkebunan lainnya yang diperkirakan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain itu, peningkatan aktivitas perdagangan menjelang Natal dan Tahun Baru serta percepatan belanja pemerintah daerah pada semester kedua juga diperkirakan memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Sektor yang diprediksi menjadi motor pertumbuhan masih berasal dari pertanian, perdagangan, serta industri pengolahan," katanya.
2. Perlambatan ekonomi global masih menjadi tantangan

Di sisi lain, Usep mengingatkan masih ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi Lampung. Salah satunya adalah ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi permintaan ekspor.
"Harga sejumlah komoditas pertanian yang masih berfluktuasi juga dapat memengaruhi pendapatan petani dan aktivitas ekonomi di daerah," jelas Usep.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Lampung pada Semester II 2026 diperkirakan tetap positif, namun lebih moderat dibandingkan capaian pada Triwulan I.
3. Tantangan bergeser pada kualitas pertumbuhan ekonomi

Usep menilai, inflasi di Lampung hingga akhir tahun masih berpeluang tetap terkendali. Hal itu didukung produksi pangan yang relatif baik, stabilitas pasokan beras dan komoditas strategis, serta koordinasi berbagai pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Ia menambahkan, Semester II 2026 akan menjadi fase konsolidasi pertumbuhan ekonomi Lampung. Struktur ekonomi yang masih ditopang sektor pertanian dinilai cukup tangguh menghadapi gejolak eksternal.
Sementara konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 64 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tetap menjadi penopang utama.
"Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi menjaga laju pertumbuhan ekonomi, tetapi meningkatkan kualitas pertumbuhan melalui hilirisasi komoditas, peningkatan investasi manufaktur, diversifikasi sumber pendapatan asli daerah (PAD), serta penciptaan lapangan kerja formal," tuturnya.


















