Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karbon Hutan dan Mangrove Potensi Ekonomi Blue Green Lampung
ilustrasi ekosistem karbon biru (pexels.com/Taryn Elliott)
  • Lampung menggagas ekonomi biru-hijau melalui Nilai Ekonomi Karbon dari hutan, perhutanan sosial, mangrove, dan pesisir dalam rapat Tim Koordinasi Inisiatif Karbon Hutan.
  • Sekda Marindo Kurniawan meminta tim tidak sekadar terbentuk secara administratif, melainkan bekerja sesuai regulasi, menghadirkan inovasi, dan memberi manfaat nyata bagi daerah serta masyarakat.
  • Roadmap memperluas cakupan karbon ke hutan, kebun, agroforestri, mangrove, rawa, sungai, pesisir, limbah pertanian, serta silvofishery untuk menghubungkan konservasi dan peluang ekonomi masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Lampung Economic Blue Green melalui optimalisasi potensi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dari sektor kehutanan, perhutananan sosial, mangrove, hingga ekosistem pesisir sedang digagas.

Konsep ekonomi biru-hijau tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Tim Koordinasi Inisiatif Karbon Hutan Provinsi Lampung, yang berlangsung di Ruang Sekretaris Daerah, Kantor Gubernur Lampung, Rabu (16/9/2026).

1. Tim dituntut menghadirkan inisiatif dan inovasi

ILustrasi inovasi dalam berbisnis (Pixabay)

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan mengatakan, pengembangan inisiatif karbon hutan tidak boleh berhenti pada pembentukan tim melalui keputusan gubernur. Tim tersebut harus bekerja sesuai tugas dan menghasilkan keluaran yang memberikan manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

“Esensinya adalah bagaimana tim yang dibentuk ini bukan sekadar SK Gubernur, bukan sebuah dokumen, tetapi benar-benar bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing,” ujar Marindo.

Menurutnya, seluruh pelaksanaan program harus berlandaskan regulasi yang berlaku, termasuk peraturan pemerintah dan peraturan menteri terkait. Disisi lain, tim juga dituntut menghadirkan inisiatif dan inovasi agar pengembangan karbon memberikan dampak nyata bagi Lampung.

2. Mengintegrasikan pemanfaatan dan perlindungan ekosistem daratan serta laut

ilustrasi lautan luas (pexels.com/Kellie Churchman)

Dalam pembahasan, cakupan inisiatif karbon juga tidak hanya diarahkan pada ekosistem hutan. Potensi karbon pada kawasan mangrove dan ekosistem pesisir turut dipertimbangkan dalam pendekatan ekonomi biru-hijau.

Konsep ekonomi biru-hijau mengintegrasikan pemanfaatan dan perlindungan ekosistem daratan serta laut untuk mendorong kesejahteraan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. “Lampung dinilai memiliki peluang dalam pengembangan Nilai Ekonomi Karbon, terutama melalui hutan, perhutananan sosial, mangrove, dan ekosistem pesisir,” ujar Marindo.

Karena itu, pengembangan Lampung Economic Blue Green diarahkan melalui pendekatan terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak, inovasi pembiayaan, serta partisipasi masyarakat.

3. Peluang ekonomi karbon tidak hanya terdapat di kawasan hutan

ilustrasi hutan berkabut (pixabay.com/mila-del-monte)

Ketua Harian Tim Inisiatif Karbon Lampung, Anshori Djausal mengatakan perubahan cakupan diperlukan karena peluang ekonomi karbon tidak hanya terdapat di kawasan hutan.

Potensi juga terdapat pada pesisir, mangrove, limbah pertanian, agroforestri, hingga berbagai aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem. “Jadi kita akan memperluas scope-nya. Bukan hanya hutan,” ujar Anshori.

Perluasan tersebut mencakup kawasan di dalam dan luar hutan, termasuk pesisir dan limbah pertanian.

4. Dikelompokkan ke dalam sejumlah ekosistem

ilustrasi ekosistem terumbu karang (pexels.com/Francisco Ungaro)

Dalam roadmap yang dibahas, lanskap karbon Lampung dikelompokkan ke dalam sejumlah ekosistem. Green carbon mencakup hutan, kebun, agroforestri dan biodiversitas.

Sedangkan blue carbon mencakup mangrove, rawa dan sungai. Ada pula konsep silvofishery yang menggabungkan konservasi ekosistem dengan kegiatan budidaya seperti kepiting dan kerang serta pengembangan pariwisata.

Pengembangan inisiatif tersebut diharapkan dapat menghubungkan upaya perlindungan ekosistem dengan peluang ekonomi masyarakat, sehingga pemanfaatan nilai karbon tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Lampung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article