Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kasus Campak di Lampung Naik, Epidemiologi: Dipicu Penurunan Imunisasi

Kasus Campak di Lampung Naik, Epidemiologi: Dipicu Penurunan Imunisasi
‎ilustrasi campak mereset imunitas (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Kasus campak di Lampung meningkat hingga 591 suspek dan 52 positif, dengan sebaran tertinggi di Lampung Selatan, akibat turunnya cakupan imunisasi dalam dua tahun terakhir.
  • Penurunan imunisasi dipicu gangguan layanan kesehatan selama pandemi Covid-19, membuat banyak anak belum terlindungi meski vaksin campak tersedia gratis dari pemerintah.
  • Epidemiolog menekankan perlunya evaluasi sistem imunisasi berbasis digital untuk memastikan pendataan dan pengingat vaksin berjalan efektif agar cakupan kembali optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Cabang Lampung menilai peningkatan kasus campak di sejumlah daerah Provinsi Lampung dinilai tidak terjadi secara tiba-tiba. Lonjakan disebut berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang diterima IDN Times, hingga 3 April 2026 tercatat sebanyak 591 kasus suspek campak di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, 52 kasus telah terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium.

Kasus ini tersebar di delapan kabupaten/kota, dengan Lampung Selatan menjadi wilayah tertinggi sebanyak 15 kasus, disusul Lampung Utara 10 kasus, Kota Metro 9 kasus, Pringsewu 8 kasus, dan Tanggamus 7 kasus. Sementara Lampung Timur, Tulang Bawang Barat, dan Mesuji masing-masing mencatat satu kasus.

1. Kenaikan kasus dampak dari kondisi sebelumnya

ilustrasi imunisasi campak (freepik.com/freepik)
ilustrasi imunisasi campak (freepik.com/freepik)

Terkait penyeberangan kasus campak tersebut, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Lampung, Ismen Mukhtar mengatakan, setiap kejadian penyakit memiliki hubungan sebab-akibat bisa ditelusuri. Menurutnya, kenaikan kasus campak saat ini merupakan dampak dari kondisi sebelumnya.

“Penyakit itu tidak terjadi kebetulan, tapi tunduk pada hukum sebab akibat. Kalau sekarang kasus campak meningkat, berarti ada penyebab sebelumnya,”ujarnya dikonfirmasi, Senin (13/4/2026).

Menurutnya, salah satu faktor utama memicu lonjakan adalah penurunan cakupan imunisasi campak. Dalam dua tahun terakhir, cakupan imunisasi di Lampung tercatat menurun dari 100 persen pada 2024 menjadi 80,47 persen pada 2026. Angka ini jauh di bawah ambang batas ideal untuk membentuk kekebalan kelompok di atas 95 persen. Jika cakupan imunisasi rendah, maka penyebaran virus akan lebih mudah terjadi di masyarakat.

“Kalau cakupan imunisasi di bawah 95 persen, maka tidak cukup untuk melindungi masyarakat. Ketika virus masuk, penyebarannya jadi cepat,” sambungnya.

2. Pandemik Covid-19 turut jadi pemicu

ilustrasi covid (freepik.com/freepik
ilustrasi covid (freepik.com/freepik

Ismen menyebutkan, penurunan cakupan imunisasi terjadi sejak masa pandemik Covid-19, sebab, layanan kesehatan terganggu dan program imunisasi tidak berjalan optimal.

“Sejak Covid-19, cakupan imunisasi semua antigen menurun, termasuk campak. Jadi saat virus beredar, langsung cepat menyebar karena banyak yang belum terlindungi,” katanya.

Lebih lanjut ia menegaskan, campak merupakan penyakit yang tidak memiliki pengobatan khusus, namun bisa dicegah secara efektif melalui vaksinasi yang telah tersedia gratis dalam program pemerintah. "Kelompok paling rentan tertular adalah anak-anak belum mendapatkan imunisasi. Sementara orang dewasa umumnya telah memiliki antibodi, baik dari vaksinasi maupun riwayat infeksi sebelumnya," sambung dia.

3. Tekankan evaluasi sistem layanan imunisasi

ilustrasi campak (npr.org)
ilustrasi campak (npr.org)

Ismen juga menjelaskan, bayi sejatinya memiliki antibodi bawaan dari ibu diperoleh sejak dalam kandungan dan melalui ASI. Namun, perlindungan tersebut akan menurun seiring bertambahnya usia, terutama saat memasuki usia 6 hingga 9 bulan.

Meski demikian, kasus campak pada bayi di bawah usia tersebut tetap bisa terjadi, meski jumlahnya relatif kecil. Kondisi ini biasanya dipengaruhi faktor seperti gizi buruk atau kurangnya asupan ASI. Maka dari itu, ia menekankan pentingnya evaluasi sistem layanan imunisasi, termasuk penguatan pendataan dan pemantauan anak yang belum mendapatkan vaksin.

“Sekarang sudah era digital, seharusnya ada sistem pengingat dan pendataan aktif supaya anak-anak tidak terlewat imunisasi,” ucapnya.

Selain itu, ia menegaskan penanganan tidak cukup hanya berfokus pada kasus-kasus bermunculan di publik, tetapi juga harus menyasar akar masalah, yakni rendahnya cakupan imunisasi. “Kalau hanya bicara kasus, itu sudah di hilir. Yang penting di hulunya, kenapa cakupan imunisasi bisa turun. Itu yang harus diperbaiki,” imbuh dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More