Mitigasi bencana dengan pendekatan beragam (freepik.com/freepik)
Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Pertiwi Rahayu, menekankan, infrastruktur merupakan tulang punggung ketangguhan wilayah, terutama untuk mendukung konektivitas dan efektivitas sistem peringatan dini. Tanpa konektivitas yang memadai, kemampuan wilayah dalam menghadapi dan merespons bencana akan berkurang.
Namun, kesiapsiagaan juga membutuhkan perencanaan berbasis data dan berorientasi pada kemanusiaan. Sebelum bencana terjadi, pendekatan berbasis risiko (risk-based) diperlukan untuk memperhitungkan ancaman yang mungkin muncul.
Setelah bencana, pendekatan berbasis dampak dan kerusakan (consequence/damage-based) dibutuhkan untuk menilai perubahan tingkat kerentanan serta kapasitas daerah. “Kalau hanya mengandalkan risk-based, performa daerah itu jelas berbeda,” kata Harkunti.
Menurutnya, kedua pendekatan tersebut perlu digunakan secara beriringan untuk mendukung pembangunan kembali yang lebih baik dan berkelanjutan (build back better and sustainable). Ia juga mengingatkan ancaman berfrekuensi rendah, tetapi berpotensi menimbulkan dampak besar, tetap perlu diperhitungkan dalam perencanaan mitigasi.
Harkunti membagikan pengalamannya dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Tapanuli Selatan. Ia juga menyoroti berbagai bencana hidrometeorologi dan klimatologi yang terjadi di Indonesia dalam setahun terakhir, mulai dari banjir, banjir bandang, gerakan tanah, hingga cuaca ekstrem.