Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pesan Tersirat Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo: Tak Sekadar Horor

Bandar Lampung
5 min read
Pesan Tersirat Film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo: Tak Sekadar Horor
Hanung Bramantyo dan Anya Zen saat wawancara terkait film Lobang Buaya. (IDN Times/Muhaimin)
  • Hanung Bramantyo menyebut Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah sebagai film fiksi horor-misteri yang mengangkat kritik penyalahgunaan kekuasaan dan penindasan rakyat kecil menjelang 1965.

  • Konsep "Tujuh Setan Desa" menggambarkan tuan tanah, birokrat, hingga preman yang menekan petani; cerita juga memasukkan konflik kepercayaan dan tokoh ronggeng sebagai bagian dunia fiksi.

  • Berlatar Desa Lobang Buaya pada 1964, film mengikuti penyelidikan pembunuhan berantai dan teror "Hantu Bolong"; dibintangi Baskara Mahendra, film dijadwalkan tayang 1 Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times — Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah karya Hanung Bramantyo tidak hanya menawarkan teror dan misteri. Tetapi, membawa kritik sosial mengenai penyalahgunaan kekuasaan, penindasan terhadap rakyat kecil, hingga konflik sosial yang terjadi menjelang tragedi 1965.

Hanung mengatakan, film tersebut dibuat sebagai pengingat bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, agar tidak melupakan peristiwa sejarah yang telah berlangsung lebih dari setengah abad lalu.

Meski mengambil latar menjelang tragedi 30 September 1965, Hanung menegaskan Lobang Buaya merupakan karya fiksi. Pendekatan horor digunakan untuk membicarakan kembali rasa takut yang melekat ketika masyarakat membahas periode tersebut.

"Yang harus dicermati di dalam film ini adalah bukan peristiwa 30 Septembernya, tetapi satu tahun sebelumnya," ujar Hanung dalam wawancara usai screening film di Mall Boemi Kedaton, Sabtu (26/9/2026).

  1. 1. "Tujuh Setan Desa" jadi kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan

    THE HOLE (LOBANG BUAYA)Announcement BIFANFrom Rotterdam to Bucheon.Setelah melakukan World Premi.jpg
    Poster film Lobang Buaya. (Instagram: filmlobangbuaya)

    Salah satu gagasan utama dalam film adalah fenomena yang disebut Hanung sebagai "Tujuh Setan Desa".

    Hanung menggambarkan kelompok tersebut sebagai pihak-pihak yang mengisap dan menekan rakyat kecil, terutama petani.

    "Untuk saat ini mereka bisa dikatakan seperti tuan tanah, birokrat, lintah darat, tengkulak, pengijon atau pengepul, penguasa, dan preman desa," jelasnya.

    Melalui konsep tersebut, Hanung ingin menggambarkan relasi kuasa di tengah masyarakat desa. Pihak yang seharusnya melindungi masyarakat justru dapat menyalahgunakan jabatan dan pengaruhnya.

    Pesan tersebut juga dirasakan Monica sebagai penonton. Ia menilai, film menyindir pihak yang tidak menggunakan jabatan sebagaimana mestinya.

    "Jabatan yang seharusnya untuk melindungi rakyat tapi malah korupsi dan tidak memaksimalkan jabatannya dengan baik, berbuat semena-mena dengan memanfaatkan jabatan yang mereka punya," ujar Monica.

  2. 2. Konflik kepercayaan hingga sosok ronggeng masuk dalam cerita

    IMG_20260926_140302.jpg
    Anya Zen, pemain film Lobang Buaya yang menyapa penonton di Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

    Selain persoalan kekuasaan, Hanung memasukkan unsur agama dan kepercayaan ke dalam cerita.

    Kondisi masyarakat pada 1964 digambarkan penuh perdebatan dan pertentangan antarkelompok. Salah satu elemen yang muncul adalah Ghayat al-Hakim.

    Namun, Hanung menegaskan penggunaan unsur tersebut merupakan bagian dari fiksi. Ia mengaku hanya menemukan beberapa lembar dari kumpulan kitab tersebut sehingga tidak menjadikannya sebagai dasar kesimpulan sejarah.

    "Untuk itu saya pernah lihat lembaran sobek saja, tetapi itu tidak bisa dijadikan landasan yang kuat. Tapi itu, unsur dikembangkan sebagai bagian dari dunia fiksi Lobang Buaya," ucapnya.

    Sementara itu, keberadaan tokoh ronggeng juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat desa pada masa tersebut. Ronggeng digambarkan sebagai hiburan rakyat yang dapat dikontrak oleh tuan tanah.

    Tokoh tersebut sekaligus menjadi bagian dari gambaran hubungan antara masyarakat kecil dengan kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekayaan.

  3. 3. Teror "Hantu Bolong" dan plot twist berlapis

    IMG_20260926_144121.jpg
    Hanung Bramantyo dan Anya Zen saat wawancara terkait film Lobang Buaya. (IDN Times/Muhaimin)

    Film ini berlatar di Desa Lobang Buaya pada 1964, setahun sebelum tragedi 30 September 1965. Desa tersebut diguncang pembunuhan berantai terhadap sejumlah tokoh desa. Para korban ditemukan dengan kondisi punggung berlubang dan tubuh diberi tulisan bernada sindiran.

    Kasus tersebut kemudian memunculkan rumor mengenai sosok "Hantu Bolong". Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra ditugaskan mengungkap dalang di balik pembunuhan tersebut.

    Di sisi lain, istrinya, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, mengalami gangguan dari sosok perempuan misterius.

    Teror yang dialami Arum perlahan berkaitan dengan misteri pembunuhan di desa. Penyelidikan Soegeng pun mengarah pada persoalan yang lebih besar, termasuk ritual gelap dan situasi sosial-politik menjelang tragedi 1965.

    Hanung sengaja menghadirkan plot twist berlapis agar penonton terus mempertanyakan siapa sebenarnya dalang di balik berbagai kejadian.

    Monica salah seorang penonton mengatakan, merasa puas dengan film yang dibintangi oleh Baskara Mahendra tersebut. "Plot twist-nya sungguh gak ketebak banget," kata Monica.

    Monica menyampaikan, film tersebut seperti kritik sosial bagi para pejabat yang ada saat ini yang tidak memikirkan rakyat.

    "Tadi juga ada pejabat rakyat yang tamak, kamarku seperti itu di dalam film. Ini bagus karena bisa jadi kritik sosial juga untuk keresahan kita selama ini," ucapnya.

    Hanung juga mengatakan akhir film tidak memberikan seluruh jawaban karena cerita yang ditampilkan merupakan bagian awal dari rangkaian tragedi yang lebih besar.

  4. 4. Riset sejak SMA, dibintangi Baskara Mahendra hingga Mathias Muchus

    IMG_20260926_140249.jpg
    Anya Zen, pemain film Lobang Buaya yang menyapa penonton di Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

    Hanung mengungkapkan riset mengenai isu yang menjadi dasar film telah dilakukan sejak dirinya masih duduk di bangku SMA.

    "Proses penulisan skenario dimulai sekitar 2022, kalo untuk produksi film berlangsung pada 2024," jelasnya.

    Bagi Anya Zen salah satu aktris dalam film ini mengatakan, Lobang Buaya menjadi pengalaman tersendiri. Film tersebut merupakan proyek ketiganya ketika menjalani proses syuting, tetapi menjadi film ketujuhnya yang dirilis.

    Anya juga mendapat pengalaman berharga karena dapat beradu akting dengan aktor senior Mathias Muchus.

    "Awalnya sempat gugup ketika menjalani adegan dengan emosi kuat. Tapi, saya dapet arahan Hanung dan om Mathias Muchus yang membantu saya memahami karakter," katanya.

    Film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah dibintangi Baskara Mahendra sebagai Letnan Soegeng, Carissa Perusset sebagai Arum Wangi, Anya Zen, Iskak Khivano, dan Mathias Muchus.

    Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.

    Memadukan horor, misteri, latar sejarah, dan kritik sosial, Lobang Buaya tidak hanya mengajak penonton mencari tahu siapa dalang di balik teror, tetapi juga melihat persoalan kekuasaan dan tekanan terhadap masyarakat kecil yang menjadi bagian dari latar ceritanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More