Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ITB dan ITERA Kembangkan Pakan Nano dan Sabun Propolis di Pesisir Barat
Sabun ekstrak propolis "Picabee" produk turunan lebah sebagai oleh-oleh khas Desa Pemerihan (IDN Times/Istimewa)
  • ITB dan ITERA mendampingi Desa Pemerihan melalui program WCU 2025 berbiaya LPDP, menerapkan inovasi perikanan dan produk unggulan selama Oktober 2025 hingga Juni 2026.
  • Tim memperkenalkan pakan ikan dan belut dengan aditif Nano-ZnO, melatih 18 peserta, serta menyerahkan formulasi dan mesin pakan untuk mendukung produksi mandiri.
  • Propolis lebah Apicalis yang sebelumnya belum dimanfaatkan diolah menjadi sabun padat Picabee melalui workshop, lalu dilengkapi identitas dan kemasan untuk produk unggulan desa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pesisir Barat, IDN Times - Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, mulai memetik hasil dari kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Selama hampir sembilan bulan, berbagai inovasi berbasis riset diterapkan untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi desa, mulai dari sektor perikanan, produk unggulan, hingga pariwisata berbasis konservasi.

Program Community Development World Class University (WCU) 2025 yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berlangsung dari Oktober 2025 hingga Juni 2026. Tim dosen dan mahasiswa tidak hanya menggelar pelatihan, tetapi juga mendampingi masyarakat hingga menghasilkan berbagai inovasi yang kini mulai dimanfaatkan warga. Berikut transformasi yang dihadirkan di Desa Pemerihan.

1. Pakan ikan berbasis nanoteknologi bantu pembudi daya lebih mandiri

Penyerahan pakan Nano-ZnO dan mesin pembuat pakan kepada perwakilan kelompok pembudidaya belut Desa Pemerihan (IDN Times/Istimewa)

Salah satu persoalan yang dihadapi warga adalah tingginya biaya pakan ikan dan belut. Selama ini pembudidaya masih bergantung pada pakan pabrikan dari luar daerah, sementara pakan racikan sendiri sering kali belum memenuhi kebutuhan nutrisi ikan secara optimal.

Berangkat dari persoalan tersebut, tim ITB dan ITERA memperkenalkan nanopartikel seng oksida (ZnO-NP) sebagai aditif pakan ikan air tawar, seperti lele, nila, dan belut. Seng merupakan mineral penting yang berperan dalam pertumbuhan, metabolisme, daya tahan tubuh, hingga kesehatan reproduksi ikan. Dalam bentuk nanopartikel, bioavailabilitas seng meningkat sehingga penyerapan nutrisi menjadi lebih optimal.

Dosen Kimia ITB sekaligus peneliti nanomaterial ZnO, Atthar Luqman Ivansyah, mengatakan, teknologi nano bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, inovasi tersebut dikembangkan agar pakan yang selama ini dibuat warga memiliki kualitas lebih baik sehingga nutrisi dapat diserap ikan secara maksimal.

Atthar menjelaskan bahwa pelatihan diawali dengan pretest yang diikuti oleh 18 peserta, mulai dari petani, pembudidaya ikan dan belut, hingga perangkat desa. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 72,2 menjadi 80 setelah pelatihan. Tim juga menyerahkan pakan ikan dan belut terformulasi Nano-ZnO beserta satu unit mesin pembuat pakan agar kelompok pembudidaya dapat memproduksi pakan secara mandiri.

2. Warga diajak membuat pakan dari bahan lokal

Proses pencampuran serbuk nanopartikel ZnO ke dalam pakan dasar (IDN Times/Istimewa)

Selain mengenalkan teknologi nano, tim juga mengajarkan cara menyusun formulasi pakan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di desa agar biaya produksi lebih efisien tanpa mengurangi kualitas nutrisi. Dosen Kimia ITERA, Achmad Gus Fahmi, menjelaskan bahwa sumber protein tetap menjadi komponen utama pakan.

Menurutnya, minyak ikan dapat dibuat dari hasil ekstraksi ikan lokal, sedangkan sisa ekstraksinya masih bisa diolah menjadi tepung ikan. Jagung dan tanaman lain yang tumbuh di desa juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan energi.

"Kuncinya bukan pada bahan yang mahal, tapi pada bagaimana kita mengolah apa yang tersedia menjadi pakan yang fungsional," katanya.

Menurut Fahmi, formulasi pakan dibuat menggunakan metode pencampuran manual agar mudah diterapkan oleh masyarakat. Minyak ikan digunakan sebagai pengikat sekaligus untuk memperkuat aroma yang disukai ikan, sementara dosis ZnO-NP ditetapkan 0,6 gram per kilogram pakan dengan mempertimbangkan keamanan, efektivitas biologis, efisiensi biaya, dan kemudahan penerapan.

3. Propolis yang sebelumnya terbuang kini menjadi sabun Picabee

Workshop pembuatan sabun berbahan dasar propolis bersama Kelompok Tani Hutan dan anggota PKK Desa Pemerihan. (IDN Times/Istimewa)

Lebih lanjut, Fahmi menyampaikan program ini juga mengangkat potensi budidaya lebah tanpa sengat yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Selain madu, budidaya tersebut menghasilkan propolis yang selama ini nyaris terbuang karena warga belum mengetahui manfaat maupun nilai jualnya.

"Melalui riset, uji coba, evaluasi, dan reformulasi, tim mengembangkan sabun padat berbahan dasar ekstrak propolis lebah Apicalis. Proses pembuatannya kemudian diajarkan kepada Kelompok Tani Hutan dan anggota PKK melalui workshop selama dua hari," jelasnya.

Produk tersebut, kata Fahmi, diberi nama Picabee serta dilengkapi logo, label, stiker, dan desain kemasan agar tampil lebih profesional dan siap dipasarkan sebagai produk unggulan Desa Pemerihan. Menurutnya, ke depan, masyarakat juga diarahkan untuk menggandeng mitra untuk mendukung produksi dan pengujian skala laboratorium.

Curated For You

Editorial Team

Related Article