Karhutla Way Kambas Padam, DPR Tekankan Deteksi Dini hingga Pemulihan

- Komisi IV DPR RI menegaskan penanganan karhutla TN Way Kambas harus mencakup deteksi dini, kesiapan personel, pemantauan, pelibatan warga, dan pemulihan habitat, bukan sekadar memadamkan api.
- Sebanyak 3.083 warga desa penyangga dilibatkan dalam pemberdayaan berbasis konservasi, termasuk rumah singgah, warung makan, dan budidaya lebah, agar masyarakat memperoleh manfaat sekaligus menjaga kawasan.
- TN Way Kambas mencatat 16 karhutla sepanjang 2026 seluas 6.984 hektar; akses, air, dan sarana pemadaman terbatas, sementara patroli serta posko gabungan disiagakan hingga Oktober.
Lampung Timur, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur mendapat perhatian serius Komisi IV DPR RI. Penanganan kebakaran dinilai tidak boleh berhenti sebatas memadamkan api.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Hanan A. Rozak, mengatakan keberhasilan memadamkan api bukan akhir dari penanganan karhutla. Menurutnya, evaluasi terhadap sistem pencegahan harus dilakukan agar kebakaran tidak terus berulang.
"Yang harus kita pastikan bukan hanya apinya padam, tetapi bagaimana kebakaran tidak berulang. Kalau setiap tahun kita hanya sibuk memadamkan api, berarti ada persoalan dalam sistem pencegahannya yang harus dievaluasi," ujarnya saat kunjungan kerja.
1. Karhutla TNWK harus ditangani dari hulu

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke TN Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Pemprov Lampung). Hanan mengatakan, TNWK memiliki fungsi strategis dalam menjaga keberlangsungan habitat gajah Sumatra. Karena itu, penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari deteksi dini hingga pemulihan kawasan.
Maka, ia menekankan pentingnya kesiapan personel, pemantauan kawasan serta keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
"Jangan sampai tindakan baru masif setelah api membesar. Kalau ada kawasan yang rusak karena kebakaran, harus jelas bagaimana rencana pemulihannya. Apa yang ditanam kembali, berapa luasnya, siapa yang mengawasi dan bagaimana memastikan habitat itu kembali berfungsi," katanya.
2. Tekankan manfaat TNWK untuk masyarakat

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke TN Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur. (IDN Times/Istimewa). Selain pencegahan, Hanan menegaskan, TNWK harus tetap menjadi ruang hidup yang aman bagi gajah Sumatra sekaligus kawasan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
"Konservasi tidak boleh hanya bicara soal menyelamatkan satwa. Kita juga harus memastikan kawasan terlindungi dari kebakaran dan masyarakat di sekitarnya menjadi bagian dari solusi," ucap dia.
3. Libatkan 3.083 warga desa penyangga

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke TN Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur. (IDN Times/Istimewa). Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan sekitar 3.083 warga desa penyangga saat ini turut terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan di sekitar kawasan.
"Kita tidak bisa hanya bicara tentang konservasi, sementara masyarakat di sekitar kawasan tidak ikut mendapatkan manfaat. Karena itu, pemberdayaan masyarakat desa penyangga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kawasan," kata Sriyanto.
Menurutnya, pemberdayaan dapat diarahkan pada kegiatan ekonomi yang tetap sejalan dengan prinsip konservasi. Di antaranya, pengembangan rumah singgah hingga UMKM seperti warung makan hingga budidaya lebah.
"Ketika masyarakat memiliki sumber ekonomi yang tumbuh dari kegiatan yang sejalan dengan konservasi, mereka juga memiliki kepentingan untuk menjaga kawasan. Jadi, konservasi dan pemberdayaan masyarakat harus berjalan bersama," imbuhnya.
4. Pemprov akui karhutla jadi tantangan serius

Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke TN Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur. (Dok. Pemprov Lampung). Wagub Lampung, Jihan Nurlela, menambahkan, kunjungan Komisi IV DPR RI menjadi momentum untuk memperkuat dukungan pemerintah pusat terhadap upaya konservasi dan penanganan karhutla di TNWK.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi pada 26 Agustus 2026 menjadi tantangan serius dalam menjaga kawasan konservasi tersebut. Penanganan di lapangan menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan akses kendaraan, sumber air, serta sarana dan prasarana pemadaman.
"Walaupun akses tersebut sangat sulit dijangkau, alhamdulillah, dalam waktu satu hari kebakaran di hotspot yang pertama dapat dikendalikan," ucapnya.
Lanjut lanjut berdasarkan pemantauan kamera drone, masih terdapat sejumlah titik panas di kawasan lahan gambut TNWK yang berpotensi memicu kebakaran. "Karena itu, koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak dinilai penting untuk mencegah kebakaran kembali meluas," sambung dia.
5. Catat 16 kali kejadian karhutla

Karhutla di kawasan TN Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Jumat (21/8/2026). (Dok. Balai TNWK). Kepala Balai Besar TN Way Kambas, MHD Zaidi, melaporkan bahwasanya Balai TNWK mencatat sebanyak 16 kali kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 dengan akumulasi luas area terdampak mencapai 6.984 hektar.
Ia mengungkapkan bahwa kebakaran yang didominasi oleh vegetasi semak rawa dan padang alang-alang tersebut mayoritas memicu kerawanan di enam resor di bagian barat yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga.
"Eskalasi karhutla tertinggi terjadi pada Agustus akibat cuaca ekstrem fenomena El Nino dan angin kencang. Kebakaran besar terakhir tercatat pada 27–28 Agustus lalu yang membakar sekitar 912 hektar di wilayah utara TNWK, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan total pada jam 18.45 WIB setelah dikerahkan tim gabungan," jelasnya.
Meski cakupan karhutla cukup luas, Zaidi menuturkan bahwa pihaknya memastikan populasi satwa kunci seperti harimau Sumatra (sekitar 12 ekor), gajah Sumatra (150–200 ekor liar, 63 ekor jinak), serta badak Sumatra tetap terpantau sehat dan berada dalam kondisi habitat yang aman.
"Sesuai arahan Gubernur Mirza, tim posko gabungan dan patroli akan terus disiagakan secara intensif minimal hingga Oktober mendatang sampai fenomena El Nino mereda," imbuh Zaidi.




















