Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek Erupsi Anak Krakatau, Tangkapan Nelayan Balam Turun 40 Persen
Nelayan yang ada di Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)
  • Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu hujan abu di sejumlah wilayah pesisir Bandar Lampung, sementara nelayan mengurangi aktivitas melaut terutama akibat cuaca buruk dan angin kencang.
  • Berkurangnya tangkapan serta pasokan ikan mendorong kenaikan harga: kembung mencapai Rp60 ribu per kilogram, sedangkan udang dan cumi-cumi sekitar Rp100 ribu per kilogram.
  • Nelayan melaporkan tangkapan turun hingga 40 persen; Dinas Perikanan Bandar Lampung mencatat penurunan sekitar 20 persen, dengan 154 kapal tidak melaut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) turut berdampak terhadap aktivitas nelayan dan pasokan ikan di pesisir Kota Bandar Lampung.

Adi Mukhlis, nelayan Pulau Pasaran sekaligus warga Bronjong Sukabanjar, Telukbetung Timur, mengatakan hujan abu vulkanik sempat dirasakan cukup tebal di Pulau Pesawaran.

Ia menyebut, abu mulai turun pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 18.30 hingga 19.00 WIB, setelah magrib. Fenomena tersebut diawali dengan munculnya kabut dan apa yang disebut warga sebagai "rambut hitam" di udara.

Meski merasakan dampak abu vulkanik, Adi mengatakan kondisi air laut saat itu masih terlihat normal. Menurutnya, kendala yang lebih berpengaruh terhadap aktivitas nelayan adalah cuaca dan angin kencang.

"Normalnya, kami biasa berangkat melaut jam 16:00 sampai 18:00 WIB dan pulang besok pagi. Tapi, kalo erupsi kaya gini banyak nelayan yang tidak melaut demi keamanan," katanya, Kamis (10/9/2026).

1. Tangkapan turun 40 persen

Nelayan di Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

Sementara itu, Dasuki, pengelola ikan sekaligus warga Kota Karang, Telukbetung Timur, mengatakan dampak abu vulkanik di wilayahnya relatif kecil. Ia menyebut abu yang turun hanya tipis dan kondisi saat ini telah kembali normal.

Menurutnya, surutnya air laut di Pulau Pasaran merupakan siklus alam yang berkaitan dengan musim kemarau, bukan akibat langsung aktivitas erupsi GAK.

Namun, angin kencang sempat membuat gelombang tinggi sehingga sebagian warga memilih mengungsi pada Minggu. Mereka kemudian kembali ke rumah setelah mengungsi selama sekitar satu hari.

Dasuki menyebut, kondisi cuaca tersebut turut memengaruhi hasil tangkapan nelayan. Dalam kondisi tertentu, hasil tangkapan disebut turun sekitar 40 persen karena nelayan mengurangi aktivitas melaut demi keselamatan.

"Dari yang biasanya bisa mendapatkan sekitar 200 kilogram, kini nelayan hanya memperoleh 100 sampai 150 kilogram karena mereka lebih berhati-hati dan mengurangi aktivitas melaut," tuturnya.

2. Dinas catat tangkapan turun 20 persen

Nelayan di Bandar Lampung. (IDN Times/Muhaimin)

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bandar Lampung, Ricardo BNW, mengatakan hasil tangkapan nelayan mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan sebelum aktivitas erupsi meningkat.

"Kalau untuk hasil penangkapan, turun sekitar 20 persen dari sebelumnya," kata Ricardo.

Ia menjelaskan, terdapat sekitar 688 nelayan di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung, khususnya Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, Telukbetung Selatan, dan Bumiwaras.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 423 nelayan tercatat memiliki kapal. Sementara 154 kapal diketahui tidak melaut. Kapal lainnya tidak beroperasi karena sejumlah faktor, termasuk sedang menjalani perbaikan.

Ricardo menilai, dampak terhadap wilayah perairan Bandar Lampung sejauh ini belum signifikan. Namun, penurunan aktivitas melaut ikut berpengaruh terhadap hasil tangkapan dan berpotensi memengaruhi pasokan ikan di pasar.

3. Udang tembus Rp100 ribu

Pedagang ikan di pantai Sukaraja, Asnawati. (IDN Times/Muhaimin)

Seorang pedagang ikan di Pantai Sukaraja, Asnawati (47), mengatakan berkurangnya pasokan ikan telah terjadi beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut semakin terasa ketika aktivitas erupsi GAK meningkat.

"Sudah sekitar enam bulan ini harga ikan naik. Hasil tangkapan nelayan juga berkurang, apalagi sekarang ada erupsi Gunung Anak Krakatau," katanya.

Menurut Asnawati, berkurangnya hasil tangkapan membuat ikan yang masuk ke tingkat pedagang menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada harga jual kepada konsumen.

Harga ikan kembung, misalnya, kini mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut dijual sekitar Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada udang yang kini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

Sementara cumi-cumi saat ini dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

"Kalau tangkapan sedikit, ikan yang masuk juga sedikit. Jadi harganya ikut naik," ujar Asnawati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article