Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Viral Siswa SDIT di Bandar Lampung Tidur Siang, Ini Alasan Sekolah

Bandar Lampung
Viral Siswa SDIT di Bandar Lampung Tidur Siang, Ini Alasan Sekolah
Tangkap layar rekaman aktivitas siswa tidur siang di SDIT Pelita Khoirul Ummah, Bandar Lampung. (Dok. SDIT Pelita Khoirul Ummah).
Intinya Sih
  • Video siswa SDIT Pelita Khoirul Ummah Bandar Lampung tidur siang viral; kegiatan itu merupakan bagian program kelas takhossus, bukan aktivitas tambahan.
  • Kelas takhossus berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 WIB dengan target hafalan lima juz; siswa wajib tidur siang sekitar 30 menit setelah makan dan salat.
  • Program yang berjalan tujuh tahun ini terinspirasi pengalaman pandemi, didukung fasilitas matras dan murottal, serta dinilai sekolah meningkatkan fokus belajar dan mengurangi izin sakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Aktivitas siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Pelita Khoirul Ummah, Kota Bandar Lampung menarik perhatian publik. Itu setelah video memperlihatkan para siswa tidur siang di sekolah viral di media sosial (Medsos).

Berdasarkan rekaman diterima IDN Times, video memperlihatkan suasana kegiatan jam istirahat atau tidur siang siswa-siswi SD di dalam ruang kelas. Puluhan siswa berseragam kemeja putih dan celana dan rok merah tampak sedang berbaring dan tidur dengan tenang di atas matras-matras berselimutkan atau beralaskan kain bermotif bunga yang digelar di lantai kelas.

Anak-anak tersebut terekam kamera ponsel tertidur pulas berjejer rapi dari depan hingga belakang di dalam ruang kelas bernuansa warna biru dan putih yang dihiasi berbagai ornamen edukatif, seperti hiasan bertema tata surya, poster-poster, dan tulisan zona literasi.

1. Aktivitas tidur siang dilakukan siswa program kelas takhossus

IMG-20260808-WA0040.jpg
Penampakan sekolah SDIT Pelita Khoirul Ummah, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Terkait konten viral tersebut, Direktur Sekolah Pelita Khoirul Ummah, Ahmad Zaini Aziz mengatakan, aktivitas itu bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari rangkaian program kelas takhossus yang diterapkan sekolah.

Menurutnya, kelas takhossus merupakan program khusus bagi siswa dan orang tua yang memiliki komitmen lebih dalam pembelajaran Alquran di setiap jenjang kelas mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD).

"Kelas takhossus ini tidak diperuntukkan bagi siswa yang dianggap paling unggul secara akademik. Sekolah justru melakukan wawancara dan asesmen bersama orang tua untuk memastikan kesiapan keluarga mendampingi anak dalam mengikuti program tersebut," ujarnya dimintai keterangan, Sabtu (8/8/2026).

Lebih lanjut disebutkan, perbedaan utama kelas takhossus dengan kelas reguler terletak pada target pembelajaran Alquran. Siswa kelas reguler ditargetkan mampu menyelesaikan hafalan tiga juz. Sedangkan siswa kelas takhossus memiliki target hingga lima juz.

2. Tidur siang wajib 30 menit

IMG_20260808_164205.jpg
Tangkap layar rekaman aktivitas siswa tidur siang di SDIT Pelita Khoirul Ummah, Bandar Lampung. (Dok. SDIT Pelita Khoirul Ummah).

Dalam kesehariannya, siswa kelas takhossus mengikuti pembelajaran sejak sekitar pukul 07.10 WIB hingga sore hari. Jika kelas reguler tingkat bawah pulang sekitar pukul 14.00 WIB dan tingkat atas sekitar pukul 15.00 WIB, siswa takhossus baru menyelesaikan kegiatan sekitar pukul 16.00 WIB.

Dikarenakan menjalani aktivitas sejak pagi hingga sore, sekolah menyediakan waktu khusus bagi siswa untuk beristirahat. Sekitar pukul 11.45 WIB, siswa beristirahat, makan, kemudian melaksanakan salat. Setelah itu, mereka dipersiapkan untuk tidur siang.

"Untuk tidurnya kurang lebih 30 menit. Tapi untuk pengondisian sampai kemudian anak bisa bangun kembali, itu kurang lebih 45 menit sampai satu jam," jelas Ahmad.

Setelah bangun, sekitar pukul 14.00 WIB siswa kembali mengikuti pembelajaran, terutama pembelajaran Alquran, kitab, dan kegiatan keagamaan lainnya. "Jadi tidur siang ini sifatnya bukan pilihan bagi siswa kelas takhossus, tapi menjadi bagian wajib dari rangkaian kegiatan," lanjut Zaini.

3. Terinspirasi dari pengalaman pandemik COVID-19

IMG-20260808-WA0039.jpg
Lampung

Zaini mengatakan, penetapan program tersebut berawal dari pengalaman sekolah selama pandemi COVID-19. Saat pembelajaran dilakukan dari rumah, pihak sekolah melihat banyak anak memiliki waktu luang yang tidak selalu digunakan untuk kegiatan positif.

Dari kondisi tersebut muncul gagasan, agar sekolah dapat merancang kegiatan membuat anak tetap aktif dalam aktivitas positif sejak pagi hingga sore. Hasilnya, aktivitas tersebut justru mendapatkan sambutan positif dari wali murid dan masyarakat umum.

Selain memperbanyak pembelajaran Alquran, program full day tersebut juga dinilai membantu mengurangi waktu anak berinteraksi dengan gadget maupun telepon seluler. "Alasan lainnya,karena memang unggulan kami di Quran, maka butuh serius. Qur'an itu enggak bisa kalau porsi belajarnya tidak dibanyakin," ucap Zaini.

Pihak sekolah juga mengaitkan tidur siang dengan kebutuhan istirahat anak setelah beraktivitas sejak pagi. Zaini menyebutkan, tidur siang merupakan salah satu sunah Nabi yang ingin diterapkan dalam keseharian siswa.

"Untuk mendukung kegiatan ini, sekolah menyediakan fasilitas tidur berupa matras atau alas dan kasur di setiap kelas takhossus. Saat waktu tidur tiba, meja dan kursi kelas dipindahkan ke bagian tertentu ruangan. Kami juga memutar murottal dan mengondisikan ruangan agar nyaman untuk tidur dan anak-anak tetap dijaga," lanjut dia.

4. Anak lebih fokus dan jarang sakit

IMG-20260808-WA0041.jpg
Penampakan sekolah SDIT Pelita Khoirul Ummah, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Meski terdengar sederhana, Zaini mengakui penerapan kegiatan tidur siang tersedia tidak selalu mudah pada awalnya, terutama bagi siswa kelas 1 masih beradaptasi dengan pola kegiatan baru. Meski demikian, proses adaptasi biasanya hanya berlangsung sekitar satu hingga dua bulan.

Setelah program berjalan disebut sejak tujuh tahun terakhir, pihak sekolah mengaku melihat sejumlah dampak positif pada siswa. Dari hasil pengamatan, siswa kelas takhossus cenderung memiliki fokus belajar yang lebih baik. Termasuk relatif jarang izin sakit hingga tidak masuk sekolah.

Tak hanya itu, ia juga mencontohkan hasil ujian tahfiz dilakukan sekolah terhadap para siswa kelas 3 dan kelas 6 menunjukan hasil terbaik justru banyak berasal dari kelas takhossus. "Kalau dibilang apakah anak-anak takhossus itu yang terbaik? Enggak juga. Tapi didominasi anak-anak yang terbaik juga dari takhossus," katanya.

Selain itu, meski porsi pelajaran umum di kelas takhossus secara hitungan kurikulum lebih sedikit karena waktu lebih banyak dialokasikan untuk Alquran, siswa tetap mampu mengikuti bahkan mengungguli siswa kelas reguler dalam sejumlah aspek akademik.

"Kalau yang tidur siang memang di TK dan SD. Kegiatan ini juga sebenarnya dudah tujuh tahun sekolah lakukan, jadi ini bukan program baru sebenarnya tapi memang akhir-akhir ini viralnya," imbuh Zaini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More