Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Warga Pulau Sebesi Mulai Terdampak Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Penampakan debu hitam vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai hinggapi pemukiman warga Pulau Sabesi, Lampung Selatan. (IDN Times/Istimewa).
  • Debu vulkanik hitam dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menyelimuti permukiman di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, setelah terbawa angin.
  • Warga melaporkan debu makin padat sejak Senin sore dan harus menyapu halaman berulang kali, meski intensitas di sekitar rumah masih tergolong sedang.
  • Anak-anak mulai diminta memakai masker di luar rumah, sementara pemantau gunung mengimbau warga tetap waspada, mengikuti rekomendasi PVMBG, dan tidak panik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai berdampak langsung terhadap warga Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan. Debu vulkanik berwarna hitam mulai menyelimuti permukiman setelah material erupsi terbawa angin.

Berdasarkan rekaman video diterima IDN Times, terlihat seseorang sedang menyapu lantai keramik putih menggunakan sapu berbahan sintetis berwarna merah muda dengan gagang hijau. Di atas lantai, terdapat debu abu-abu kehitaman tampak cukup tebal menyebar saat disapu.

"Tuh, tuh hitam," terdengar suara perekam video.

​"Debu Krakatau ini," sahut seseorang dalam video tersebut.

1. Diduga akibat hembusan arah angin

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Senin (17/8/2026). (Dok. Magma ESDM).

Terkait kondisi tersebut, Candra merupakan warga Pulau Sebesi mengatakan, debu vulkanik mulai terasa lebih padat mulai, Senin (17/8/2026) sore. Menurutnya, arah angin menjadi salah satu faktor memengaruhi sebaran abu hingga ke permukiman.

"Kalau angin selatan, naik ke sini. Tadi disapu, disapu lagi sudah hitam lagi," ujarnya dimintai keterangan, Senin (17/8/2026).

Intensitas debu berada di sekitar rumahnya masih tergolong sedang. Namun, material berwarna hitam tersebut cukup terlihat setelah halaman dibersihkan. Dalam waktu sekitar satu jam, ia mengaku hingga dua kali menyapu halaman.

"Ini sudah dua kali disapu. Mumpung masih halus," lanjut dia.

2. Anak-anak mulai diminta pakai masker

Anak-anak Pulau Sabesi mulai mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. (IDN Times/Istimewa).

Candra melanjutkan, warga hingga saat ini belum merasakan gangguan pernapasan akibat debu tersebut. Namun, ia khawatir jika intensitas abu meningkat, terutama bagi anak-anak, balita, dan warga yang sedang sakit.

Oleh karenanya untuk mengantisipasi paparan debu, warga mulai menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Sementara warga sedang kurang sehat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

"Kalau lagi sakit, jangan keluar dulu. Jadi sementara khususnya anak-anak mulai pakai masker," imbuh Candra.

3. Arah angin pengaruhi sebaran abu

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Senin (17/8/2026). (Dok. Magma ESDM).

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi mengatakan sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin di sekitar gunung.

Pasalnya, jika angin bertiup menuju Pulau Sebesi, material hasil erupsi berpotensi terbawa hingga ke permukiman warga. Maka ia juga mengimbau warga tidak mengabaikan keberadaan abu vulkanik, terlebih bila intensitas semakin meningkat.

"Sejauh ini kami masih terus melakukan pemantauan. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti rekomendasi yang dikeluarkan PVMBG," imbuhnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article