Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Potensi Desa Lampung 2025: Dominasi Pertanian hingga Tantangan Layanan

ilustrasi laporan kerja (pexels.com/Lukas)
ilustrasi laporan kerja (pexels.com/Lukas)
Intinya sih...
  • Struktur ekonomi desa/kelurahan di Lampung didominasi oleh sektor pertanian, namun ada juga desa berbasis industri dan jasa
  • Infrastruktur komunikasi sudah terjangkau, tetapi masih ada tantangan lingkungan dan kerawanan bencana di beberapa wilayah
  • Ketersediaan layanan pendidikan dan kesehatan relatif telah tersebar hingga tingkat desa/kelurahan, namun masih ada kesenjangan akses layanan kesehatan tingkat lanjut
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melalui Potensi Desa (Podes) 2025, pembangunan desa/kelurahan di Lampung digambarkan melalui potensi ekonomi, kondisi infrastruktur, hingga tantangan lingkungan dan kebencanaan. Laporan Potensi Desa merupakan kegiatan pendataan menyajikan informasi mengenai karakteristik wilayah, potensi, serta kondisi pelayanan dasar di desa/kelurahan.

Data ini digunakan sebagai dasar analisis kewilayahan untuk perencanaan pembangunan desa dan kelurahan. Melalui Podes 2025, tergambar struktur ekonomi desa/kelurahan masih didominasi oleh sektor pertanian.

Di sisi lain juga terlihat adanya ketimpangan akses layanan dasar serta kerentanan terhadap bencana di sejumlah wilayah. Informasi ini dinilai strategis untuk perumusan kebijakan pembangunan agar lebih tepat sasaran, berkeadilan, dan berkelanjutan di wilayah perdesaan Lampung.

1. Struktur ekonomi dan potensi desa/kelurahan berdasarkan data Podes 2025

ilustrasi ekonomi (pexels.com/crazy motions)
ilustrasi ekonomi (pexels.com/crazy motions)

Podes 2025 menunjukkan struktur ekonomi desa/kelurahan di Provinsi Lampung masih didominasi sektor pertanian. Sebagian besar desa/kelurahan menggantungkan mata pencaharian utama penduduk pada kegiatan pertanian, menggambarkan karakter agraris kuat di wilayah perdesaan Lampung.

Kondisi ini menegaskan peran sektor pertanian sebagai penopang ekonomi lokal dan sumber penghidupan mayoritas masyarakat desa. Di sisi lain, ada juga desa/kelurahan berbasis industri dan jasa meskipun jumlahnya terbatas, namun tetap menunjukkan adanya proses transformasi ekonomi, terutama di wilayah memiliki akses infrastruktur dan konektivitas lebih baik.

Potensi ekonomi desa juga terlihat dari keberadaan produk barang unggulan di ratusan desa/kelurahan sebagai wujud pemanfaatan sumber daya dan keunikan lokal.

Pengembangan potensi tersebut dipengaruhi faktor pendukung seperti akses pembiayaan dan infrastruktur. Sebagian besar desa/kelurahan telah memiliki warga penerima fasilitas pembiayaan usaha, khususnya Kredit Usaha Rakyat (KUR), menunjukkan peran akses permodalan formal dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa.

2. Infrastruktur komunikasi, lingkungan, dan kerawanan bencana

Ilustrasi bencana longsor. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi bencana longsor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari aspek infrastruktur komunikasi, hampir seluruh desa/kelurahan di Provinsi Lampung telah terjangkau sinyal dan akses internet. Kondisi ini menjadi modal penting bagi percepatan pembangunan ekonomi dan sosial, termasuk digitalisasi layanan, akses informasi, dan pemasaran produk desa.

Namun demikian, masih terdapat desa/kelurahan dengan kualitas sinyal lemah sehingga membatasi pemanfaatan teknologi informasi secara optimal sehingga peningkatan kualitas jaringan komunikasi menjadi agenda penting pembangunan desa di era digital.

Podes 2025 juga mencatat berbagai tantangan lingkungan dan kebencanaan dihadapi desa/kelurahan di Lampung. Kasus pencemaran air, tanah, dan udara di sejumlah wilayah menunjukkan adanya tekanan terhadap lingkungan hidup berpotensi mengganggu keberlanjutan pembangunan desa.

Selain itu, kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi juga masih dialami ratusan desa/kelurahan menunjukkan tingkat kerawanan bencana relatif tinggi di beberapa wilayah. Hal itu menegaskan pentingnya integrasi mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan dalam perencanaan pembangunan desa.

3. Ketersediaan layanan pendidikan, kesehatan, dan implikasi kebijakan pembangunan

Ilustrasi layanan kesehatan. (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi layanan kesehatan. (IDN Times/Arief Rahmat)

Pada aspek pelayanan dasar, ketersediaan infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Provinsi Lampung relatif telah tersebar hingga tingkat desa/kelurahan. Jumlah satuan pendidikan dasar dan menengah cukup besar mencerminkan upaya pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat.

Keberadaan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit juga menjadi penopang utama pelayanan kesehatan masyarakat. Namun konsentrasi fasilitas kesehatan rujukan di wilayah perkotaan menunjukkan masih adanya kesenjangan spasial dalam akses layanan kesehatan tingkat lanjut.

Secara keseluruhan, Podes 2025 memberikan gambaran komprehensif mengenai potensi, tantangan, dan ketimpangan pembangunan desa/kelurahan di Lampung. Data ini cukup penting untuk mendukung kebijakan pembangunan berorientasi pada penguatan potensi lokal, pengurangan risiko lingkungan dan bencana, serta peningkatan kualitas layanan dasar di desa-desa.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More

Ahli Pidana Nilai SP3 Polda Lampung Perkara PT San Xiong Steel Sah

09 Jan 2026, 09:11 WIBNews