Itera Juara Internasional, Rancang Kota Terapung Hadapi Krisis Iklim

- Dua mahasiswa Arsitektur Itera, Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir, meraih juara pertama kompetisi desain internasional AILCD di Jepang lewat konsep kota terapung adaptif menghadapi krisis iklim.
- Karya berjudul “Anti Deco” menawarkan sistem urban modular yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, menekankan pentingnya desain kota yang adaptif dan berkelanjutan.
- Kemenangan ini membuktikan kemampuan mahasiswa Indonesia bersaing di level global, sekaligus mendorong lahirnya ide-ide arsitektur inovatif untuk menjawab tantangan masa depan.
Dua mahasiswa Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera) bikin gebrakan di level internasional. Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir keluar sebagai juara pertama The International Student Design Competition on Low Carbon Cities in Asia yang digelar Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD), lembaga berbasis di Kitakyushu, Jepang.
Di ajang itu, mereka tak cuma bersaing, tapi juga menyalip tim dari Zhejiang University, Tiongkok, posisi juara dua dan tiga. Lewat karya berjudul “Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space”. Keduanya menawarkan konsep kota terapung adaptif sebagai respons atas krisis iklim dan ancaman kenaikan muka air laut.
Tema yang diangkat bukan kaleng-kaleng. Itu lantaran, peserta diminta membayangkan wajah Kota Kitakyushu 100 tahun ke depan dengan pendekatan kota rendah karbon.
“Kami mulai dari data. Kami pelajari proyeksi perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Lalu kami bikin skenario ekstrem untuk tahun 2125. Bukan buat nakut-nakutin, tapi buat realistis," kata Wahyu, Rabu (4/3/2026).
1. Tawarkan konsep sistem urban modular

Wahyu mengatakan, mereka membayangkan situasi ketika kota tak lagi bisa mengandalkan daratan yang stabil. Dari situ lahir ide kota terapung yang bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan.
“Kalau biasanya kota didesain untuk melawan alam, kami justru berpikir sebaliknya. Bagaimana kalau kota itu hidup berdampingan dengan ketidakpastian?," ujarnya.
Menurut Wahyu, konsep mereka tawarkan berupa sistem urban modular. Kota dirancang bisa bergerak, naik ke permukaan laut saat kondisi stabil, lalu turun ke lapisan yang lebih aman ketika terjadi gangguan ekstrem.
"Penting itu cara berpikirnya. Adaptif dan jangka panjang. Kota-kota di Indonesia harus mulai didesain dengan kesadaran bahwa masa depan penuh ketidakpastian,” kata Wahyu.
2. Gagasan ini sangat relevan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan

Muhammad Choir menambahkan, proyek ini bukan sekadar soal bentuk fisik bangunan futuristik. Menurutnya, gagasan ini sangat relevan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan.
Ancaman kenaikan muka air laut, penurunan tanah di wilayah pesisir, hingga banjir rob bukan lagi isu masa depan—tapi sudah terjadi.
“Yang kami geser itu cara pandangnya. Arsitektur bukan lagi benda statis. Ia harus jadi sistem yang hidup dan bergerak dalam waktu,” kata Choir.
Menurutnya, gagasan ini sangat relevan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan. Ancaman kenaikan muka air laut, penurunan tanah di wilayah pesisir, hingga banjir rob bukan lagi isu masa depan—tapi sudah terjadi.
“Kita gak harus langsung bikin kota terapung skala besar. Bisa dimulai dari infrastruktur pesisir yang fleksibel, hunian terapung di wilayah rawan banjir, atau pemanfaatan energi laut sebagai alternatif,” jelasnya.
3. Buktikan mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung global

Meski berhasil menyabet juara pertama, keduanya sepakat bahwa inti dari desain bukanlah meniru bentuk kota terapung yang mereka rancang tetapi cara berpikirnya. Bagi mereka, kemenangan ini bukan sekadar trofi, tapi bukti mahasiswa Indonesia mampu bersaing di panggung global lewat gagasan yang relevan dan berani.
Tak hanya Wahyu dan Choir, lima tim mahasiswa Itera lainnya juga meraih penghargaan Honorable Mentions dalam kompetisi yang sama. Mereka adalah Muhammad Hawari Sajidullah dan Adli Shiedieq Hanif Ibrahim, Muhammad Rasyid dan Athala Vipari, Saba dan M. Dwiki Darmawan, Rafiq Faras Maliku dan Nyayu Ananda Qhattammahira Khairunisya, serta Khoirul Akmal, Indah Wulandari, dan Savira Amelia.
“Kami berharap ini jadi pemantik semangat teman-teman lain.Jangan takut dengan ide spekulatif. Selama relevan dengan tantangan masa depan, justru itu yang dibutuhkan," imbuh Choir.


















