Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

September 2026 Inflasi Lampung 0,14 Persen, Cabai dan Beras Pemicu

Bandar Lampung
5 min read
September 2026 Inflasi Lampung 0,14 Persen, Cabai dan Beras Pemicu
ilustrasi cabai-cabai Meksiko (pexels.com/Ericka Sánchez)
  • Inflasi Lampung pada September 2026 mencapai 0,14 persen secara bulanan, melambat dari 0,23 persen pada Agustus, terutama dipicu kenaikan harga cabai merah, beras, cabai rawit, tomat, dan telepon seluler.
  • Kenaikan harga beras serta hortikultura dipengaruhi gangguan pasokan akibat penurunan produktivitas panen dan El Nino. Inflasi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, ayam ras, bawang putih, jagung manis, serta minyak goreng.
  • BI dan TPID Lampung memperkuat pengendalian melalui strategi 4K, mencakup operasi pasar, peningkatan produksi dan distribusi pangan, serta pemantauan harga untuk menghadapi risiko El Nino, harga global, dan gangguan pasokan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Provinsi Lampung September 2026 mengalami inflasi 0,14 persen (mtm). Nilai itu lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,23 persen (mtm).

Inflasi periode terlapor didorong peningkatan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Tekanan inflasi pada kelompok ini disumbang oleh komoditas cabai merah, beras, cabai rawit, dan tomat.

Andil masing-masing kelompok tersebut sebesar 0,12 persen (mtm); 0,10 persen (mtm); 0,06 persen (mtm), dan 0,02 persen (mtm).

  1. 1. Ini pemicu inflasi

    Cara Membedakan Beras Fortifikasi Asli dan Palsu
    ilustrasi beras (unsplash.com/Deski Jayantoro)

    Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto mengatakan, peningkatan harga beras didorong oleh faktor gangguan pasokan akibat penurunan produktivitas panen gadu seiring terdegradasinya daya dukung lahan. Kondisi itu diperberat oleh intensitas fenomena El-Nino yang tengah mencapai titik puncaknya.

    Selain itu, El-Nino juga turut memberikan tekanan harga pada komoditas hortikultura, khususnya aneka cabai dan tomat. Itu seiring terganggunya pasokan air irigasi di wilayah hulu.

    "Inflasi juga dipengaruhi oleh komoditas telepon seluler yang menyumbang andil sebesar 0,03 persen (mtm). Kenaikan harga pada komoditas ini sebagai implikasi dari melonjaknya harga komponen chip global serta tren apresiasi nilai tukar dolar Amerika Serikat," papar Bimo,Jumat (2/10/2026).

  2. 2. Tertahan deflasi sejumlah komoditas

    minyak goreng
    Ilustrasi minyak goreng (magnific.com)

    Bimo menjelaskan, inflasi pada September 2026 tertahan oleh penurunan harga komoditas lainnya yang juga tergabung dalam Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok itu yaitu komoditas bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, jagung manis, dan minyak goreng.

    Kelompok itu memberikan andil deflasi masing-masing sebesar -0,09 persen (mtm), -0,06 persen (mtm), -0,03%m persen (mtm), -0,02%m persen (mtm), dan -0,02 persen (mtm). Penurunan harga bawang merah seiring dengan masuknya periode panen di sentra produksi lokal (Pringsewu, Pesawaran, dan Lampung Barat), serta dukungan pasokan dari pemasok di luar Lampung.

    "Adapun, penurunan harga bawang putih sejalan dengan meningkatnya pasokan di tingkat pedagang besar. Sementara itu, penurunan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh relatif terjaganya permintaan di tengah pasar, seiring mulai digencarkannya diversifikasi menu dalam pelaksanaan program MBG," urai Bimo.

  3. 3. Risiko perlu diwaspadai

    Ilustrasi Resiko. Pixabay/WOKANDAPIX
    Ilustrasi Resiko. Pixabay/WOKANDAPIX

    Bimo menyatakan, KPw BI Provinsi Lampung memprakirakan inflasi di Provinsi Lampung ke depan akan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) pada akhir tahun 2026. Namun demikian, sejumlah risiko perlu tetap diwaspadai dan dimitigasi yaitu:

    Dari sisi Inflasi Inti (Core Inflation), risiko bersumber dari:

    1. Tingginya volatilitas harga emas global seiring dinamika geopolitik, nilai tukar dolar AS, dan suku bunga global.
    2. Potensi penguatan harga CPO sejalan dengan kenaikan hargaminyak nabati global dan risiko penurunan produksi akibat El Nino.
    3. Kenaikan harga komponenchip global di tengah penguatan dolar AS yang berpotensi meningkatkan harga barang elektronik.
    4. Berakhirnya low base effect inflasi tahunan kelompok pendidikan pasca penerapan kebijakan penghapusan biaya komite sekolah pada Agustus 2026.

    Dari sisi Inflasi Bahan Makanan Bergejolak (Volatile Food), risiko perlu dicermati meliputi:

    • Meningkatnya kejadian karhutla dan penguatan El Nino yang berisiko mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura.
    • Panen gadu yang belum optimal serta peningkatan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang berpotensi menaikkan biaya bahan baku penggilingan dan harga beras.
    • Persaingan pembelian gabah oleh agen luar Lampung yang berisiko mendorong arus keluar gabah dan mengurangi pasokan penggilingan lokal.
    • Kondisi cuaca maritim dan gelombang yang tidak menentu berisiko membatasi pasokan ikan, sementara harga daging sapi tetap menghadapi risiko kenaikan biaya distribusi seiring peningkatan harga energi dunia. Sementara itu, dari sisi Inflasi

    Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices), risiko perlu diwaspadai meliputi:

    1. Potensi kenaikan harga BBM seiring peningkatan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik dan penurunan stok minyak mentah AS.
    2. Risiko gangguan distribusi LPG 3 kg yang tetap perlu dicermati, meskipun kuota LPG 3 kg Lampung tahun 2026 meningkat.

  4. 4. Perkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K

    ilustrasi strategi corporate survival untuk introver
    ilustrasi strategi corporate survival untuk introver (pexels.com/Yan Krukau)

    Bimo mengatakan, meninjau perkembangan inflasi Agustus dan mempertimbangkan peningkatan risiko global dan domestik, Bank Indonesia dan TPID Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K sebagai berikut:

    1. Keterjangkauan harga

    • Optimalisasi operasi pasar beras/SPHP secara terarah.
    • Memperkuat pemantauan harga dan pasokan melalui PIHPS, SPH, dan SP2KP, khususnya untuk beras, aneka cabai, bawang merah, minyak goreng, dan gula pasir.

    2. Ketersediaan pasokan

    • Mengoptimalkan Toko Inflasi di Kota Metro dan Bandar Lampung sebagai kanal distribusi harian untuk beras SPHP dan pangan strategis lainnya.
    • Mendorong peningkatan produksi hortikultura melalui intensifikasi GAP dan smart fertigation serta penguatan produksi dan pascapanen melalui dukungan sarana produksi.
    • Mendorong penguatan produksi dan pascapanen melalui dukungan greenhouse cabai, mesin packaging dan separator padi, RMU/RPU, serta kandang ayam.
    • Mengantisipasi El Nino melalui optimalisasi sarana pengairan, penyesuaian kalender tanam, dan dukungan sumur bor pada klaster binaan.

    3. Kelancaran distribusi

    • Mengoptimalkan KAD cabai merah Kulon Progo-Kota Metro serta KAD bawang merahKabupaten Solok-Bandar Lampung dan Metro untuk memperkuat kontinuitas pasokan;
    • Menindaklanjuti KAD Bandar Lampung-Kabupaten Bantul untuk penyediaan benih dan replikasi budidaya bawang merah.
    • Mengoptimalkan Fasilitas Distribusi Pangan (FDP) untuk mendukung pelaksanaan operasi pasar dan KAD, khususnya komoditas yang berisiko mengalami inflasi.

    4. Komunikasi efektif

    • Memperkuat integrasi data harga, neraca pangan, dan e-Horti untuk mendukung penguatan Early Warning System (EWS). Piloting e-Horti telah dilakukan di 6 kabupaten/kota, mencakup 110 petani dengan luas tanam 55,42 ha.
    • Memperkuat koordinasi TPID melalui HLM, rakor pengendalian harga, dan pemantauan produksi pangan, termasuk penguatan koordinasi pengendalian harga beras bersama Bulog dan Disperindag.
    • Memperkuat komunikasi publik dan edukasi inflasi melalui siaran pers, edukasi masyarakat, serta capacity building peningkatan produktivitas dan perlindungan usaha tani.
    • Melakukan sosialisasi kepada SPPG terkait strategi penyusunan menu MBG yang adaptif terhadap dinamika harga dan ketersediaan pangan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More