Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
OMC Mulai Guyur Wilayah Rawan Karhutla, Hotspot di Lampung Turun
Kegiatan pemantauan operasi modifikasi cuaca di Bandara Radin Inten II. (Dok. BMKG Lampung).
  • OMC di Lampung pada 26-30 Agustus 2026 mulai menurunkan hotspot, terutama di Lampung Timur yang kini tidak mencatat titik panas.
  • Pada 29 Agustus, BMKG mendeteksi 49 hotspot berkategori kepercayaan sedang di tujuh kabupaten; terbanyak berada di Way Kanan dengan 19 titik.
  • OMC telah dilakukan lima penerbangan, sementara water bombing tetap berjalan untuk pemadaman dan pendinginan; penerbangan penyemaian bergantung pada pertumbuhan awan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) digelar untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Lampung mulai menunjukkan hasil. Jumlah titik panas atau hotspot di Lampung dilaporkan terpantau mulai menurun.

Berdasarkan data hotspot BMKG dipantau, Sabtu (29/8/2026) pukul 00.00-10.11 WIB, terdapat 49 titik panas terdeteksi di tujuh kabupaten di Lampung. Jumlah terbanyak berada di Way Kanan dengan 19 titik. Kemudian Lampung Utara, Mesuji, dan Tulang Bawang masing-masing tujuh titik.

Berikutnya Lampung Selatan empat titik, Tulang Bawang Barat tiga titik, serta Lampung Tengah dua titik. Sementara itu, Lampung Timur tidak tercatat memiliki hotspot dalam pemantauan tersebut.

Seluruh 49 titik panas yang terdeteksi memiliki tingkat kepercayaan (confidence) kategori sedang (medium). Tidak terdapat titik dengan tingkat kepercayaan rendah maupun tinggi.

1. Sudah lima kali penerbangan

Kegiatan pemantauan operasi modifikasi cuaca di Bandara Radin Inten II. (Dok. BMKG Lampung).

Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, mengatakan OMC di Lampung direncanakan berlangsung selama lima hari, yakni 26-30 Agustus 2026. Operasi tersebut menyasar kawasan yang terdapat titik panas, terutama di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.

Menurutnya hingga Sabtu (29/8/2026), pelaksanaan OMC telah dilakukan sebanyak lima kali penerbangan. Dalam salah satu penerbangan, pesawat membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa garam.

"Dari hasil pemantauan menunjukkan jumlah hotspot di wilayah Lampung Timur mulai berkurang. Selain berdasarkan pantauan citra satelit, hujan juga terpantau turun di sejumlah wilayah yang menjadi area penyemaian awan," kata Rudi dikonfirmasi IDN Times.

2. Ada pengurangan titik hotspot

Peta sebaran hotspot di wilayah Lampung, Sabtu (29/8/2026). (Dok. BMKG).

Rudi menegaskan, OMC dan water bombing merupakan dua metode berbeda yang berjalan beriringan dalam penanganan karhutla. OMC dilakukan dengan memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Sementara terkait kegiatan water bombing menggunakan helikopter dilakukan untuk menyiram secara langsung lokasi yang mengalami kebakaran hutan maupun lahan.

"Untuk titik hotspot dari citra satelit sudah mulai berkurang. Inipun sekarang masih proses. Kalau water bombing-nya per hari ini masih jalan, saat ada proses pemadaman dan juga pendinginan," ucap dia.

3. Penerbangan OMC tunggu pertumbuhan awan

BPBD Provinsi Lampung mulai mengoperasikan modifikasi cuaca. (Dok. BPBD Lampung).

Meski OMC masih berlangsung hingga 30 Agustus, Rudi menambahkan, pesawat tidak setiap saat dapat diterbangkan, sebab, proses penyemaian harus menunggu adanya pertumbuhan awan memenuhi kondisi untuk disemai.

"Pertumbuhan awan di sekitar Provinsi Lampung ataupun di laut sekitaran Lampung Timur sangat minim sekali, sehingga sampai sore hari ini pesawat belum terbang," ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pelaksanaan OMC harus menyesuaikan dengan keberadaan awan. "Ya, jadi harus menunggu ada awan yang tumbuh," imbuh Rudi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article