Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Merasa Gagal di Usia 20-an? Ini Cara Menghadapi Tekanannya

Bandar Lampung
4 min read
Merasa Gagal di Usia 20-an? Ini Cara Menghadapi Tekanannya
Ilustrasi gagal mengevaluasi kesalahan (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Tekanan di usia 20-an kerap muncul dari perbandingan dengan pencapaian teman sebaya dan tuntutan keluarga, padahal setiap orang memiliki perjalanan serta linimasa berbeda.
  • Hadapi emosi kecewa atau cemas dengan mengenali pemicunya, menulis jurnal, atau bercerita kepada orang tepercaya; bantuan profesional dapat dipertimbangkan bila tekanan mengganggu aktivitas.
  • Tetapkan tujuan realistis melalui langkah kecil, hargai diri di luar status dan pencapaian, serta bangun lingkungan suportif sambil menjaga istirahat, aktivitas fisik, dan hubungan sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Usia 20-an sering dianggap sebagai masa terbaik untuk mengejar mimpi, membangun karier, menemukan pasangan, hingga mencapai kemandirian finansial. Namun, kenyataannya, fase ini juga bisa menjadi masa yang penuh tekanan.

Melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan tetap, menikah, atau membeli rumah terkadang membuat kita merasa tertinggal. Belum lagi pertanyaan keluarga tentang pekerjaan dan masa depan yang bisa membuat pikiran semakin terbebani.

Jika kamu pernah merasa gagal di usia 20-an, ingatlah setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Daripada terus menyalahkan diri sendiri, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi tekanan tersebut.

  1. 1. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

    orang
    Ilustrasi membandingkan diri (magnific.com/magnific)

    Media sosial sering membuat kita merasa kehidupan orang lain jauh lebih baik. Kita melihat pencapaian mereka, tetapi tidak selalu mengetahui perjuangan, kegagalan, dan masalah yang mereka hadapi.

    Membandingkan diri secara terus-menerus bisa membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai pencapaian sendiri. Cobalah mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan teman sebaya. Fokuslah pada perkembangan diri, sekecil apa pun kemajuannya.

  2. 2. Pahami setiap orang punya linimasa berbeda

    ilustrasi saling memahami perasaan (pexels.com/Mikhail Nilov)
    ilustrasi saling memahami perasaan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Tidak semua orang harus sukses di usia 25 tahun, menikah sebelum 30 tahun, atau memiliki tabungan besar pada usia tertentu. Ada orang yang menemukan pekerjaan impian lebih cepat, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk mencoba berbagai hal sebelum menemukan jalan yang sesuai.

    Keterlambatan mencapai sesuatu bukan berarti kamu gagal. Bisa jadi, kamu sedang menjalani proses yang memang membutuhkan waktu lebih panjang.

    Daripada terpaku pada target usia, buatlah tujuan yang realistis sesuai kondisi dan kemampuanmu saat ini.

  3. 3. Beri ruang untuk merasakan emosi

    Ilustrasi emosi merasa terkuras
    Ilustrasi emosi merasa terkuras (pexels.com/Nausicaa Pellei)

    Merasa kecewa, sedih, cemas, atau takut menghadapi masa depan merupakan pengalaman yang wajar. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat ketika keadaan sedang tidak sesuai harapan.

    Alih-alih menyangkal perasaan tersebut, cobalah mengenali apa yang sebenarnya membuatmu tertekan. Apakah karena pekerjaan yang belum stabil, masalah keuangan, tuntutan keluarga, atau ekspektasi pribadi yang terlalu tinggi?

    Menuliskan perasaan dalam jurnal atau bercerita kepada orang yang dipercaya bisa membantu kamu memahami apa yang sedang dihadapi. Jika tekanan berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan mencari bantuan profesional.

  4. 4. Pecah tujuan besar menjadi langkah kecil

    ilustrasi tujuan terlalu besar di awal (freepik.com/ijeab)
    ilustrasi tujuan terlalu besar di awal (freepik.com/ijeab)

    Keinginan untuk sukses terkadang membuat kita menetapkan terlalu banyak target sekaligus. Kita ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan penghasilan, melanjutkan pendidikan, dan memperbaiki kehidupan pribadi dalam waktu bersamaan.

    Ketika semuanya terasa sulit dicapai, kita bisa kehilangan motivasi. Untuk itu, cobalah membagi tujuan besar menjadi langkah-langkah sederhana.

    Jika ingin mendapatkan pekerjaan, misalnya, kamu bisa memulai dengan memperbarui CV, mempelajari keterampilan baru, atau mengirim lamaran secara konsisten. Kemajuan kecil tetap berarti. Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup dalam satu waktu.

  5. 5. Belajar menghargai diri di luar pencapaian

    Seorang wanita sedang menggunakan mahkota dari bunga.
    Ilustrasi Quotes Self-Esteem untuk Menghargai Diri dengan Penuh Kasih. (pexels.com/IRINA LYADOVA)

    Nilai dirimu tidak hanya ditentukan oleh jabatan, gaji, jumlah tabungan, atau status hubungan. Kamu tetap berharga meskipun saat ini belum mencapai hal-hal yang diharapkan.

    Terkadang, kita terlalu fokus mengejar sesuatu hingga lupa menghargai usaha yang sudah dilakukan. Padahal, bertahan melewati masa sulit, berani mencoba kembali, dan belajar dari kesalahan juga merupakan bagian dari perkembangan diri.

    Cobalah mengubah cara berbicara kepada diri sendiri. Daripada mengatakan, "Aku tidak berguna karena belum sukses," katakan, "Aku memang belum sampai di tujuan, tetapi aku masih bisa belajar dan mencoba lagi."

    Bukan berarti kamu harus berhenti berusaha. Sebaliknya, menghargai diri sendiri bisa membantu kamu menjalani proses dengan lebih sehat.

  6. 6. Bangun lingkungan yang mendukung

    Ilustrasi gak menghargai diri sendiri (pexels.com/Vlada Karpovich)
    Ilustrasi gak menghargai diri sendiri (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Lingkungan memiliki pengaruh terhadap cara kita memandang diri sendiri. Jika terus berada di sekitar orang yang meremehkan pilihan hidup atau membandingkan pencapaian, tekanan yang dirasakan bisa semakin besar.

    Cobalah membangun hubungan dengan orang-orang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Kamu juga tidak perlu menceritakan seluruh persoalan kepada semua orang.

    Selain itu, jaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, aktivitas fisik, dan hubungan sosial. Ketika menghadapi tekanan, kebutuhan dasar seperti tidur cukup dan makan teratur sering kali justru terabaikan.

    Kamu tidak harus menjalani semuanya sendirian. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan salah satu cara untuk merawat diri.

    Merasa gagal di usia 20-an bukan berarti masa depanmu sudah tertutup. Fase ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri, memahami prioritas, dan belajar menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

    Berhentilah mengukur keberhasilan hanya berdasarkan pencapaian orang lain. Berikan ruang untuk merasakan emosi, tetapkan tujuan yang realistis, dan hargai setiap kemajuan yang berhasil kamu buat.

    Kamu tidak harus memiliki seluruh jawaban tentang masa depan sekarang. Tidak apa-apa jika perjalananmu berbeda dari orang lain. Selama kamu terus belajar dan mengambil langkah sesuai kemampuan, masih ada banyak kesempatan untuk bertumbuh dan membangun kehidupan yang kamu inginkan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More