Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Gen Z Cemas Memikirkan Masa Depan? Ini 5 Penyebabnya

Bandar Lampung
4 min read
Kenapa Gen Z Cemas Memikirkan Masa Depan? Ini 5 Penyebabnya
ilustrasi cemas, khawatir (magnific.com/azerbaijan_stockers)
  • Gen Z kerap cemas menghadapi masa depan karena tekanan sukses di usia muda dan kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan tampilan kehidupan teman sebaya di media sosial.
  • Ketidakpastian dunia kerja, perubahan kebutuhan keterampilan, perkembangan AI, serta biaya hidup membuat banyak anak muda meragukan keamanan finansial dan prospek karier mereka.
  • Keputusan dewasa yang dianggap menentukan, seperti karier, pendidikan, pasangan, dan tempat tinggal, ditambah kecenderungan memendam kekhawatiran sendiri, dapat memperberat beban emosional Gen Z.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa cemas ketika memikirkan masa depan, padahal hari esok saja belum tentu bisa diprediksi? Memikirkan pekerjaan, penghasilan, hubungan asmara, hingga kemungkinan memiliki rumah sendiri terkadang justru membuat pikiran terasa penuh.

Perasaan tersebut cukup dekat dengan kehidupan generasi Z. Di tengah perkembangan teknologi, persaingan dunia kerja, dan perubahan sosial begitu cepat, banyak anak muda merasa harus segera mencapai berbagai hal agar tidak tertinggal dari orang lain.

Belum lagi media sosial setiap hari memperlihatkan pencapaian teman sebaya. Ada yang sudah memiliki pekerjaan mapan, membangun bisnis, menikah, bahkan membeli rumah di usia muda. Tanpa disadari, hal tersebut bisa memunculkan perasaan tertinggal dan mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Kenapa Gen Z sering merasa cemas ketika memikirkan masa depan? Berikut lima kemungkinan penyebabnya.

  1. 1. Tekanan untuk sukses di usia muda

    ilustrasi cemas
    ilustrasi cemas (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Salah satu hal bisa memicu kecemasan Gen Z adalah tekanan untuk mencapai kesuksesan dalam waktu cepat. Ada anggapan seseorang harus sudah memiliki pekerjaan bagus, penghasilan stabil, dan kehidupan mapan sebelum memasuki usia 30 tahun.

    Standar tersebut terkadang membuat anak muda merasa harus segera mencapai berbagai target kehidupan. Ketika pencapaiannya belum sesuai harapan, muncul perasaan gagal meskipun sebenarnya masih memiliki banyak kesempatan untuk berkembang.

    Padahal, setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang menemukan pekerjaan impian pada usia 22 tahun, tetapi ada pula yang baru menemukan arah karier setelah melewati berbagai pengalaman.

    Memaksakan diri mengikuti standar kesuksesan orang lain justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati proses pertumbuhan dirinya sendiri.

  2. 2. Terlalu sering membandingkan diri di media sosial

    ilustrasi cemas menunggu notifikasi pesan
    ilustrasi cemas menunggu notifikasi pesan (pexels.com/ https://kaboompics.com/)

    Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu dekat. Dalam beberapa menit, seseorang bisa melihat teman sebaya mendapatkan promosi pekerjaan, berlibur ke luar negeri, membeli kendaraan, atau membagikan pencapaian pribadi.

    Masalahnya, apa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Orang lebih sering membagikan momen menyenangkan dibandingkan kegagalan, kesulitan finansial, atau masalah pribadi yang sedang dihadapi.

    Jika terus-menerus membandingkan kehidupan sendiri dengan pencapaian orang lain, seseorang bisa merasa hidupnya berjalan terlalu lambat.

    Kebiasaan tersebut juga dapat memunculkan pertanyaan seperti apakah dirinya sudah cukup sukses, apakah pilihan kariernya sudah tepat, atau apakah kehidupannya akan bisa menyamai orang lain.

  3. 3. Ketidakpastian dunia kerja dan kondisi ekonomi

    ilustrasi cemas memikirkan penilaian orang
    ilustrasi cemas memikirkan penilaian orang (pexels.com/ Vitaly Gariev)

    Masa depan pekerjaan menjadi salah satu sumber kekhawatiran bagi generasi muda. Persaingan mendapatkan pekerjaan, kebutuhan keterampilan terus berubah, hingga perkembangan kecerdasan buatan membuat sebagian Gen Z merasa harus selalu meningkatkan kemampuan.

    Di sisi lain, mendapatkan pekerjaan belum tentu langsung memberikan rasa aman secara finansial. Biaya hidup, harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, dan kebutuhan pribadi juga menjadi pertimbangan.

    Situasi tersebut bisa membuat anak muda mempertanyakan apakah penghasilan yang dimiliki sekarang cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa tahun mendatang. Kekhawatiran semakin besar ketika seseorang belum mempunyai pekerjaan tetap atau masih berusaha membangun karier dari awal.

    Karena itu, kecemasan mengenai masa depan tidak selalu muncul akibat terlalu banyak berpikir. Kondisi ekonomi dan ketidakpastian pekerjaan juga bisa menjadi faktor yang memengaruhi perasaan tersebut.

  4. 4. Takut salah mengambil keputusan hidup

    ilustrasi cemas, khawatir
    ilustrasi cemas, khawatir (magnific.com/Drazen Zigic)

    Memasuki usia dewasa berarti seseorang mulai dihadapkan pada berbagai keputusan penting. Mulai dari memilih pekerjaan, melanjutkan pendidikan, menentukan pasangan, hingga memutuskan tempat tinggal.

    Setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi jangka panjang. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya terlalu lama mempertimbangkan berbagai kemungkinan karena takut membuat pilihan yang salah.

    Misalnya, seseorang ingin pindah pekerjaan karena merasa tidak berkembang. Namun, ia khawatir kehilangan penghasilan tetap jika keputusan tersebut ternyata tidak berjalan sesuai harapan.

    Begitu pula ketika ingin melanjutkan pendidikan atau memulai bisnis. Ada keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, tetapi muncul ketakutan terhadap risiko kegagalan.

    Jika terus dibiarkan, kebiasaan memikirkan seluruh kemungkinan buruk bisa membuat seseorang kesulitan mengambil langkah nyata.

    Padahal, tidak semua keputusan harus menghasilkan sesuatu yang sempurna. Sebagian keputusan justru menjadi pengalaman yang membantu seseorang memahami apa yang benar-benar diinginkan.

  5. 5. Merasa harus menghadapi semuanya sendirian

    Anxiety
    Ilustrasi cemas. (unsplash.com/Joice Kelly)

    Tidak semua orang memiliki lingkungan yang nyaman untuk membicarakan kekhawatiran mengenai masa depan. Ada yang merasa harus terlihat kuat di hadapan keluarga, teman, maupun pasangan.

    Sebagian lainnya memilih memendam masalah karena khawatir dianggap berlebihan atau tidak mampu menghadapi kehidupan dewasa.

    Ketika berbagai pikiran tersebut terus disimpan sendiri, beban emosional bisa terasa semakin berat. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak mengganggu bahkan dapat memicu kekhawatiran berlebihan.

    Padahal, membicarakan ketakutan dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

    Meminta bantuan juga bukan berarti seseorang lemah. Justru, mengenali batas kemampuan diri merupakan bagian penting dari proses menjadi dewasa.

    Masa depan memang tidak selalu bisa dipastikan. Ada banyak hal yang berada di luar kendali manusia, termasuk kesempatan, perubahan kondisi ekonomi, dan keputusan orang lain.

    Namun, bukan berarti kehidupan harus dijalani dengan terus-menerus mencemaskan sesuatu yang belum terjadi. Setiap orang mempunyai waktu dan jalannya masing-masing untuk bertumbuh.

    Kamu tidak harus memiliki seluruh jawaban hari ini. Terkadang, mengambil satu langkah kecil dengan penuh kesadaran sudah menjadi awal yang cukup baik untuk menghadapi masa depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More