Gerakan HELAU Ubah Pekarangan dan Wajah Desa di Lampung Selatan

- Gerakan HELAU di Lampung Selatan mendorong pekarangan produktif untuk pangan keluarga, seperti di rumah Arsyam yang menanam hortikultura, beternak ayam, dan membudidayakan lele.
- Program Teras HELAU mengolah sampah organik menjadi pakan maggot untuk lele, dengan pendampingan perangkat daerah guna menciptakan sistem pangan ramah lingkungan dan minim limbah.
- Gerakan Desa HELAU di Desa Suak menggerakkan gotong royong warga melalui pemilahan sampah, pos keamanan, penerangan, marka jalan, dan tempat sampah bambu.
Lampung Selatan, IDN Times - Gerakan HELAU mulai membawa perubahan di sejumlah wilayah di Lampung Selatan. Tak hanya mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga, program ini juga menghidupkan kembali semangat gotong royong untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tertata, aman, dan nyaman.
Melalui Teras HELAU dan Gerakan Desa HELAU, masyarakat didorong mengelola pekarangan, mengembangkan budidaya pangan, hingga memperkuat pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga. Sejumlah manfaat pun mulai dirasakan, mulai dari berkurangnya pengeluaran rumah tangga hingga lingkungan desa semakin asri.
1. Pekarangan rumah disulap jadi sumber pangan dan tambahan penghasilan

Salah satu perubahan itu dirasakan Arsyam, warga Lingkungan Jati Dalam, Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda yang menjadi pilot project Program Teras HELAU. Setelah sebelumnya menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), kini pekarangan rumahnya dimanfaatkan melalui Program Teras HELAU menjadi lahan produktif.
Beragam komoditas hortikultura ditanam di halaman rumah, mulai dari kangkung, cabai keriting, cabai rawit, tomat, terong, daun bawang, jahe, nanas, hingga sawo. Tak hanya itu, Arsyam juga membudidayakan ikan lele menggunakan sistem budikdamber (budidaya ikan dalam ember) serta memelihara ayam sebagai sumber pangan keluarga.
"Manfaatnya sangat besar bagi keluarga kami. Sekarang kebutuhan sayur dan lauk sudah tersedia dari pekarangan sendiri, sehingga tidak perlu lagi membeli setiap hari. Kalau hasilnya lebih, kami juga bisa berbagi dengan tetangga," ujar Arsyam.
2. Sampah organik diolah jadi pakan lele

Selain memanfaatkan pekarangan, Program Teras HELAU juga mengintegrasikan konsep ekonomi sirkular agar pengelolaan pangan dan lingkungan berjalan beriringan. Melalui konsep tersebut, sampah organik rumah tangga akan diolah menjadi pakan maggot. Selanjutnya, maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele sehingga tercipta sistem produksi yang saling terhubung, ramah lingkungan, dan minim limbah.
Menurut Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, pelaksanaan konsep tersebut melibatkan kolaborasi lintas perangkat daerah, termasuk Dinas Lingkungan Hidup yang akan mendampingi masyarakat dalam mengelola sampah organik hingga budidaya maggot.
"Perangkat daerah terkait akan dilibatkan, termasuk Dinas Lingkungan Hidup. Sampah organik nantinya diolah menjadi makanan maggot, kemudian maggot menjadi pakan lele. Jadi siklusnya terus berputar, tidak ada yang terbuang, dan masyarakat juga akan diberikan pendampingan dalam pengelolaannya," jelasnya.
Egi berharap, Program Teras HELAU dapat menjadi solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah, melalui pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan.
3. Gotong royong warga bikin Desa Suak makin bersih, aman, dan tertata

Egi mengatakan, selain mengembangkan pekarangan produktif, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga mendorong Gerakan Desa HELAU di Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo. Program ini mendapat apresiasi karena berhasil menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, rapi, aman, dan nyaman melalui semangat gotong royong masyarakat.
Berbagai upaya dilakukan warga secara bersama-sama, mulai dari pemilahan sampah organik dan nonorganik, pembangunan pos keamanan lingkungan, pemasangan penjor yang dilengkapi lampu hias, hingga penataan jalan desa dengan marka jalan. Warga juga membuat tempat sampah berbahan bambu anyaman yang menjadi inovasi berbasis potensi lokal sekaligus mempercantik lingkungan.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat mempertahankan budaya gotong royong sebagai modal sosial utama dalam mewujudkan desa yang maju, mandiri, dan berdaya saing. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi juga keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan lingkungan sekitar.





















