Ilustrasi Kopi (Pexel/Syah Malik Alam)
Rafidto menambahkan, uji lapangan dilakukan di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus. Hasil pengujian menunjukkan drone kumbang bukan sekadar prototipe laboratorium, melainkan teknologi yang dapat membantu petani mendeteksi serangan hama dan penyakit lebih dini sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum menyebar ke tanaman lain.
Meski sempat menghadapi tantangan mengintegrasikan sistem IoT dan multiagent ke dalam bodi drone berukuran kecil serta menjaga kestabilan komunikasi data secara real-time, menurutnya, tim optimistis bahwa inovasi ini mampu bersaing di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026.
"Ke depan, drone kumbang tersebut ditargetkan dapat divalidasi dan dikembangkan menjadi produk yang siap diterapkan secara lebih luas untuk mendukung pertanian kopi presisi di Indonesia.
Salah seorang petani kopi mitra, Sumardi, mengaku kehadiran drone tersebut menjadi harapan baru bagi petani. Menurutnya, keterlambatan dalam mengetahui serangan hama selama ini sering berujung pada gagal panen, bahkan menyulitkan petani membayar utang pupuk maupun membiayai pendidikan anak.
"Bagi kami petani kecil, terlambat tahu ada hama berarti gagal panen, dan itu bisa membuat kami gagal bayar utang pupuk atau menyekolahkan anak. Selama ini kami pasrah kalau karat daun sudah menyebar luas. Kedatangan anak-anak mahasiswa Unila membawa drone kumbang ini benar-benar seperti mukjizat teknologi di ladang kami. Hanya dalam hitungan menit, kami bisa tahu persis pohon mana yang sakit untuk langsung diobati. Penggunaan pestisida jadi jauh lebih hemat dan hasil panen kami terselamatkan," tutur petani berusia 51 tahun itu.