Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gunung Anak Krakatau Erupsi 15 Kali dalam Semalam, Status Siaga

Kab. Lampung Selatan
3 min read
Gunung Anak Krakatau Erupsi 15 Kali dalam Semalam, Status Siaga
Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami erupsi 14 kali, Sabtu (31/10/2026). (Dok. Magma Indonesia).
  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi 15 kali pada 31 Oktober 2026 antara pukul 18.30-23.23 WIB; letusan tidak terlihat, tetapi aktivitas kegempaan terekam.

  • Pemantauan hingga 1 November pagi mencatat gempa letusan, tremor harmonik, gempa frekuensi rendah, dan microtremor overscale; asap kawah putih-kelabu mencapai 50-200 meter.

  • Status Gunung Anak Krakatau tetap Level III Siaga. Masyarakat dilarang masuk radius lima kilometer dari pusat erupsi dan diminta mengikuti arahan BPBD.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times – Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, mengalami erupsi sebanyak 15 kali, Sabtu (31/10/2026) malam.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan erupsi pertama terjadi pada pukul erupsi dalam rentang waktu hampir lima jam, mulai pukul 18.30 hingga 23.23 WIB.

Meski erupsi terjadi berulang kali, visual letusan tidak teramati. Namun, aktivitas kegempaan masih terekam melalui peralatan pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 18.30 WIB. Visual letusan tidak teramati. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," kata Suwarno, Minggu (1/11/2026).

  1. 1. Aktivitas seismik

    IMG-20261101-WA0017.jpg
    Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Dok. Magma Indonesia)

    Rentetan erupsi tersebut tercatat pada pukul 19.15, 19.32, 19.38, 19.42, 19.54, 19.59, 20.02, 20.06, 20.11, 20.18, 20.24, 20.39, 20.50, hingga pukul 23.23 WIB.

    Suwarno menjelaskan sejumlah erupsi juga menunjukkan aktivitas seismik yang cukup kuat. Pada pukul 19.59 WIB, misalnya, amplitudo maksimum tercatat 51 milimeter dengan durasi 70 detik.

    Kemudian, erupsi pukul 20.02 WIB memiliki amplitudo 55 milimeter dengan durasi 117 detik. Sementara pada pukul 20.06 WIB, amplitudo maksimum mencapai 51 milimeter dengan durasi 156 detik.

    "Adapun erupsi pukul 20.24 WIB mencatat amplitudo 54 milimeter dengan durasi mencapai 271 detik," jelasnya.

  2. 2. Tremor menerus tercatat melampaui skala alat

    Petugas PVMBG bersama BKSDA Bengkulu-Lampung melakukan perbaikan dan pemeliharaan alat pemantauan Gunung Anak Krakatau
    Petugas PVMBG bersama BKSDA Bengkulu-Lampung melakukan perbaikan dan pemeliharaan alat pemantauan Gunung Anak Krakatau. (Dok. BKSDA Lampung).

    Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung berdasarkan laporan pengamatan periode 1 November 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

    Suwarno mengungkapkan, dalam periode tersebut, petugas mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 56 milimeter dan durasi 5.468 detik. Selain itu, terekam satu kali tremor harmonik dengan amplitudo 57 milimeter dan durasi 3.989 detik.

    Kegempaan lainnya meliputi tiga kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 25-36 milimeter dan durasi 8-14 detik. Terdapat pula satu kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 27 milimeter dan durasi tujuh detik.

    "Tremor menerus atau microtremor terekam dengan amplitudo 10-60 milimeter, dominan 40 milimeter," ujarnya.

    Petugas juga melaporkan tremor menerus dalam kondisi overscale atau melampaui skala rekaman alat pemantauan.

    Secara visual, asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal. Ketinggiannya berkisar 50-200 meter di atas puncak gunung.

  3. 3. Masyarakat dilarang mendekati gunung dalam radius 5 kilometer

    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan
    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung).

    Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak memasuki kawasan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

    "Larangan aktivitas juga berlaku dalam radius satu kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau," ucap Suwarno.

    Sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan.

    Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.

    Masyarakat masih dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti rekomendasi keselamatan dan arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More