Gunung Anak Krakatau Sehari Erupsi 20 Kali, Status Masih Siaga

- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi 20 kali pada Senin, 17 Agustus 2026, sejak pukul 01.30 hingga 22.10 WIB; sebagian letusan hanya terekam seismograf.
- Kolom abu tertinggi mencapai 400 meter di atas puncak, berwarna kelabu hingga hitam dan tebal, dengan arah sebaran berubah dari utara-barat laut ke timur laut.
- Aktivitas vulkanik masih fluktuatif dengan status Siaga; masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Lampung Selatan, IDN Times - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan erupsi sebanyak 20 kali sepanjang, Senin (17/8/2026). Aktivitas erupsi berlangsung sejak dini hari hingga malam, dengan letusan terakhir tercatat pada pukul 22.10 WIB.
Berdasarkan laporan pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, rangkaian erupsi tersebut terjadi mulai pukul 01.30 WIB. Beberapa erupsi teramati secara visual berupa kolom abu, sementara sebagian lainnya hanya terekam melalui seismograf.
Erupsi pertama tercatat pukul 01.30 WIB dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan durasi 36 detik. Aktivitas kembali terjadi pukul 02.13 WIB dengan amplitudo 61 milimeter selama 53 detik.
Selanjutnya, erupsi tercatat pukul 03.04 WIB dengan amplitudo maksimum 64 milimeter selama 55 detik. Erupsi berlanjut pada pukul 03.29 WIB dengan amplitudo 57 milimeter selama 43 detik.
Pada pukul 04.05 WIB, erupsi kembali terekam dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 38 detik. Disusul erupsi pukul 04.20 WIB dengan amplitudo maksimum 55 milimeter selama 27 detik.
1. Kolom abu capai 400 meter

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Senin (17/8/2026). (Dok. Magma ESDM). Aktivitas erupsi kembali teramati pada pukul 06.26 WIB. Kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara hingga barat laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 107 detik.
Kemudian pada pukul 09.22 WIB, erupsi kembali terjadi. Kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 mdpl, berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut.
Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama 32 detik. Memasuki siang hingga sore, aktivitas erupsi kembali berulang. Erupsi tercatat pada pukul 12.22, 12.43, 12.44, 14.28, 15.14, dan 15.15 WIB.
2. Erupsi berlanjut hingga malam

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, Senin (17/8/2026). (Dok. Magma ESDM). Aktivitas vulkanik kembali meningkat pada sore hari. Pada pukul 18.01 WIB, kolom abu teramati sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 mdpl. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke timur laut.
Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 42 milimeter dan berlangsung selama 26 detik. Selang sekitar 25 menit, erupsi kembali terjadi pukul 18.26 WIB.
Kolom abu setinggi sekitar 300 meter di atas puncak teramati berwarna kelabu hingga hitam dan bergerak ke arah timur laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 30 milimeter selama 28 detik.
Pada pukul 18.35 WIB, erupsi kembali terjadi. Kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 mdpl, berwarna hitam dengan intensitas tebal mengarah ke timur laut.
Erupsi itu terekam dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan berlangsung selama 25 detik. Aktivitas berlanjut pada pukul 19.43 WIB.
Erupsi tidak teramati secara visual, tetapi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 27 detik. Satu menit kemudian, tepatnya pukul 19.44 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi.
Visual letusan tidak teramati, tetapi aktivitas tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 92 detik. Erupsi terakhir pada Senin (17/8/2026) terjadi pukul 22.10 WIB.
Visual letusan tidak teramati, namun seismograf merekam amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 165 detik.
3. Aktivitas vulkanik masih naik-turun

Sejumlah wisatawan kedapatan beraktivitas di Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Istimewa). Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Andi Suwardi mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih mengalami fluktuasi. Kondisi tersebut membuat status gunung api tetap berada pada level Siaga.
"Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga," ujarnya dikonfirmasi, Selasa (18/8/2026)
Menurutnya, rangkaian erupsi terjadi di kawasan Gunung Anak Krakatau merupakan pulau kosong sehingga tidak terdapat aktivitas masyarakat di lokasi tersebut. Meski demikian, aktivitas vulkanik gunung api masih dapat berubah sewaktu-waktu.
"Kita lihat saja ke depannya. Kalau amplitudo tremornya masih besar kemungkinan erupsi masih ada," katanya.
4. Hindari mendekat GAK hingga radius 3 kilometer

Sejumlah wisatawan kedapatan beraktivitas di Gunung Anak Krakatau. (IDN Times/Istimewa). Seiring kondisi ini, Andi mengingatkan masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas vulkanik masih meningkat.
Sesuai rekomendasi keselamatan, masyarakat dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Ia meminta masyarakat tidak mengambil risiko dengan mendatangi kawasan gunung api tersebut selama status masih Siaga.
"Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga," imbuh Andi.





















