Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).
Kondisi laut juga perlu dilihat bersama aktivitas Gunung Anak Krakatau. BMKG masih melakukan pemantauan terhadap dampak erupsi Anak Krakatau terhadap atmosfer dan laut di sekitar Selat Sunda.
Perlu digarisbawahi, erupsi Anak Krakatau tidak secara otomatis menyebabkan gelombang tinggi. Tinggi gelombang terutama ditentukan oleh angin, kondisi atmosfer, dan dinamika laut.
Namun, aktivitas vulkanik membuat pemantauan kawasan Selat Sunda menjadi lebih penting, terutama bagi pelayaran dan nelayan.
BMKG juga melaporkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada lapisan atmosfer tertentu bergerak hingga mencakup Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia. Artinya, untuk nelayan atau kapal yang beroperasi di sekitar Selat Sunda, selain memperhatikan tinggi gelombang, perlu memantau pula jarak pandang dan perkembangan sebaran abu vulkanik.
5. Data lengkap kondisi perairan Lampung
Wilayah Perairan | Kondisi Gelombang | Perkiraan Tinggi | Keterangan |
|---|
Perairan Barat Lampung | Sedang | 1,25–2,5 m | Perlu waspada bagi kapal kecil |
Samudra Hindia Barat Lampung | Tinggi | 2,5–4 m | Berisiko untuk kapal kecil/nelayan |
Perairan Timur Lampung Bagian Selatan | Rendah–sedang | sekitar 0,5–1,5 m | Relatif lebih tenang |
Teluk Lampung | Rendah–sedang | sekitar 0,5–2,5 m | Waspadai peningkatan lokal |
Selat Sunda bagian selatan | Sedang–tinggi | hingga sekitar 3 m | Perlu kewaspadaan, terutama kapal kecil |