Ia mengatakan, film tersebut dibuat sebagai pengingat bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, agar tidak melupakan peristiwa sejarah yang telah berlangsung lebih dari setengah abad lalu. Meski mengambil latar menjelang tragedi 30 September 1965, ia menegaskan Lobang Buaya merupakan karya fiksi.
Screening Film Lobang Buaya, Penonton Lampung Disuguhi Plot Twist

- Film horor-misteri Lobang Buaya menggelar special screening di Bandar Lampung sebelum tayang nasional pada 1 Oktober 2026, dihadiri sutradara Hanung Bramantyo dan pemain Anya Zen.
- Berlatar setahun sebelum tragedi 1965, film fiksi ini mengikuti investigasi pembunuhan berantai oleh Letnan Soegeng serta mengangkat kritik penyalahgunaan kekuasaan, penindasan, dan konflik sosial.
- Hanung juga membahas semiotika sinema di Universitas Bandar Lampung, menjelaskan penggunaan visual dan suara untuk menyampaikan pesan tentang dendam, trauma, serta kritik kekuasaan.
Bandar Lampung, IDN Times - Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang resmi di biokop 1 Oktober 2026. Jelang penayangan, film hasil Kolaborasi rumah produksi Adhya Pictures dan Dapur Film ini menggelar penayangan khusus (special screening) di Boemi Kedaton XXI, Sabtu (26/9/2026).
Penayangan khusus Film Lobang Buaya dihadiri langsung sutradara kenamaan Hanung Bramantyo bersama salah satu pemain, Anya Zen. Berikut IDN Times ulas spesial screening film bergenre horor-misteri tersebut.
1. Atmosfer tegang di bioskop

Penayangan khusus (special screening) Film Lobang Buaya di Boemi Kedaton XXI, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Adhya Pictures dan Dapur Film). Atmosfer tegang menyelimuti studio Boemi Kedaton XXI Bandar Lampung saat penonton berkesempatan mencuri start menyaksikan penyelidikan Letnan Soegeng (diperankan oleh Baskara Mahendra). Mengangkat latar satu tahun sebelum tragedi kelam 1965, film ini menyuguhkan investigasi pembunuhan berantai berdarah dingin yang menargetkan figur penting desa tepat pada tanggal 30 di setiap bulannya.
Kengerian yang dibangun secara psikologis tanpa ketergantungan pada hantu gaib sukses memaku penonton di kursinya hingga credit title bergulir.
Lobang Buaya hadir sebagai karya sinema yang matang, menghibur dengan tensi misteri tinggi, sekaligus memantik refleksi mendalam bagi penontonnya. Dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, hingga Mathias Muchus, film Lobang Buaya siap menguji nyali serta logika penonton di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
2. Tak hanya tawarkan teror dan misteri

Penayangan khusus (special screening) Film Lobang Buaya di Boemi Kedaton XXI, Sabtu (26/9/2026). (Dok. Adhya Pictures dan Dapur Film). Hanung menjelaskan, Film Lobang Buaya tidak hanya menawarkan teror dan misteri. Tetapi, membawa kritik sosial mengenai penyalahgunaan kekuasaan, penindasan terhadap rakyat kecil, hingga konflik sosial yang terjadi menjelang tragedi 1965.
Pendekatan horor digunakan untuk membicarakan kembali rasa takut yang melekat ketika masyarakat membahas periode tersebut. "Yang harus dicermati di dalam film ini adalah bukan peristiwa 30 Septembernya, tetapi satu tahun sebelumnya," ujar Hanung diwawancara usai screening film di Mall Boemi Kedaton, Sabtu (26/9/2026).
3. Talkshow di UBL

Hanung Bramantyo hadir sebagai pembicara utama dalam sesi talkshow bertajuk “From Fact to Frame” dengan topik bahasan “Semiotika Sinema: Membaca Pesan Tersirat di Balik Lensa”. (Dok. Adhya Pictures dan Dapur Film). Tak berhenti di bioskop, gelombang antusiasme berlanjut ke lingkungan akademisi. Bertempat di aula Universitas Bandar Lampung (UBL), Hanung Bramantyo hadir sebagai pembicara utama dalam sesi talkshow bertajuk “From Fact to Frame” dengan topik bahasan “Semiotika Sinema: Membaca Pesan Tersirat di Balik Lensa”.
Di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan komunitas pegiat film lokal, Hanung membedah tuntas bagaimana sebuah kamera merangkai simbol fiksi tanpa mencederai sensitivitas sejarah bangsa.
“Film horor sering diremehkan hanya sebagai mesin pencipta kaget. Di ‘Lobang Buaya’, kami membuktikan sebaliknya: setiap sudut pengambilan gambar, pencahayaan temaram, hingga tata suara dirancang sebagai bahasa semiotika. Ada pesan tersirat tentang dendam, trauma, dan kritik kekuasaan yang harus dibaca penonton di balik lensa. Kamera adalah alat tafsir, bukan sekadar perekam,” tegas Hanung di hadapan audiens UBL.
Sesi diskusi interaktif tersebut disambut hangat oleh civitas akademika UBL. Dekan dan kalangan dosen mengapresiasi keberanian sang sutradara yang membuka ruang dialektika terbuka mengenai batasan etis antara rekonstruksi fiksi dan luka sejarah kolektif masyarakat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















