- Penguatan sektor primer dan stabilisasi harga melalui peningkatan produktivitas pertanian, penguatan ketahanan pangan dan rantai pasok hulu hingga hilir komoditas strategis, serta optimalisasi sinergi TPID dan GPIPS.
- Peningkatan nilai tambah dan investasi sektor berdaya ungkit tinggi melalui penguatan hilirisasi komoditas unggulan, pengembangan UMKM berorientasi ekspor, serta promosi proyek investasi potensial melalui Lampung Economic and Investment Forum.
- Percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan daerah melalui penguatan ETPD dan perluasan transaksi nontunai guna meningkatkan efisiensi serta mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ekonomi Lampung Triwulan 3 Melambat, El Nino Tekan Produksi Pertanian

- Ekonomi Lampung triwulan III 2026 tumbuh 5,02 persen secara tahunan, melambat dari 5,29 persen. Industri pengolahan dan perdagangan tetap menjadi kontributor pertumbuhan terbesar.
- Sektor pertanian tumbuh melambat 2,05 persen akibat penurunan produksi padi dan hortikultura yang dipengaruhi El Niño. Konsumsi rumah tangga stabil, sementara investasi menguat didorong konstruksi.
- Ekspor tumbuh melambat 2,63 persen, dengan ekspor pertanian turun 36,77 persen. BI memprakirakan pertumbuhan 2026 sebesar 5,0–5,6 persen sambil mengantisipasi risiko global dan pangan.
Bandar Lampung, IDN Times - Perekonomian Lampung Triwulan III 2026 tumbuh 5,02 persen (yoy). Pertumbuhan itu melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,29 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto menjelaskan, perekonomian Lampung Triwulan III 2026 ditopang kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran masing-masing tumbuh sebesar 5,63 persen (yoy) dan 5,78 persen (yoy). Kinerja itu melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,99 persen (yoy) dan 7,98 persen (yoy).
"Meski tumbuh melambat, kedua LU tersebut tetap menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,04 persen dan 0,83 persen secara year on year," jelasnya, Jumat (6/11/2026).
1. Produksi padi turun dipicu El Nino

ilustrasi padi (pexels.com/ZEUS THE CREATOR) Bimo menjelaskan, dari sisi LU Konstruksi mencatatkan peningkatan pertumbuhan dari 6,57 persen (yoy) triwulan sebelumnya menjadi 7,98 persen (yoy) pada Triwulan III 2026. Itu memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,80 persen (yoy).
Dari sisi LU Transportasi dan Pergudangan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum juga turut mendorong pertumbuhan dengan mencatatkan peningkatan pertumbuhan masing-masing menjadi sebesar 7,97% (yoy) dan 9,46% (yoy). Itu didukung peningkatan mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan nusantara.
Peningkatan produksi dan penjualan listrik di Provinsi Lampung juga turut dorong pertumbuhan LU Pengadaan Listrik dan Gas yang pada Triwulan III 2026 tumbuh mencapai 9,74 persen (yoy).
Di sisi lain, LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang memiliki pangsa terbesar dalam perekonomian Lampung, yaitu sebesar 28,17 persen. LU ini tumbuh sebesar 2,05 persen (yoy) melambat dibanding triwulan sebelumnya 2,97 persen (yoy).
Perlambatan tersebut sejalan dengan penurunan produksi padi pasca berakhirnya panen gadu serta penurunan produksi tanaman hortikultura. Penurunan produksi pada kedua kelompok komoditas tersebut turut dipengaruhi oleh meningkatnya intensitas fenomena El Niño.
2. Konsumsi rumah tangga stabil

Ilustrasi Belanja Bahan Makanan (pexels.com/Gustavo Fring) Bimo mengatakan, dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Lampung pada triwulan III 2026 terutama ditopang oleh Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh stabil 4,87 persen (yoy) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 2,85 persen (yoy).
Apabila menyoroti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), mencatatkan akselerasi pertumbuhan dari 3,08 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 6,08 persen (yoy). Torehan itu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,88 persen (yoy), sejalan dengan peningkatan aktivitas konstruksi pemerintah maupun swasta.
Konsumsi Pemerintah juga tetap tumbuh 5,77 persen (yoy), meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 12,80 persen (yoy) sejalan dengan perkembangan realisasi belanja pemerintah.
3. Kinerja ekspor melambat

ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan (pexels.com/Wolfgang Weiser) Dari sisi perdagangan luar negeri, kinerja ekspor tumbuh 2,63 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 4,12 persen (yoy). Meski demikian, nilai ekspor barang secara kumulatif Januari-September 2026 masih mencatatkan peningkatan 3,05 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
"Terutama ditopang peningkatan ekspor industri pengolahan sebesar 13,38 persen dan sektor pertambangan dan lainnya sebesar 38,22 persen. Sementara ekspor sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 36,77 persen," papar Bimo.
Kinerja impor juga turut melambat dengan tumbuh 1,72 persen (yoy) pada Triwulan III 2026, setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 3,18 persen (yoy). Adapun, secara kumulatif Januari-September 2026 nilai impor barang menurun sebesar 25,86 persen, terutama dipengaruhi oleh penurunan impor migas sebesar 93,06%.
Sementara itu, impor nonmigas justru meningkat sebesar 36,48 persen, meskipun impor bahan baku dan penolong mengalami penurunan sebesar 39,39 persen. Sedangkan impor barang modal dan barang konsumsi masing-masing meningkat sebesar 5,01 persen dan 711,20 persen.
4. BI nilai pertumbuhan ekonomi Lampung 2026 tetap terjaga

Potret Menara Siger, Lampung (diskominfotik.lampungprov.go.id) Bank Indonesia memandang prospek perekonomian Provinsi Lampung pada 2026 tetap terjaga, meskipun sejumlah risiko perlu terus dicermati. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada 2026 diprakirakan berada pada kisaran 5,0–5,6 persen.
"Ini ditopang oleh tetap kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi, serta kinerja sejumlah Lapangan Usaha utama," jelasnya.
Bimo menambahkan, dari sisi LU, pertumbuhan diprakirakan didukung oleh kinerja LU Pertanian, Kehutanan dan Perikanan melalui program peningkatan produktivitas pangan. Serta LU Industri Pengolahan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran yang tetap tumbuh positif sejalan dengan penguatan hilirisasi dan permintaan domestik.
LU Konstruksi juga diprakirakan tetap tumbuh positif seiring berlanjutnya pembangunan proyek pemerintah dan swasta. Selain itu, kinerja LU Transportasi dan Pergudangan serta LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum diprakirakan turut menopang pertumbuhan sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan aktivitas pariwisata.
5. Ada risiko perlu diantisipasi

ilustrasi risiko (magnific.com/atlascompany) Bimo menyatakan, risiko yang perlu dicermati ke depan terutama bersumber dari ketidakpastian global, dampak fenomena El Niño terhadap produksi pangan, serta volatilitas harga pangan dan komoditas.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Daerah dan seluruh pemangku kepentingan melalui tiga strategi utama, yaitu:




















