Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jejak Gunung Anak Krakatau, dari Kemunculan hingga Erupsi 2026
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).
  • Letusan Krakatau 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung; aktivitas bawah laut kemudian membentuk Gunung Anak Krakatau yang menembus permukaan laut pada periode 1927-1929.
  • Anak Krakatau mengalami erupsi berulang, termasuk hampir terus-menerus pada 1959-1963 dan hampir setiap hari pada 1992-1999, yang menambah tubuh gunung serta mengubah garis pantai.
  • Pada 2018, longsoran tubuh gunung memicu tsunami Selat Sunda; awal Juli 2026 statusnya naik ke Level III, dengan erupsi dan kolom abu hingga sekitar 6,09 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times - Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, memiliki rekam jejak aktivitas vulkanik panjang sejak pertama kali muncul ke permukaan laut pada 1927.

Kemunculan gunung berapi ini tidak terlepas dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung tersebut. Seiring waktu, aktivitas vulkanik kembali membentuk gunung baru kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Sejak muncul ke permukaan, GAK tercatat mengalami sejumlah periode erupsi dengan karakteristik berbeda. Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung hingga 2026 ini.

Termasuk peningkatan aktivitas signifikan sejak awal Juli yang membuat status gunung api dinaikkan menjadi Level III atau Siaga.

1. Letusan dahsyat Krakatau pada 1883

Foto bersejarah langka berjudul De uitbarsting van de Krakatau (Letusan Gunung Krakatau). (IDN Times/Istimewa).

Sebelum Gunung Anak Krakatau muncul, kawasan Selat Sunda menjadi saksi letusan besar Krakatau pada 1883. Erupsi tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern.

Dokumentasi letusan tersebut juga tersimpan dalam arsip bersejarah. Salah satunya foto berjudul De uitbarsting van de Krakatau atau Letusan Gunung Krakatau yang kini menjadi bagian dari koleksi warisan budaya Leiden University Libraries di Belanda.

2. Anak Krakatau muncul ke permukaan pada 1927-1929

Arsip digital disimpan dan dilestarikan dalam koleksi warisan budaya Universitas Leiden (Leiden University Libraries) di Belanda. (IDN Times/Istimewa).

Puluhan tahun setelah letusan besar Krakatau, aktivitas vulkanik kembali terjadi di kawasan tersebut. Pada 1927, muncul erupsi bawah laut yang menjadi awal terbentuknya Gunung Anak Krakatau. Gunung api baru itu kemudian tumbuh hingga menembus permukaan laut pada periode 1927-1929.

Anak Krakatau muncul dari kedalaman sekitar 180 meter di sekitar koordinat 6°06′ LS dan 105°25′ BT. Peristiwa kemunculan tersebut turut terdokumentasikan dalam sejumlah foto bersejarah, termasuk letusan gunung berapi bawah laut Krakatau yang terlihat dari Pulau Panjang, serta dokumentasi bagian barat laut Gunung Anak Krakatau yang mulai terbentuk.

Arsip digital foto-foto tersebut kini disimpan dan dilestarikan dalam koleksi warisan budaya Leiden University Libraries.

3. Erupsi hampir terus-menerus pada 1959-1963

Foto kepulan abu menyembur dari kerucut di kawah puncak Anak Krakatau pada tanggal 2 Mei 1961. (D. Hadikusumo).

Pada 1938, Gunung Anak Krakatau memasuki fase awal pertumbuhan setelah berhasil menembus permukaan laut. Dalam perkembangannya, gunung api ini menunjukkan karakter erupsi tipe Strombolian. Material hasil letusan terus menumpuk dan membuat tubuh gunung bertambah besar dari waktu ke waktu.

Memasuki periode 1959-1963, aktivitas erupsi Anak Krakatau berlangsung hampir terus-menerus. Salah satu dokumentasi bersejarah menunjukkan kepulan abu menyembur dari kerucut di kawah puncak Anak Krakatau pada 2 Mei 1961. Foto tersebut diabadikan oleh D. Hadikusumo.

Periode ini menjadi salah satu fase penting dalam pertumbuhan tubuh gunung api, karena aktivitas erupsi terus memasok material vulkanik ke permukaan.

4. Erupsi hampir setiap hari pada 1992-1999

Salah satu periode erupsi cukup intens dalam perkembangan Anak Krakatau. (Arbain Rambey).

Aktivitas vulkanik kembali berlangsung intens pada periode 1972-1981. Dalam sejumlah erupsi, lava keluar dari tubuh gunung beberapa kali mencapai laut.

Material dan aliran lava dari letusan sebelumnya kemudian ikut membentuk, serta memperluas garis pantai Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut memperlihatkan aktivitas erupsi tidak hanya mengubah bentuk kerucut gunung, tetapi juga memengaruhi bentang alam di sekitarnya.

Memasuki dekade 1990-an, aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali meningkat. Periode 1992-1999, erupsi terjadi hampir setiap hari dan disertai semburan abu serta lontaran material vulkanik.

Fase ini menjadi salah satu periode erupsi yang cukup intens dalam perkembangan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas berulang membuat volume tubuh gunung terus bertambah akibat akumulasi material hasil letusan.

5. Erupsi 2018 picu tsunami Selat Sunda

Aktivitas vulkanik disertai longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang memicu tsunami Selat Sunda. (Phys.org).

Pada 2000-2001, aktivitas erupsi Anak Krakatau kembali disertai peningkatan kegempaan. Material dikeluarkan didominasi erupsi skala kecil hingga menengah.

Material vulkanik tersebut secara bertahap menambah volume kerucut gunung. Aktivitas kegempaan menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Periode 2007-2010 menjadi salah satu fase dengan fluktuasi aktivitas vulkanik yang intens. Peningkatan kegempaan yang signifikan terjadi bersamaan dengan pembentukan lubang kawah baru.

Gunung juga mengalami rangkaian letusan abu secara menerus yang disertai lontaran material pijar. Salah satu peristiwa paling signifikan terjadi pada 2018.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau disertai longsoran sebagian tubuh gunung. Material longsoran masuk ke laut dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Peristiwa tersebut menyebabkan dampak besar di sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung. Serta menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah aktivitas Gunung Anak Krakatau.

6. Aktivitas meningkat pada 2026

Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui KRI Lepu-861 milik TNI AL, Rabu (9/9/2036). (Dok. BPBD Lampung).

Memasuki 2026, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Status gunung api dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada awal Juli 2026. Setelah itu, rangkaian erupsi terus terjadi hingga September 2026.

Aktivitas tersebut ditandai antara lain oleh letusan Strombolian, lontaran material pijar, serta semburan abu vulkanik dengan ketinggian yang berubah-ubah.

Pada sejumlah kejadian, kolom abu teramati mencapai sekitar 6,09 kilometer atau 20.000 kaki. Sebaran abu pada ketinggian tersebut berpotensi berdampak hingga wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Selain itu, sebaran abu sempat mencapai ketinggian hingga sekitar 15 kilometer atau 50.000 kaki hingga menjangkau wilayah Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article