Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ahli Itera: Erupsi Anak Krakatau Turun, tapi Masih Lepaskan Energi
Pantauan Aktifitas GAK. (Dok. Pemprov Lampung)
  • Aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun secara visual; kolom putih diduga uap air kini dominan, sementara abu vulkanik masih terlihat dalam jumlah lebih sedikit.
  • Penurunan aktivitas tidak menandakan gunung berhenti karena masih melepaskan energi. Pemantauan visual perlu didukung data tremor dan tiltmeter untuk mengikuti perkembangannya.
  • Ahli belum dapat memastikan kapan aktivitas berakhir. Interval erupsi terakhir memanjang, sedangkan potensi sebaran abu bergantung arah angin yang saat pemantauan mengarah ke Samudra Hindia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dinilai mulai menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun, kondisi tersebut belum berarti aktivitas gunung api di Selat Sunda itu telah berhenti sepenuhnya.

Ahli Kebencanaan Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Ikah Ning P.P, mengatakan penurunan aktivitas GAK terlihat dari pemantauan visual yang dilakukan secara langsung.

Menurutnya, kolom yang keluar dari gunung saat ini lebih didominasi warna putih yang diduga merupakan uap air. Sementara abu vulkanik masih terlihat, tetapi jumlahnya tidak lagi dominan seperti sebelumnya.

"Kalau secara visual memang sudah aktivitasnya lebih menurun dibanding yang sebelumnya. Namun demikian, masih ada aktivitas mengeluarkan energi dari si Anak Gunung Krakatau, sehingga kita harus masih tetap waspada," katanya, Selasa (9/9/2026).

1. GAK kini lebih didominasi uap air

Ahli Kebencanaan ITERA, Ikah Ning P.P. (IDN Times/Muhaimin)

Ikah menjelaskan, dari hasil pengamatan, kolom yang terlihat saat ini didominasi warna putih. Kondisi tersebut berbeda dengan material abu vulkanik yang cenderung berwarna keabu-abuan.

"Yang putih dominan ini diduga itu adalah uap air. Jadi sudah bukan abu vulkanik. Abunya masih ada, tetapi hanya di sisi sebelah kanan," ujarnya.

Menurut Ikah, keberadaan abu yang masih terpantau menunjukkan masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan aktivitas GAK.

2. Aktivitas menurun bukan berarti gunung berhenti

Gambar aktifitas GAK. (Dok. Pemprov Lampung)

Ikah menegaskan, penurunan aktivitas secara visual tidak bisa dijadikan patokan GAK sudah sepenuhnya berhenti beraktivitas.

Sebab, gunung tersebut masih melepaskan energi. Untuk melihat perkembangannya, pemantauan perlu dilakukan dengan menggabungkan pengamatan visual dan data instrumen.

"Kita masih tetap harus waspada. Serta tentu didukung dengan data-data lain seperti data tremor, dan kita ada stasiun tiltmeter itu juga tetap harus kita pantau," ucapnya.

3. Ahli belum bisa memastikan kapan aktivitas berakhir

Aktifitas Gunung Anak Krakatau (GAK). (Dok. Pemprov Lampung).

Ikah juga mengatakan, belum dapat memastikan kapan aktivitas GAK akan benar-benar berakhir. Menurutnya, perkembangan aktivitas gunung api sangat bergantung pada energi yang masih dilepaskan.

Bentuk pelepasan energi itu pun tidak selalu berupa erupsi dengan abu, tetapi dapat berupa uap air maupun material lainnya.

"Kapan hilangnya kita tidak tahu pasti, kita melihat aktivitas Gunung Anak Krakatau ini," ujarnya.

Berdasarkan pemantauan terhadap data PVMBG, lanjut Ikah, interval erupsi terakhir juga mulai lebih panjang. Erupsi terakhir yang tercatat terjadi pada pukul 00.47 WIB dan hingga sebelum pemantauan belum tercatat erupsi berikutnya.

4. Sebaran abu bergantung arah angin

Ilustrasi arah angin. (Pexels.com/Jan van der Wolf)

Terkait potensi dampak abu vulkanik, Ikah mengatakan, arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak.

Saat dilakukan pemantauan langsung, material yang terlihat justru bergerak menjauh dari lokasi mereka dan mengarah ke Samudra Hindia.

"Kalau tadi kita lihat ketika ke sana kunjungan langsung, kebetulan arahnya itu tidak mengarah ke kita, tetapi ke Samudra Hindia," jelas Ikah.

Meski kondisi GAK dinilai lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya, Ikah mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan mengikuti perkembangan aktivitas gunung api berdasarkan data pemantauan terbaru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article