Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Pakar Itera Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik

Kota Bandar Lampung
3 min read
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Pakar Itera Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).
  • Erupsi Anak Krakatau sejak 4 September 2026 melontarkan lava pijar dan kolom lebih dari 500 meter, dengan abu menyebar ke Banten, Jawa Barat, serta berpotensi memengaruhi Lampung.
  • Pakar Itera mengingatkan abu vulkanik berpartikel mikro dan tajam dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan, sehingga warga terdampak diminta memakai masker dan mengurangi paparan luar ruang.
  • Aktivitas Anak Krakatau masih dipantau intensif; masyarakat diminta mematuhi jarak aman PVMBG, mengikuti informasi resmi BMKG dan PVMBG, serta tidak terpengaruh hoaks.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Gunung Anak Krakatau (GAK) erupsi sejak, Jumat (4/9/2026) malam. Erupsi melontarkan lava pijar (fountain lava) dengan kolom erupsi lebih dari 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan menghasilkan material vulkanik dalam volume cukup besar yang terlontar ke atmosfer.

Erupsi tersebut bertipe Strombolian dan menghasilkan material vulkanik dalam volume cukup besar yang terlontar ke atmosfer. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik bergerak ke arah timur hingga selatan yang berdampak pada wilayah Banten dan Jawa Barat.

Sementara itu, sebaran abu juga bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan berpotensi memengaruhi sejumlah wilayah di Lampung.

  1. 1. Abu vulkanik berukuran mikro dan bisa mengiritasi pernapasan

    ilustrasi abu vulkanik (unsplash.com/Yosh Ginsu)
    ilustrasi abu vulkanik (unsplash.com/Yosh Ginsu)

    Dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang juga pakar vulkanologi, Happy Christin Natalia menjelaskan, abu vulkanik merupakan material vulkanik berukuran sangat kecil atau mikro dengan bentuk partikel  bersudut tajam. Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat membahayakan kesehatan manusia, khususnya sistem pernapasan.

    Ia menjelaskan, secara umum, kandungan abu vulkanik memiliki unsur serupa dengan material penyusun magma, seperti silika dan aluminium, dan material lainnya. Namun, menurutnya, aspek yang perlu lebih diwaspadai bukan semata-mata kandungan unsurnya, melainkan karakteristik fisik partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam.

    “Untuk kandungan abu vulkanik, umumnya sama dengan unsur yang terdapat dalam magma, seperti silika, aluminium, dan lainnya. Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah bentuk partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam, sehingga dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan,” ujar Happy, Minggu, (6/9/2026).

  2. 2. Warga diminta patuhi jarak aman dan pantau informasi resmi

    IMG_20260905_175403.jpg
    Penampakan debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Kabupaten Tanggamus dan Pesibar. (IDN Times/Istimewa).

    Di sisi lain, aktivitas vulkanik di kawasan GAK masih terus berlangsung. Erupsi menghasilkan beberapa kali letusan dan dentuman dengan ketinggian kolom erupsi yang bervariasi. Kondisi tersebut masih berada dalam pemantauan intensif oleh Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau.

    Sehubungan dengan kondisi tersebut, Happy meminta masyarakat untuk terus mematuhi jarak aman yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Masyarakat juga tidak perlu panik selama tetap mengikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang.

  3. 3. Warga diminta tidak mudah terpengaruh informasi hoaks

    Erupsi Gunung Anak Krakatau (Instagram/krakatau_cal_cal)
    Erupsi Gunung Anak Krakatau (Instagram/krakatau_cal_cal)

    Happy berharap, masyarakat mengikuti seluruh arahan dari pihak berwajib demi menjaga keselamatan diri dan keluarga. Masyarakat juga perlu terus memantau informasi resmi dari pihak terkait, seperti PVMBG dan BMKG, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi hoaks yang beredar di internet.

    "Masyarakat yang berada di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik juga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan serta mengurangi paparan langsung terhadap abu vulkanik sebagai langkah untuk menjaga kesehatan," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More