Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You
    It helps you see more of our articles when you search on Google
    Pertanian Lampung Sumbang Rp156 Triliun, Hilirisasi Baru Rp60 Triliun
    Ilustrasi pertanian (pexels.com/Quang Nguyen Vinh)
    • Sektor pertanian menyumbang 26–28 persen PDRB Lampung atau sekitar Rp156 triliun, tetapi baru Rp50–60 triliun yang masuk proses hilirisasi.
    • Pemprov Lampung mendorong pengolahan komoditas lokal agar tidak dijual mentah, sekaligus menarik investasi melalui kawasan industri, insentif, energi, serta konektivitas logistik.
    • Indeks Persaingan Usaha Lampung mencapai 5,4, melampaui indeks nasional 5,01; KPPU akan menyosialisasikan kebijakan persaingan untuk mendukung iklim investasi.
    This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

    Bandar Lampung, IDN Times - Sektor pertanian menyumbang sekitar 26–28 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung, dengan nilai sekitar Rp156 triliun. Namun, dari nilai tersebut, baru sekitar Rp50 triliun–Rp60 triliun yang telah masuk ke proses hilirisasi.

    Hilirisasi adalah proses mengolah bahan mentah menjadi produk yang lebih bernilai sebelum dijual. "Karena Lampung ini daerah sektor pertanian, maka arahnya adalah menghilirisasi pertanian dan komoditas-komoditas yang ada di kita," kata Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, Sabtu (19/9/2026).

    1. Komoditas dihasilkan di daerah tidak hanya keluar dalam bentuk bahan mentah

    ilustrasi pertanian singkong Thailand (unsplash.com/Daniel Dan)

    Merujuk hal itu menurut gubernur, Pemprov Lampung ingin memastikan komoditas yang dihasilkan di daerah tidak hanya keluar dalam bentuk bahan mentah. Hilirisasi di daerah penghasil dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar kontribusi ekonomi yang tinggal di Lampung.

    Ia mencontohkan, komoditas singkong ketika dijual sebagai bahan mentah dengan harga sekitar Rp2.000, nilainya akan meningkat ketika diproses menjadi tapioka yang disebut mencapai sekitar Rp10.000.

    "Ketika tapiokanya dibuat di sini, maka PDRB yang bertambah bukan hanya dari komoditas awal, tetapi juga dari proses industrinya," ujar Mirza sapaan akrab gubernur.

    Gubernur menambahkan, arah pembangunan ekonomi Lampung saat ini berkaitan erat dengan upaya meningkatkan nilai tambah komoditas melalui hilirisasi. Hal tersebut dinilai relevan dengan karakteristik ekonomi Lampung yang masih kuat ditopang sektor pertanian.

    2. Apa saja keunggulan Lampung untuk investasi?

    Ilustrasi pertanian (pexels.com/Jeffry Surianto)

    Mirza menyatakan, Pemprov Lampung juga melihat persaingan usaha, investasi, hilirisasi, dan penguatan rantai pasok sebagai bagian yang saling berkaitan. Persaingan usaha yang sehat sebagai salah satu fondasi untuk menciptakan kepastian berusaha, menarik investasi, dan mempercepat hilirisasi komoditas unggulan daerah.

    "Pertumbuhan ekonomi yang paling baik adalah pertumbuhan yang didorong sektor swasta. Sektor swasta tumbuh dengan adanya investasi, dan investasi membutuhkan kepastian usaha yang stabil," tegas Mirza.

    Karena itu, Pemprov Lampung sedang melihat sejumlah faktor yang menentukan daya saing daerah dalam menarik industri pengolahan. Mulai dari ketersediaan kawasan industri, insentif investasi, energi, hingga biaya dan konektivitas logistik.

    Apalagi menurut gubernur, Lampung memiliki keunggulan berupa ketersediaan bahan baku, posisi geografis, serta akses terhadap jalur logistik. Namun, keunggulan tersebut perlu ditopang ekosistem industri agar investor memiliki kepastian dalam menjalankan usaha.

    "Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana menjadikan Provinsi Lampung sebagai provinsi yang kompetitif untuk investasi, khususnya investasi di sektor hilirisasi," ujarnya.

    3. Pembangunan ekonomi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan angka pertumbuhan

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pexels.com/Monstera Production)

    Mirza menyatakan, bagi pemerintah daerah, pembangunan ekonomi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan angka pertumbuhan. Tetapi juga memastikan kekuatan komoditas Lampung dapat diolah menjadi nilai tambah yang lebih besar di daerah.

    Strategi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemprov Lampung membangun fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat melalui investasi swasta, industri pengolahan, dan pemanfaatan keunggulan komparatif daerah.

    Gubernur juga menilai, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Republik Indonesia berperan membantu pemerintah daerah melihat dan membangun ekosistem dunia usaha yang kompetitif.

    "KPPU adalah salah satu instrumen pemerintah yang sangat strategis untuk membantu kami melihat ekosistem dunia usaha, persaingan usaha, dan bagaimana semuanya demi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabil, tumbuh, dan berkelanjutan," ujarnya.

    4. Indeks Persaingan Usaha Lampung 5,4

    ilustrasi investasi saham (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

    Terkait hal itu, Komisioner KPPU RI Fanshurullah Asa menyampaikan, KPPU tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah, melakukan advokasi, serta mendorong kemitraan usaha.

    Hasil pengukuran Indeks Persaingan Usaha Lampung disebut berada pada angka 5,4, sedikit di atas indeks nasional sebesar 5,01 berdasarkan hasil pengukuran yang disampaikan KPPU. Fanshurullah berpendapat, indeks tersebut menjadi salah satu indikator yang berkaitan dengan upaya menciptakan iklim usaha yang mendukung investasi.

    Untuk itu, KPPU juga akan melakukan sosialisasi sistem analisis daftar periksa kebijakan persaingan usaha. Instrumen tersebut ditujukan agar kebijakan pemerintah daerah sejak awal memperhatikan prinsip persaingan usaha dan tidak menimbulkan ketentuan yang berpotensi membatasi persaingan.

    Fanshurullah mengatakan KPPU akan mengundang unsur Pemprov Lampung dan pemerintah kabupaten/kota, termasuk perangkat daerah yang berkaitan dengan perdagangan, perekonomian, serta bidang hukum, dalam kegiatan sosialisasi tersebut.

    Curated For You

    Editorial Team

    Related Article