Comscore Tracker

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan Menginspirasi

Kondisi fisik mereka alami tak membuat gentar dan menyerah

Bandar Lampung, IDN Times - Saat dihadapkan dengan kondisi buruk, manusia sering sekali merasa ingin menyerah dengan keadaan. Tapi tidak demikian dengan kisah para disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia.

Fotografer disabilitas asal Kabupaten Banyuwangi, Achmad Dzulkarnain, mengatakan, keterbatasan, sejatinya tercipta dari pemikiran diri sendiri. Untuk melawan keterbatasan itu, harus mengubah pikiran itu sendiri.

“Saya hanya ingin menyampaikan kepada dunia bahwa diskriminasi tidak berawal dari orang lain. Diskriminasi tercipta oleh pikiran kita sendiri," ujarnya.

Noryasin, guru tuna netra asal Balikpapan, Kalimantan Timur mengatakan, tuna netra tak membutuhkan belas kasihan, namun bagaimana dikenal akan kemampuan dirinya sendiri. "Kita tak butuh kasihan tapi bagaimana kita tahu diri kita sendiri. Bagaimana beradaptasi dengan lingkungan," ujarnya.

Kondisi fisik mereka alami tak membuat gentar, menyerah, dan larut dalam rasa rendah diri. Para disabilitas ini justru menjadi “terang” dan menginspirasi banyak orang.

Liputan kolaborasi hyperlocal kali ini, IDN Times secara khusus mengangkat kisah inspiratif kaum disabilitas dari berbagai kota di Tanah Air. Berikut cerita inspirasi mereka.

1. Alami kecelakaan kerja, kini jadi breakdancer satu kaki

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiArif Setyo Budi saat beraksi diatas panggung dengan komunitas breakdance. Dok/Arif Setyo Budi

Arif Setyo Budi (33) asyik menatap layar laptop.  Sesekali ia membuka platform media sosial YouTube, kemudian memilih-milih lagu untuk diputar. Setelah itu, Arief juga masih melayani pembeli datang ke warungnya di kawasan Jl Bunga Sri Gading, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.

Meskipun agak kesulitan lantaran harus menggunakan kruk untuk berjalan, Arif tampak tetap bersemangat dan tak terlihat sedikitpun raut wajah putus asa terkait hal itu. Sejak 14 tahun lalu, Arif harus menghadapi kenyataan kehilangan kaki kanannya. Tetapi hal itu tak membuatnya patah semangat dan justru bisa bangkit hingga menjadi seorang breakdancer.

Arif menceritakan, ia tidak difabel dari lahir. Ia kehilangan satu kakinya lantaran kecelakaan kerja sekitar tahun 2007. Saat itu, usai lulus SMK Nasional Malang, Arif memang langsung diterima kerja di salah satu pabrik pengolahan plastik kawasan Krian, Sidoarjo.

Arif bekerja pada bagian proses memasak bahan mentah plastik. Pada saat itu, ada satu mesin produksi yang sedang dalam perbaikan. Saat perbaikan, ada lubang pada sisi mesin yang sebenarnya merupakan sambungan pipa. Oleh mekanik, lubang itu ditutup karung plastik sehingga tak terlihat.

"Pada saat itu, kebetulan saya lewat atas mesin. Awalnya tahu kalau ada lubang yang ditutupi karung plastik. Tetapi waktu kembali, tidak menyadari kalau di situ ada lubang. Kemudan kaki kanan menginjak lubang dan langsung masuk dan kondisi mesin sedang beroperasi. Waktu itu juga langsung kepotong seukuran paha," Jumat (26/3/2021).

Untung, pada saat bersamaan ada rekan kerja Arif yang melintas. Ia langsung berusaha meminta bantuan sebelum dibawa ke rumah sakit di Surabaya untuk tindakan amputasi. "Setelah itu pulang ke Malang dan menjalani rawat jalan. Untuk pemulihan total itu memerlukan waktu sekitar 6 bulan hingga 1 tahun," tambahnya.

Sayangnya, usai menjalani pemulihan, Arif tidak dipekerjakan kembali. Ia kemudian mendapat pesangon dari pabrik tersebut sebagai bagian dari perjanjian pemberhentian kerja.

Setelah mengalami situasi yang cukup sulit selama pemulihan, Arif perlahan mencoba untuk bangkit. Uang pesangon yang diberikan oleh perusahaan ia coba gunakan untuk memulai usaha warnet di tempat tinggalnya, daerah Ngaglik, Sukun, Kota Malang.

Ia membeli dua unit komputer untuk memulai usaha warnet tersebut. Seiring berjalannya waktu, Arif kemudian diajak oleh temannya untuk datang ke tempat latihan breakdance. Memang, sebelum mengalami musibah, Arif sempat menekuni breakdance.

Setelah itu, dirinya semakin bersemangat berlatih breakdance bersama sejumlah temannya. Bahkan, dirinya sempat mengikuti beberapa kompetisi. Puncaknya adalah saat mengikuti ajang pencarian bakat tahun 2012 yang diadakan salah satu stasiun televisi.

Meskipun hanya sampai babak 48 besar, tetapi hal itu membuat Arif semakin dikenal. Bahkan, dirinya semakin sering diundang ke berbagai acara hingga ke berbagai daerah seperti Bali dan Yogyakarta.

"Saya merasa justru mendapat banyak hal ketika mengikuti komunitas breakdance ini. Saya bisa tahu mana-mana yang mungkin tidak saya dapatkan sebelumnya," katanya.

Arif juga berpesan kepada siapapun yang bernasib seperti dirinya untuk tetap semangat. Pasalnya, dalam setiap musibah yang datang pasti ada hikmahnya. Untuk itu, tak perlu berkecil hati dan harus tetap semangat menjalani hidup. Bahkan, sebisa mungkin harus tetap produktif dengan berbagai karya yang bisa dihasilkan.

"Saya sendiri sudah mengalaminya. Bahkan, hal-hal yang sebelumnya hanya mimpi akhirnya bisa terwujud," katanya.

2. Beauty vlogger rias wajah pakai lutut, pernah diundang Deddy Corbuzier acara Hitam Putih

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiArih Lystia Akbar beuty vlogger Lampung yang menggunakan lutut (Instagram.com/Arihlystia)

Arih Lystia Akbar namanya. Ia adalah millennials asal Bandar Lampung lahir normal. Tapi Ia harus menerima kenyataan menyadang disabilitas di usia 20 tahun.  Itu lantaran syaraf tangannya putus dan lengan kirinya hancur, akibat tabrak lari truk di Jalan Soekarno Hatta, Bandar Lampung 9 Oktober 2014 silam.

Tak hanya kehilangan fungsi tangan, kaki kanannya patah dan dipasang pen sampai saat ini. Begitu pun tangan kiri dipasang pen seumur hidup.

Usai kejadian nahas itu, Arih hanya bisa berbaring di tempat tidur sekitar satu tahun tiga bulan. Dalam aktivitas sehari-hari dan perawatan ke rumah sakit untuk operasi, dia dibantu oleh ibu dan kedua adiknya.

“Setahun kemudian aku baru belajar duduk. Terus setelah dua tahun dokter bilang kalau kondisi aku buat bisa normal lagi itu kemungkinannya kecil banget. Jadi selama aku tiduran aja segala sesuatunya di urus sama orangtua,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini.

Menurut Arih, dokter sudah memvonis, kecil kemungkinan tangannya bisa kembali normal. Sedangkan untuk kaki saat ini dia sudah bisa berjalan meski harus bergantung dengan pen yang menyangga kakinya.

Tantangan lain Arih alami setelah menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kondisinya adalah, dia di Drop Out (DO) dari kampusnya. Pada saat kecelakaan Arih merupakan mahasiswi di jurusan Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Lampung.

“Karena kondisi aku gak memungkinkan gitu buat kuliah dan aku waktu itu harus bolak balik operasi  bukan karena gak mau kuliah. Jadi pas temen-temen aku di wisuda setahun kemudian aku di DO,” paparnya.

Namun keterbatasan tersebut tak dijadikannya alasan untuk berdiam diri. Dia berupaya mencari cara menemukan titik nyamannya dalam berkarya. Hingga saat ini dia sudah menjadi beauty vlogger membagikan konten make up menggunakan kaki atau lututnya.

Dia terinspirasi dari make up artis yang menyulap wajahnya menjadi berbeda saat dia diundang di acara ulang tahun Hitam Putih Trans7 waktu itu. Dia mulai belajar make up sendiri dan menemukan titik nyaman karena harus menggunakan lutut kakinya untuk memasang peralatan make up.

“Aku nanya-nanya juga ke temen-temenku yang bisa make up. Selama satu tahun lebih aku cari cara buat ngepasin brush yang aku ikat di lutut menggunakan karet ini biar bisa pas waktu aku polesin ke wajah aku,”jelasnya.

Kerja kerasnya tak menghianati hasil meski terkadang Arih harus dibantu adiknya untuk memasangkan peralatan dilutut. Namun hasil polesannya tersebut adalah karya dia seutuhnya.

Arih mulai percaya diri memamerkan hasil polesannya ke channel YouTube-nya (Arih Lystia). Meski di awal-awal dia tak begitu dikenal, namun berkat ketelatenannya beberapa bulan kemudian subscribernya mencapai 1.000 dan saat ini dia sudah memiliki 30 ribu lebih subscriber.

Konten yang dia buat meski menggunakan cara yang berbeda seperti kebanyakan orang namun hasilnya sama saja seperti yang dibuat menggunakan tangan. Arih melukis wajahnya dengan berbagai karakter yang menarik itu menggunakan lutut ditali karet.

Warga Rajabasa Jaya, Bandar Lampung ini sudah menikmati hasil jerih payahnya tersebut. Bahkan dia juga sudah terkenal di channel YouYube dan Tiktok. Tak hanya itu dia bahkan pernah diundang Aurel Hermansyah untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam merias wajah menggunakan lutut.

3. Dulu petugas warnet, kini fotografer profesional didapuk potret bupati dan wakil bupati Banyuwangi

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiAchmad Dzulkarnain saat pemotretan Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani dan Wabup Sugirah. IDN Times/Istimewa

Momentum pelantikan bupati dan wakil bupati Banyuwangi oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa 26 Februari 2021 ada cerita menarik. Seorang fotografer disabilitas asal Kabupaten Banyuwangi, Achmad Dzulkarnain turut hadir.

Dzul panggilan akrabnya diminta oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati Sugirah untuk memotret pertama kali, saat keduanya mengenakan Pakaian Dinas Untuk Upacara Besar (PDUB).

Saat dihubungi IDN Times, Dzul mengatakan, senang karena secara pribadi diminta untuk menjadi fotografer di acara resmi. Dulunya, ia merupakan petugas penjaga warung internet (warnet) dan petugas foto untuk KTP, kemudian bekerja di kantor advokat hingga menjadi fotografer profesional.

"Saya belajar fotografi secara otodidak. Beli kameranya dengan cara mengangsur. Uang gaji saya sisihkan untuk melunasi kamera," ujar pria yang baru menikah ini.

Berangkat dari fotografer KTP, Dzul menunjukkan perkembangan kualitasnya. Lambat laun karyanya pun mulai diakui. Bahkan, dia diundang ke luar negeri karena karya fotografinya.

"Alhamdulillah, banyak orang yang menilai karya saya tak kalah dengan fotografer lainnya. Ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi halangan," ujarnya.

Baca Juga: Dzul, Fotografer Disabilitas di Pelantikan Bupati Banyuwangi

4. Eks pemain muda Persib Bandung jadi pelatih tim sepak bola penyandang disabilitas

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiPotret pemain sepakbola di Indonesia Amputee Football (INAF) atau Sepak bola Amputasi Indonesia.

Penyandang disabilitas di Tanah Air masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia. Kondisi itu melecut Aditya untuk mendobraknya.

Sebagai penyandang tuna daksa, karena kaki kanannya harus diamputasi, Adit, sapaan akrabnya, coba mengembangkan diri sebagai pemain sepakbola di Indonesia Amputee Football (INAF) atau Sepak bola Amputasi Indonesia.

Adit menuturkan, pelatihan sepakbola kepada penyandang disabilitas bukan tanpa alasan. Berkaca dari pengalamannya sempat terpuruk karena kondisi fisik, ia ingin berbagi ilmu yang dia miliki kepada sesama difabel.

"Sebenarnya ada kepedulian. Saya ga mau pemain stagnan. Mudah-mudahan ilmu yang saya punya bisa bermanfaat untuk teman-teman," ujar eks pemain muda Persib Bandung ini usai berlatih sepakbola di Bandung, Jumat (26/3/2021).

Agar pelatihan lebih memperlihatkan hasilnya, Adit membuat jadwal rutin spesiifik setiap harinya. Selama 28 hari pelatihan, dia diharuskan berlatih endurance atau daya tahan lari, penguatan kaki dan tangan menggunakan pemberat

Selain itu skill olah bola pun dilatih setiap harinya. Ilmu yang didapat Adit selama menjadi pemain muda Persib pun coba diterapkan.

"Saya merasa berdosa kalau punya ilmu terus tidak diberikan ke teman. Ya alhamdulillah dari pelatihan kemarin hasilnya sangat terlihat ada perkembangan," ungkap Adit.

Adit menuturkan, para penyandang disabilitas tidak ada salahnya untuk berolahraga seperti sepakbola. Saat ini di Indonesia sudah mulai bermunculan tim sepakbola yang memang diperuntukan untuk difabel.

Mulai dari Jakarta, Madura, dan Jawa Timur sudah mempunyai tim yang bagus. Adit pun berharap tim sepakbola disabilitas bisa ada di berbagai daerah.

Di beberapa negara lain seperti Turki, Inggris, hingga Malaysia sudah memiliki tim-tim yang memang khusus untuk orang yang diamputasi. Bahkan di Turki dan Inggris sudah ada liga tersendiri.

"Mudah-mudahan di Indonesia juga ada, sebagai wadah para amputan. Jadi ada klubnya lah. Kalau timnas kan sekarang ada, nah nanti klub juga harus aktif lah," ungkap Adit.

5. Ikuti panggilan hati menjadi guru

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiNoryasin dan Rendy Marsiano, guru SLB Negeri Balikpapan penyandang tuna netra (IDN Times/ Fatmawati)

Menjadi penyandang disabilitas bukan berarti menyerah dengan keadaan. Keinginan untuk tetap berkembang membuat dua sosok tuna netra ini terus melakukan yang terbaik demi bisa mencapai cita-cita mereka.

Sosok pertama adalah Rendy Marsiano. Ia kini berprofesi sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan dan juga mengajar di SLB Tunas Bangsa. Rendy adalah sosok religius yang cukup aktif di organisasi gereja. Ia bermain alat musik gitar di gerejanya. Tidak bisa melihat bukan berarti ia tak bisa menyalurkan kegemarannya bermain musik.

Laki-laki berusia 35 tahun ini mengalami total blind sejak usianya masih sangat belia. Penglihatan Rendy tak berfungsi sejak bayi. Dalam kesehariannya, ia sama sekali tak dapat melihat apa pun kecuali sedikit cahaya.

"Kalau kata orangtua, ini karena step. Panas tinggi, hingga berakibat ke penglihatan saya," ungkap Rendy

Rendy sempat mengenyam sekolah dasar (SD) semasa kecil. Namun, saat kelas VI, ia pindah ke sekolah dasar luar biasa (SDLB). Di SLB, ia mulai belajar tentang teknik penulisan braille dan mengenal lingkungan sekolah. Ia pun mulai memahami kondisi sekolah yang di dalamnya ternyata banyak siswa berprestasi.

"Tahun 90an. Awalnya saya sendiri tidak tahu apa tujuan hidup saya. Tapi seiring berjalan waktu, melihat kehidupan disabilitas. Akhirnya saya makin cinta dan peduli pada teman-teman sesama disabilitas," kenang Rendy.

Usai menyelesaikan pendidikan SD di Balikpapan, ia pun lanjut SMP di Kota Solo.  Setelah SMP, dia melanjutkan SMA di Jogyakarta hingga ke perguruan tinggi.  Selama berkuliah ini, Rendy pun terus menggeluti hobi bermusik. Pernah juga, ia mendapatkan penghargaan gitaris terbaik saat kuliah di Jogja. Ia adalah alumni Universitas Negeri Jogja jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Sosok kedua adalah Noryasin. Di SLB Negeri ia mengelola Braille Center. Ia juga mengajar komputer berbicara untuk anak-anak tuna netra. Guru yang dulunya pernah bersekolah SLB Negeri Balikpapan ini juga menyandang tuna netra. Bedanya, ia mengalami low vision atau masih memiliki sisa penglihatan namun hanya kira-kira 50 persen.

Ia bisa melihat orang beraktivitas, namun tetap tak bisa melihat layaknya orang dengan mata normal. Sehari-hari ia menggunakan ojek untuk berangkat bekerja. Dulunya di usia sebelum tujuh tahun dirinya masih bisa melihat. Namun kemudian perlahan penglihatannya berkurang.

Ia mulai tak bisa melihat juga pasca mengalami step dan demam tinggi. Saat SD dirinya mulai sulit melihat. Ia melihat tulisan di papan tulis layaknya garis putih. "Sebenarnya ada alat bantu low vision, seperti teropong untuk melihat jauh," katanya.

Dirinya kini juga aktif di Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Balikpapan. Ia cukup aktif menyuarakan hak penyandang disabilitas terutama tuna netra. "Saya juga menemani siswa saya tuna netra ikut jambore tahun 2017, alhamdulillah juara," terangnya.

Ia berharap, para penyandang tuna netra bisa lebih berkembang. Itulah mengapa dirinya juga aktif dalam edukasi para tuna netra. Menurutnya, tuna netra sebenarnya memiliki kecerdasan sama dengan yang bisa melihat.

Ia pun ingin membuktikan hal ini, terutama melalui pelajaran komputer yang diajarkannya. "Saya mau anak-anak tunanetra juga bisa presentasi sendiri menggunakan komputer. mandiri," katanya.

6. Hobi menulis membukukan empat antologi kisah inspirasi para penyandang disabilitas

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiPenyandang disabilitas sedang mengikuti pelatihan menulis di Roemah Difabel Semarang. IDN Times/Anggun Puspitoningrum.

Dari rumah sederhana di Jalan MT Haryono 266 Semarang itu ada ruang yang tetap hidup dan menghidupi bagi penghuni di dalamnya. Ruang itu bagaikan pelita bagi para penyandang disabilitas. Mereka berkumpul, berkegiatan, mengikuti pelatihan dan tetap belajar, meskipun penyebaran COVID-19 masih masif di luar sana.

Salah satu peserta didik yang masih rutin datang ke Roemah Difabel meski di masa pandemik adalah Anna Oktavia. Penyandang disabilitas cerebral palsy itu rutin mengikuti kelas pelatihan di sana. Ada dua kelas yang diikuti oleh perempuan kelahiran Yogyakarta itu, yakni kelas penulisan kreatif dan public speaking.

Anna tidak sendiri, ada beberapa peserta didik lain di kelas penulisan kreatif yang turut menyimak dan mengetik di depan laptop. Mereka juga penyandang disabilitas dengan keterbatasan tidak bisa melihat atau tuna netra.

Sudah enam tahun terakhir ia bergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel dan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan Roemah Difabel Semarang. Keterlibatannya dalam setiap kegiatan yang digelar di tempat tersebut, karena ia membutuhkan ruang untuk beraktivitas dan mengembangkan minatnya.

‘’Saya menderita kelumpuhan sejak usia 2 tahun. Berawal dari demam tinggi, beberapa hari kemudian saya mengalami kelumpuhan. Lalu saya baru tahu kalau penyakit yang saya derita ini adalah cerebral palsy ketika mau masuk sekolah di YPAC pada usia 5 tahun. Ada kelainan syaraf otak yang membuat tubuh sulit bergerak atau menjadi lumpuh,’’ jelasnya.

Menurut Anna, aktivitas menulis ini sangat cocok dengan kondisinya, sekaligus meningkatkan kemandirian. Sebab, menulis tidak butuh banyak bantuan orang lain. Berbeda dengan aktivitas lain seperti menjahit atau menyulam yang juga ada di Roemah Difabel, karena untuk memasukkan benang ke jarum ia pasti membutuhkan bantuan orang lain.

‘’Maka meskipun pandemik saya tetap ndableg datang ke tempat ini untuk belajar. Untuk datang kesini pun kadang saya naik taksi online sendiri, jika dari Roemah Difabel tidak ada yang menjemput,’’ imbuhnya.

Dari ketekunan itu Anna sudah membukukan empat antologi kisah inspirasi dari para penyandang disabilitas. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai admin media sosial dari sejumlah akun seperti Roemah Difabel, Komunitas Sahabat Difabel, dan RD Shop. Ia juga berkontribusi di laman RD News. Sedangkan di kelas public speaking, ia juga mencoba membuat podcast.

‘’Dengan menulis satu persatu mimpi saya terwujud. Sehingga, selama saya masih mampu saya ingin terus menulis dan memberikan manfaat kepada lingkungan, terutama yang senasib dengan saya,’’ katanya.

Tidak hanya Anna yang ingin terus belajar. Masih banyak penyandang disabilitas yang bernaung di Roemah Difabel. Mereka antara lain para penyandang disabilitas intelektual, down syndrome, autis, dan tuna netra. Ada sekitar 50 peserta didik yang belajar di Roemah Difabel. Setiap hari Senin sampai Sabtu mereka mendapatkan pelatihan keterampilan hidup disana. Seperti menjahit, menyulam, memasak, hingga membuat produk seperti telur asin.

‘’Meskipun ada pandemik mereka tetap datang ke sini untuk belajar dan tentunya tetap dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Dan semua itu karena kemauan mereka sendiri yang ingin tetap belajar. Anak-anak beralasan jenuh jika harus terus di rumah, apalagi bagi para penyandang disabilitas intelektual. Mereka akan lupa dengan ilmu yang diperoleh jika libur belajar,’’ kata salah satu relawan Roemah Difabel, Menik.

Selama mengenyam pendidikan dan pelatihan di Roemah Difabel para penyandang disabilitas ini tidak hanya semakin terampil, tapi juga semakin mandiri. Sehingga, meskipun memiliki kekurangan mereka tetap bisa bertahan hidup apabila tidak ada bantuan dari orang lain.

7. Melukis andalkan mulut

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiAhmad Prayoga (23) melukis pakai mulit. (IDN Times/Istimewa).

Keterbatasan fisik bukan menjadi kendala Ahmad Prayoga (23) warga Jalan Makmur, Gang Suka Rukun, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara untuk berkarya dan bermanfaat. Ditemui IDN Times di rumahnya, Yoga sapaan akrabnya bercerita terkait kemampuannya melukis hingga kesibukan terkini, berjualan secara online. Saat ini, ia juga aktif menjadi motivator di beberapa kegiatan kampus.

"Kondisi sekarang karena kecelakaan, karena kesetrum sekitar tahun 2016. Pada waktu itu masih sekolah sambil kerja, megang besi kena kabel tegangan tinggi, kejadiannya dari situ, terus diamputasi, saat itu berusia 17 tahun," kata Yoga, Jumat (26/3/2021).

Ia menambahkan, sejak kecelakaan yang menimpa dirinya itu, ia mencari kegiatan untuk menghilangkan kebosanan. Yoga mantap memilih melukis dan menekuninya. "Berawal dari masuk Yayasan Smiling Kids Foundation yang menaungi anak-anak terkena kanker. Masuk situ, belajar dan belajar," ujarnya.

"Bisa menyesuaikan untuk keluwesan menggunakan kuas pakai mulut, sekitar enam bulan latihannya. Banyak juga cat yang terbuang, kanvas yang terbuang, kertas yang terbuang pada proses latihannya" tambah Yoga.

Melatih kemampuan melukis, Yoga membuktikan ada proses dan perjuangan yang dilakukan. Tentu saja, baginya, pantang untuk menyerah. Hingga pada akhirnya, ia bisa menjual hasil lukisannya. "Kalau untuk harga lukisan tergantung ukuran dan permintaan. Kalau sesuai pesanan biasanya lebih banyak foto keluarga," ujarnya.

Yoga mengatakan, ia rutin diundang dalam kegiatan melukis dan acara-acara pameran foto sebelum adanya pandemik COVID-19. Terakhir, masih jelas diingatannya, ia hadir dalam kegiatan Anugerah PFI Medan 2020. Saat itu, ia berkesempatan melukis wajah Akhyar Nasution, mantan Wali Kota Medan.

"Dulu kan melukis, setelah COVID-19 ada, gak ada lagi kegiatan melukis lainnya. Dulu itu sering ikut acara pameran foto dan saya ikut melukis. Yang kegiatan terakhir, ikut acara pameran di Lapangan Merdeka, saat itu melukis Pak Akhyar," tuturnya seraya tersenyum.

Keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang untuk tetap berkarya. Bagi Yoga, tak masalah menggunakan mulut pada setiap kegiatan sehari-hari selagi ada keluarga yang memberi dukungan.

"Dulu kan bisa menyesuaikan pakai tangan, kalau sekarang kegiatan kan pakai mulut. Kendala lebih ke diri sendiri, moodnya harus diatur. Dulu kita bisa melakukan apa saja, sekarang terbatas. Tapi dengan support dari keluarga dan orangtua semua bisa dilakukan," kata Yoga.

Ia bercerita, selain tak bisa hadir dalam beberapa kegiatan karena pandemik, ia memilih fokus untuk berjualan secara online. Untuk saat ini, ia tidak fokus dalam melukis. Ya, kondisi terkini dimanfaatkannya untuk berjualan Sirup Bunga Telang dan Camilan Singkong Balado lewat media sosial.

"Kalau sekarang lebih ke produk, bisa dicek @toko_kitamedan. Dulu sebenarnya pas ngelukis sudah jalan bisnis makanan. Tapi sempat terhenti, sekarang jalan lagi. Kebetulan dalam suatu kegiatan ketemu Reza dan Iqbal, jadi kita jalan kan bisnis baru ini," tuturnya.

Semenjak berjualan produk secara online, Yoga mengaku, mendapat keuntungan yang stabil karena jangkauan yang lebih luas. Bahkan, produknya sudah sampai ke luar kota.

"Kenapa memilih telang? Kebetulan bunga telang ini banyak tumbuh di mana-mana, namun masih banyak yang belum tahu manfaatnya. Lumayan lebih luas jangkauannya. Pemesan ada yang dari Bengkulu, Lampung dan Sidempuan," katanya.

Baca Juga: Cerita Yoga, Penyandang Disabilitas yang Lihai Melukis dan Berbisnis 

8. Belajar otodidak dan ciptakan lukisan Wayang Kamasan secara digital

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiI Gusti Made Lanang sedang membuat lukisan kamasan secara digital saat ditemui di kediamannya di Desa Manduang, Klungkung. (IDNTimes/Wayan Antara))

Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Gusti Made Lanang Agung (26) untuk tetap kreatif berkarya. Meski dalam beraktivitas hanya dibantu dengan kursi roda, ia tetap semangat berkreasi dan menciptakan lukisan Wayang Kamasan secara digital.

Pemuda asal Desa Manduang itu mengaku belajar melukis Wayang Kamasan secara otodidak. Jerih payahnya pun tidak sia-sia. Karyanya pernah diikutkan dalam pameran, dan tak disangka habis terjual. Dengan semangatnya itu, Gusti Made Lanang juga ingin memotivasi orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik untuk tetap produktif menghasilkan karya.

Gusti Made Lanang merupakan putra kedua dari pasangan Gusti Ngurah Purwana (50) dan Dewa Ayu Adiani (49). Saat baru lahir, Gusti Made Lanang dalam kondisi normal seperti bayi pada umumnya dan bahkan sudah mampu merangkak.

Namun saat usianya menginjak 8 bulan, mulai ada kelainan dari caranya merangkak. Menyadari ada perbedaan itu, Dewa Ayu Ardiani dan suaminya langsung mengambil tindakan dan sampai saat ini sudah berkali-kali ke dokter untuk memeriksakan kondisi anaknya.

Namun, keadaan Gusti Made Lanang tidak juga membaik. Seiring bertambahnya usia, putranya tersebut justru menjadi lumpuh. Tidak mau berputus asa, kedua orang tuanya bahkan sampai mencoba pengobatan medis dan alternatif ke Manado.

"Kami tidak pernah menyerah sedikitpun untuk kesembuhan putra kami. Tapi saat ini, kami berusaha tegar saja dalam menjalani hidup," ungkap Dewa Ayu Adiani beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini kondisi fisik Gusti Made Lanang tidak kunjung membaik. Dalam beraktivitas, dia harus menggunakan kursi roda. Gusti Made Lanang sempat pula menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Hanya saja karena alasan tertentu, ia memutuskan untuk keluar.

"Dulu pernah anak saya sekolah di SLB. Namun keluar karena ada alasan tertentu. Lalu didaftarkan ke SD umum, dan tidak diizinkan oleh pihak sekolah. Lalu suami saya jengah dan membelikan buku-buku agar Gusti Made Lanang mau belajar di rumah, hingga mampu membaca seperti anak umumnya,” ungkap Dewa Ayu Adiani.

Meski menjalani hidup yang penuh dengan tantangan dan cobaan, Gusti Made Lanang tak pernah terpintas sedikitpun untuk menyerah. Apabila diperhatikan, selintas tangan mungil Gusti Made Lanang tampak kaku. Meskipun begitu, jempol dan telunjuknya begitu lihai memainkan touchpad laptop.

Ia mampu menggambar sketsa dan mewarnai lukisan Wayan Kamasan secara detail melalui medium digital. Lukisan Wayang Kamasan selama ini dikenal dengan polanya yang rumit. Dalam melukis secara digital itu, ia hanya memanfaatkan aplikasi paint yang biasanya menjadi aplikasi bawaan windows. Nantinya ketika sudah selesai, lukisan buatannya dicetak.

“Saya belajar sendiri melukis ini. Lihat-lihat saja dan mulai coba-coba lukis. Pertamanya pakai tangan, tapi tangan saya lama-kelamaan kaku dan tidak bisa pegang pensil. Lalu coba pakai laptop. Awalnya susah, tapi lama-lama jadi kebiasaan,” ujar Gusti Made Lanang sembari terus fokus menggambar dengan media laptop.

Gusti Made Lanang menerangkan, memerlukan waktu satu bulan untuk menyelesaikan satu lukisan. Beberapa lukisan tersebut dipajang di dinding rumahnya. Selama beberapa tahun terakhir, Gusti Made Lanang mengaku telah menyelesaikan puluhan lukisan.

Sang ayah, Gusti Ngurah Purwana mengungkapkan, lukisan putranya sempat diikutkan dalam sebuah pameran di Denpasar. Pameran itu diprakarsai oleh salah satu yayasan. Saat itu Gusti Lanang sangat bahagia mengetahui karyanya bisa diikutsertakan dalam pameran. Apalagi karyanya diapresiasi dan habis dibeli oleh para pegawai bank.

Gusti Purwana yang dulu bekerja sebagai seorang sopir pariwisata, sempat menceritakan keadaan putranya ke seorang wisatawan asal Swiss. Wisatawan itu sangat terkesan dengan kerja keras dan kreativitas Gusti Lanang yang semangat berkarya walau dalam keadaan keterbatasan fisik.

Wisatawan tersebut meminta lukisan karya dari Gusti Made Lanang dan dipromosikan dalam bentuk kartu pos. "Dipromosikan karya lukisan anak saya. Sampai akhirnya ada warga Spanyol memberikan bantuan kursi roda yang sesuai dengan keadaan anak saya," kisahnya.

9. Pemerintah dinilai kurang memerhatikan nasib difabel seni

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiBudi Tongkat (kiri) bersama teman-teman senimannya di Inggris. Dokumentasi JDA

Nama Butong, kepanjangan dari Budi Tongkat, disematkan teman-temannya ketika kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Itu lantaran, pemilik nama asli Sukri Budi Dharma ini harus menggunakan bantuan tongkat yang menjadi pengganti kaki kanannya. Meski tak rampung, jebolan mahasiswa IKJ Angkatan 1994 itu melanjutkan kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Gunadharma Jakarta.

Butong hijrah ke Yogyakarta. Dia tertarik membentuk komunitas difabel yang berminat di bidang seni. Namanya Difabel and Friends Community yang dibentuk pada 2009 dan sudah mengantongi nomor induk kesenian (NIK) Dinas Kebudayaan Bantul. Mereka berkreasi di bidang seni rupa, teater, juga musik.

Masa itu, hanya ada 10 orang difabel yang berminat di dunia seni. Kemudian pada 2010, komunitas difabel itu bertemu dengan seniman-seniman Sanggar Bambu di Yogyakarta. Mereka berdiskusi mengenai seni dan pengembangan jaringan.

Latihan seni pun digelar. Lokasi latihan pun berpindah-pindah. Dari kontrakan Butong ke kontrakan temannya. Sempat juga menumpang di Sekolah Luar Biasa (SLB) di sana. Atas kepedulian pemuka warga setempat di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, kendala lokasi latihan pun terselesaikan pada 2011.

Di Panggungharjo, komunitas difabel itu membaur dengan warga. Mereka menggelar kegiatan seni bersama yang diberi nama Pawiyatan sejak 2016. Ada Pawiyatan Seni Rupa, Pawiyatan Seni Musik, juga Pawiyatan Seni Teater. Mereka mengundang anak-anak desa setempat, baik yang difabel maupun non-difabel untuk berlatih seni bersama.

“Ada nilai positif yang didapatkan. Teman-teman disabilitas dan non-disabilitas belajar bersosialisasi dan memahami. Inklusif,” kata Butong.

Ada impian untuk mengembangkan keanggotaan hingga taraf nasional. Namun perlu lembaga yang berbadan hukum. Bersama Nano Warsono, Theresia, Jajang Kawentar membuat yayasan yang mereka beri nama Yayasan Jogja Disability Arts (JDA) pada 2020. Yayasan itu berorientasi pada seni. Komunitas Difabel and Friends Community menjadi cikal bakalnya.

“Karena belum banyak ruang yang diberikan kepada difabel pelaku seni. Apapun itu,” kata Butong yang menjadi pendiri sekaligus ketuanya.

Pada pandemi tahun lalu, JDA menggelar pameran seni rupa secara virtual. Pesertanya 10 seniman difabel dari berbagai daerah, meliputi Yogyakarta, Gunungkidul, Madiun, Bandung, Jakarta, Bengkulu, Aceh, dan Bali. Karya-karya seniman dalam pameran bertajuk Peace in Chaos itu diunggah di sejumlah media sosial sejak 11 Juni 2020.

“Mereka dari beragam disabilitas. Netra, daksa, rungu wicara,” kata Butong yang kini mempunyai sekitar 30 anggota.

Menurut Butong, pemerintah pun kurang memperhatikan nasib difabel seni ini. “Padahal banyak seniman difabel yang menjadi duta seni di luar negeri,” kata Butong.

Sikap pemerintah pun dinilai kurang memperhatikan nasib difabel seni ini. Berbeda dengan atlet yang terlihat prestasi yang dicapai. “Mestinya ada dukungan pemerintah,” kata Butong yang pernah ikut serta dalam program disability art learning di Inggris pada 2019.

Kini ada program fasilitas bidang kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program itu memprioritaskan pada perempuan dan difabel. Meski ada dukungan pemerintah, Butong berharap seniman difabel menjadi subjek, bukan objek.

Baca Juga: Disabilitas Balikpapan Masih Butuh Dukungan Perda dan Kesempatan Kerja

10. Jadi aktivis penyandang disabilitas korban kekerasan

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiNabila May Sweetha, Aktivis Difabel PerDIK/PerDIK Sulsel

Tahun 2017 lalu adalah saat yang paling membekas dalam ingatan Nabila May Sweetha. Pada usianya yang ke 14 tahun saat itu, dia mulai merasakan keanehan pada penglihatannya. Kemampuan kedua matanya untuk melihat pelan-pelan memudar hingga akhirnya mengalami kebutaan.

“Kebutaan saya disebabkan oleh virus bernama tourch plasma. Sebuah virus yang saya dapatkan, menurut dokter dari kelinci peliharaan saya,” kata Nabila mengawali perbincangan saat dihubungi IDN Times lewat pesan WhatsApp, Jumat (26/3/2021).

Nabila mengisahkan, kondisi yang dialaminya tidak menghentikan semangat untuk terus melanjutkan pendidikan. Dia lalu didaftarkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang menampung banyak siswa disabilitas berbagai kategori dan jenis. Mulai dari disabilitas netra, rungu, daksa, dan beragam kategori lainnya.

“Nah, saya di dalam sana bertemu banyak orang buta lainnya dan merasa bahwa buta adalah hal yang tidak menakutkan. Dari SLB saya tahu bahwa saya tidak sendirian, dan itu membuat masa-masa peralihan menjadi buta tidaklah begitu sulit,” ungkap Nabila.

Minat membaca yang dimiiliki Nabila termasuk tinggi. Dulu, dia bisa menghabiskan buku bacaan yang cukup tebal dalam waktu yang tidak lama. Beberapa tahun belakangan, kata dia, minatnya untuk mencurahkan pikiran dan isi hati lewat tulisan, juga semakin tumbuh.

“Saya dua tahun belakang mulai menggeluti dunia tulis menulis. Sekarang, saya adalah peserta ISM (Institut Sastra Makassar) sebuah institusi sastra yang didirikan sejumlah sastrawan Makassar. Salah duanya ialah, Aslan Abidin dan Aan Mansyur,” ucap Nabila.

Pada pertangahan tahun 2018 dia terlibat dalam kegiatan Social Justice Youth Camp (SJYC) yang diadakan oleh Indonesia Social Justice Network (ISJN) bekerja sama dengan Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Kegiatan bertema outdoor kala itu diselenggarakan di Kabupaten Bulukumba. Salah satu persyaratan untuk mengikuti camp itu adalah menyetorkan satu essai populer bertema isu sosial.

Sepulangnya dari Bulukumba, para peserta kembali diminta mengumpulkan tulisan lagi. Tema penulisannya tentang difabel. “Saya menulis, dan satu bulan kemudian saya dikabari bahwa saya, melalui tulisan saya terpilih mewakili SJYC Sulsel untuk mengikuti konferensi dan festival pemuda di Gorontalo,” lanjutnya.

Nabila tak bisa menggambarkan betapa bahagianya mendapatkan kabar tersebut. Di Gorontalo, tulisan yang dia setorkan tadi kemudian kembali diperlombakan dan dipresentasikan. Dari situ, Nabila tampil sebagai juara pertama dari enam perwakilan kabupaten se-Indonesia yang ikut berlomba.

“Tidak ada peserta difabel kecuali saya, dan saya rasa semua teman SJYC saya adalah pemuda-pemudi terpilih dari provinsinya masing-masing. Pulang dari Gorontalo saya mulai gabung di PerDIK, dan rutin menulis di web resmi PerDIK. Nah, dari sanalah saya mulai menulis sampai sekarang,” ungkap Nabila.

Sampai sekarang dia masih menganggap pengalaman mengikuti SJYC adalah momen paling berkesan dan cukup baik. “Kendati pun beberapa kali saya memenangi perlombaan menulis, saya lebih senang menjadi narasumber di sejumlah acara. Kerap kali saya diundang untuk berbicara tentang difabel muda, pergerakan difabel muda di Makassar, atau bagaimana keadaan perempuan,” jelasnya.

Nabila mengaku merasakan atmosfer yang berbeda apabila dipanggil menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan sosial. “Saya rasa tiap kali dipanggil untuk menjadi narasumber, saya berhasil bertemu orang banyak dan menyuarakan aspirasi orang muda disabilitas dan perempuan disabilitas."

Sampai saat ini, Nabila masih bergerak dalam ranah aktivisme serta aktif menulis tentang kerentatan perempuan khususnya penyandang disabilitas yang menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual. Hal itu biasa dia lakukan di forum atau seminar resmi, bahkan diskusi antar kelompok dan dipanggil menjadi narasumber atau fasilitator.

11. Saling bantu dan jaga, tuna netra Tangerang bertahan di pandemik

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiIDN Times/Galih Persiana

Pandemik COVID-19 yang berdampak terhadap semua sektor salah satunya perekonomian memaksa umat manusia berusaha bertahan dengan cara apapun, termasuk mempererat solidaritas sesama, saling bantu dan saling jaga.

Tak terkecuali warga yang memilki keterbatasan fisik yang berusaha bertahan dari segala keterbatasan yang ada di tengah pandemik global. Seperti yang diungkap oleh Persatuan Tuna Netra (Pertuni) Kota Tangerang.

Pandemik yang luar biasa menghancurkan ekonomi para penyandang disabilitas yang rata-rata berprofesi sebagai terapis pijat. Di sisi lain, pandemik juga justru menjadi momen untuk saling menguatkan dan saling berbagi sesama rekan tuna netra.

"Nah kita selaku pengurus berupaya semaksimal mungkin kita berikan support semangat kepada temen-temen anggota, maupun kita cari donasi dan saling bantu saling bagi sembako," kata pengurus Pertuni Kota Tangerang, Surya Kusuma kepada IDN Times, Selasa (23/3/2021).

Selama pandemik ini, menurut Surya, upaya pencegahan paparan COVID-19 sendiri hanya dilakukan melalui aplikasi WhatsApp yang ada di ponsel dengan aplikasi khusus tuna netra.

Dari pandemik ini, Pertuni selalu memberikan edukasi bagi anggotanya yang berjumlah 70-an orang. Edukasi itu sendiri merupakan imbauan dari pemerintah pusat maupun daerah soal penerapan protokol kesehatan.

"Kami tetap lakukan itu untuk teman-teman, yaitu selalu menjaga kesehatan dan juga tak melakukan pertemuan rutin sebulan sekali. Kita juga sering ada informasi dari Dinas Sosial melalui WA grup. Jadi kadang imbauan juga dari Wali Kota. Kita info dari Dinas Sosial," kara dia.

Surya memastikan bahwa puluhan anggota Pertuni sampai sejauh ini aman dari paparan COVID-19. Namun menurutnya, mereka sendiri terancam dengan datangnya kemiskinan akibat terbatasnya usaha ekonomi mereka. "Pijat kan gak mungkin jauhan yah," kata Surya.

Meski begitu, Surya merasa bersyukur atas bantuan dari pemerintah yang sudah diberikan berupa bansos sembako

12. Keluarga pondasi bangun optimistis anak disabilitas

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiIlustrasi keluarga. IDN Times/Mardya Shakti

Keterbatasan fisik bukan menjadi kendala untuk terus berkarya dan menjadi berkat bagi sesama. Ani Juwairiyah, penyandang disabilitas di Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) menjelaskan, sejak kecil, kedua orangtuanya, Sahlan Damanhuri dan Isdilah selalu memberikan kasih sayang yang luar biasa. Tak pernah dia mendapat diskriminasi. Pun demikian kakak-kakaknya.

Sikap ini pula yang membentuk karakter dan semangat Ani menghadapi dunia. Sikapnya selalu percaya diri serta optimistis dalam menjalani kehidupan. Keluarga besarnya yang selama ini terus membantunya melawan keterbatasan.

"Keluarga merupakan dasar pertama membangun semangat dan sikap optimis dari anak dengan disabilitas. Saya tak pernah minder dengan kondisi saya,” tegasnya.

Sebelum duduk di kursi Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim selama dua periode, terhitung sejak 2011 hingga sekarang, rupanya dia sempat mengecap dunia politik. Persisnya DPRD Kaltim periode 2004-2009 lewat Partai Amanat Nasional (PAN) daerah pemilihan Balikpapan. Sayangnya karier Ani sebagai legislator hanya satu periode. Saat hendak melanjutkan ke periode berikutnya, pemilih belum berkenan.

Kendati begitu dirinya tetap bersyukur. “Saat saya menjadi anggota dewan inilah saya bertemu banyak komunitas, termasuk temen-temen disabilitas dan organisasinya,” kisahnya.

Sekarang jumlah anggota PPDI Kaltim sudah 5.800 orang, tersebar di 10 kabupaten/kota. Terbanyak ada di Samarinda dan Balikpapan. Kata Ani, dibandingkan provinsi lain, Kaltim paling ramah dengan disabilitas. Itu tertuang dalam visi dan misinya. Terletak di bagian pertama dari lima misi yang ada, yakni Berdaulat dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia dan Berdaya Saing, Terutama Perempuan, Pemuda dan Penyandang Disabilitas.

Hingga kini belum ada daerah lain yang punya misi senada. Selama menjabat sebagai ketua PPDI Kaltim, dia dan kawan-kawannya turut aktif mendorong perumusan Perda Kaltim Nomor 1 Tahun 2018 Tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas. Selanjutnya pada 2019 lalu, mereka juga sudah mengusulkan rancangan peraturan gubernur (pergub) tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi rekan-rekan disabilitas di Benua Etam.

Terakhir, pada awal Maret pihaknya juga membuat usulan terkait Rencana Aksi Daerah (RAD) Penyandang Disabilitas di Kaltim. Namun karena terkendala pandemik COVID-19 kegiatan ini belum bisa terwujud.

“Harapan terakhir itu, kami hendak Kaltim dan Indonesia secara umum bisa ikut dalam The Global Disability Summit (GDS) di Inggris 2022. Wacana tersebut sudah tertuang dalam pertemuan di Bali pada Januari lalu. Semoga bisa terwujud,” jelas Ani.

13. Suarakan fasilitas umum masih kurang ramah bagi disabilitas

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiKondisi Trotoar Pasca Banjir di daerah Kemang, Jakarta Selatan (IDN Times/Aryodamar)

Penyandang disabilitas di berbagai daerah juga menyuarakan fasilitas umum yang kurang ramah.

Arih Lystia Akbar, disabilitas asal Bandar Lampung, menjelaskan, beberapa tempat ibadah menurutnya masih banyak yang menggunakan tangga. 

Kalau pun ada yang tak bertangga, kursi roda kerap dilarang masuk sebab banyak kotoran yang menempel di roda tersebut. Namun tak disediakan fasilitas penunjang lain yang memudahkan disabilitas untuk masuk ke rumah ibadah.

“Belum lagi trotoarnya masih pakai keramik lantai jadi kalau hujan licin dan trotoarnya tinggi. Pendidikan dan pekerjaan juga masih kurang ramah dengan penyandang disabilitas. Jauh banget sama yang ada di Jakarta,” tuturnya.

Setali tiga uang, Noryasin mengatakan, Kota Balikpapan fasilitas penunjang untuk orang-orang berkebutuhan khusus masih dianggap sangat kurang. Baik untuk pelayanan publik maupun aksesibilitas. Belum banyak kantor pelayanan masyarakat yang menyediakan pintu khusus untuk pengguna kursi roda. Juga trotoar dengan guiding block yang masih sangat terbatas.

Menurutnya, fasilitas yang dibutuhkan sama, namun secara desain, misalnya transportasi, ada pintu yang bisa digunakan untuk pengguna kursi roda. Selain itu guiding block seperti yang di trotoar, yang fungsinya sebagai penuntun tunanetra, harusnya dibuat sebagaimana mestinya.

"Menurut saya kelemahan kita di Balikpapan, dalam penentuan kebijakan tidak terbiasa melibatkan teman-teman disabilitas. Padahal partisipasi teman-teman disabilitas sangat perlu, untuk mengetahui bagaimana sih kebutuhannya. Itu disimulasikan," urainya.

Noryasin berharap, Pemerintah Kota Balikpapan harus lebih banyak mengajak berbicara para penyandang disabilitas terkait pembangunan kota. Misalnya, pembangunan fasilitas umum, penting untuk mengajak para penyandang disabilitas.

-Ia pernah merasakan pentingnya guiding block sebagai penuntun saat berjalan di trotoar. Karena selama ini masih ditemukan sejumlah guiding block yang bukannya mengarahkan ke lampu merah, namun berhenti di depan tiang listrik.

Lebih lanjut disampaikannya, apabila merujuk undang undang disabilitas, ada 20 poin besar termasuk aksesibilitas, pelayanan publik, dan pendidikan. Selain itu, lanjutnya, ada lima lembaga yang diperintahkan untuk membentuk unit pelayanan disabilitas, antara lain dinas pendidikan, dinas sosial, dinas ketenagakerjaan, dan dinas kesehatan.

Nabila May Sweetha juga menyuarakan pendapatnya. “Harapan saya yang pertama tentunya seperti banyak orang, saya mendorong pengesahan RUU PKS. Selain itu, banyak orang muda difabel yang tidak bisa bersekolah dan kuliah bukan karena tidak ingin, tapi karena keluarga tidak ingin membiayainya dalam menempuh pendidikan,” ucap Nabila.

Di sebagian daerah, lanjut Nabila, ada beasiswa khusus penyandang disabilitas. Tapi lebih banyak daerah yang tidak menawarkan beasiswa khusus itu. Dia meminta agar pemerintah lebih jeli dan fokus lagi dalam memberikan beasiswa kepada orang muda dengan disabilitas.

“Pendidikan dan difabel bukan masalah miskin atau tidak, ini jauh berbeda. Masalahnya kebanyakan orangtua difabel meski kaya sekalipun, memilih untuk tidak membiayai pendidikan anaknya karena menganggap difabel tidak bisa apa-apa dan percuma disekolahkan tinggi-tinggi,” tegasnya.

14. Ingin diberi kesempatan bekerja oleh perusahaan tanpa diskriminasi

Suara Hati Difabel Indonesia, Lawan Keterbatasan dan MenginspirasiIlustrasi Ruang Kantor (IDN Times/Besse Fadhilah)

Harapan lainnya disampaikan Rendy Marsiano. Ia berharap lebih banyak orang yang memberi kesempatan bagi disabilitas, termasuk dalam pekerjaan. Berharap tak ada diskriminasi dan membuka kesempatan bagi disabilitas untuk berkembang.

"Misalnya untuk suatu pekerjaan tertentu. Misalnya ada yang bilang janganlah kamu kerjakan kamu pasti gak bisa, mendengarnya saja kami sudah tidak enak. Kami berharap mereka bilang, ayo dicoba pasti bisa. Gitu kan enak," kata Rendy.

Ia pun menceritakan pengalamannya melamar kerja di salah satu BUMN. Pada awalnya saat seleksi lamaran kerjanya diterima. Namun kemudian saat ditelepon dan akan diwawancarai, Ia menjelaskan tentang kekurangannya sebagai tuna netra.

Saat itu ia melamar sebagai operator telepon. Sayangnya usai mengakui dirinya tuna netra, BUMN tersebut menolaknya. "Mereka bilang maaf pak kami belum bisa menyediakan fasilitas untuk tuna netra," ujarnya.

Perkembangan teknologi sangat membantu. Belakangan ia menggunakan aplikasi bawaan ponsel untuk membaca layar. Sehingga tulisan yang ada di layar dapat ia ketahui meskipun ia tidak dapat melihat langsung.

Meskipun sudah cukup banyak teknologi yang membantu tuna netra, diakuinya sejumlah aplikasi masih perlu menyediakan fitur yang ramah mereka yang tak bisa melihat. Seperti aplikasi ojek online dan e-commerce yang cukup bisa diakses tuna netra, dirinya berharap ke depannya lebih banyak aplikasi semacam ini.

"Karena kadang aplikasi penyedia layanan online kurang ramah buat tuna netra. Harapannya pengembang bisa lebih mengembangkan aplikasi semacam pembaca layar ini. Kalau perlu tiap aplikasi memiliki bawaan pembaca layar," harapnya.

Pendapat lainnya disampaikan Noryasin. Diakuinya cara pandang orang-orang banyak berbeda. Namun ia berharap kesempatan bagi penyandang tunanetra juga dibuka lebar. Termasuk menyangkut kesempatan kerja, sebenarnya seluruh perusahaan harusnya memberikan peluang tenaga kerja disabilitas.

"Berilah kami kesempatan. Apalagi terkait lapangan pekerjaan. Swasta terutama. Saya melihat peluang masih kecil sekali," katanya.

Saat ini ia berharap semua aspek kebijakan pemerintah juga bisa berpihak kepada disabilitas. "Apalagi Balikpapan ini adalah kota layak huni. Sebenarnya mungkin yang dibutuhkan sekarang perda yang mengatur tentang disabilitas ini," katanya.

Hal serupa disampaikan Arih Lystia Akbar, meski tak banyak tempat kerja yang menerima disabilitas hal itu tak boleh menjadi penghalang. Terutama terkait menuntut ilmu, disabilitas juga harus tetap mendapat pendidikan dan melakukan sesuatu untuk bisa menghasilkan karya.

“Kadang ada kan yang ngerasa buat apa gitu sekolah kerjaan buat disabilitas juga dikit banget. Kalau aku mikirnya, misal  rezeki kita gak di pendidikan siapa tau dengan ilmu kita bisa bikin apa gitu nggak perlu kerja tapi bisa bisnis sendiri. Dan bisnis itu lebih bagus kalau ditunjang dengan ilmu,” ujarnya.

Di Kota Medan, penyandang disabilitas yang optimistis dan tetap berkarya di tengah keterbatasan memang tak banyak. Ahmad Prayoga pun mengakui hal tersebut. Untuk itu, ia berharap pada pemerintah, agar lebih aktif memperdayakan kemampuan yang dimiliki penyandang disabilitas.

"Kalau dilihat yang seperti saya ini kan banyak di Kota Medan. Karya orang seperti saya ini, banyak sebenarnya yang bisa dilakukan, gak mesti melukis, buat produk juga bisa. Harapannya bisa diberdayakan, karena kami seperti ini, hanya anggota tubuh yang tidak lengkap tapi otak masih bisa jalan," ucapnya.

"Kayak yang di lampu merah banyak kita lihat masih minta-minta. Kenapa tidak diberdayakan oleh pemerintah untuk buat produk. Kan hasilnya bisa untuk mereka juga," tambahnya.

Yoga juga berpesan, selagi masih sehat dan diberi akal dari Tuhan harus disyukuri. "Kita punya sehat dan bisa jalan ke sana dan kemari, kita harus punya syukur dan bisa jadi modal. Melihat sekarang, banyak orang yang punya anggota tubuh lengkap tapi salah pilih jalan, ke narkoba dan lain-lain. Selagi punya sehat kenapa gak digunakan untuk kebaikan," kata Yoga.

Baca Juga: Kisah Nabila, Disabilitas Netra di Makassar Menulis Sejumlah Novel

Tim penulis: Faiz Nashrillah, Debbie Sutrisno, Fatmawati, Pito Agustin Rudiana, Silviana, Yuda Almerio, Anggun Puspitoningrum, Masdalena Napitupulu, Wayan Antara, Sahrul Ramadan, Muhammad Iqbal 

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya