Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kualitas Udara Balam Masih Tak Sehat

Bandar Lampung
Anak Krakatau Kembali Erupsi, Kualitas Udara Balam Masih Tak Sehat
Pengamatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di kantor Pusdalops BPBD Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
  • Gunung Anak Krakatau erupsi empat kali pada Selasa, dengan amplitudo maksimum 50 milimeter; arah abu dapat berubah mengikuti angin yang bergerak ke barat laut dan utara.
  • SO₂ di Bandar Lampung bertahan tidak sehat, 210–223 mikrogram per meter kubik, lebih dari 72 jam akibat gas vulkanik; Lampung Selatan relatif aman untuk SO₂.
  • Pemerintah memantau erupsi dan kualitas udara, melarang mendekat dalam radius 3 kilometer; Bandara Radin Inten II dan Soekarno-Hatta kembali beroperasi, warga diimbau memakai masker.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Gunung api di perairan Selat Sunda tersebut dilaporkan masih menimbulkan erupsi dan semburan abu vulkanik.

Berdasarkan hasil pemantauan diterima IDN Times, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami empat kali erupsi, Selasa (8/9/2026). Erupsi pertama terjadi pukul 05.08 WIB dengan durasi 15 detik, disusul erupsi kedua terjadi pukul 05.34 WIB selama 10 detik.

Kemudian erupsi ketiga terjadi pukul 07.49 WIB dengan durasi 19 detik. Selanjutnya, erupsi kembali terjadi pada pukul 11.34 WIB dengan durasi sekitar 17 detik. Seluruh aktivitas erupsi tersebut telah dinyatakan selesai.

Aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum sekitar 50 milimeter. Sementara kondisi angin bergerak menuju barat laut dan utara dengan kecepatan rendah hingga sedang. Kondisi angin tersebut membuat arah sebaran abu vulkanik dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan angin.

  1. 1. Pantau aktivitas kegempaan dan erupsi hingga dampak abu vulkanik

    IMG-20260908-WA0024.jpg
    Konferensi pers penyampaian aktivitas Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung, Selasa (8/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengatakan, pemerintah daerah bersama Pusdalops BPBD Lampung, BMKG, PVMBG, dan instansi terkait terus memantu perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

    Menurutnya, pemantauan dilakukan tidak hanya terhadap aktivitas kegempaan dan erupsi, tetapi juga dampak abu maupun gas vulkanik terhadap kualitas udara di wilayah Lampung.

    "Pemerintah provinsi terus mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan pengunjung untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," ujar Jihan saat konferensi pers di ruangan Pusdalops BPBD Lampung, Selasa (8/9/2026).

  2. 2. Kualitas udara di Bandar Lampung masih kategori tidak sehat

    IMG-20260908-WA0023.jpg
    Konferensi pers penyampaian aktivitas Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung, Selasa (8/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Jihan menjelaskan, hasil pemantauan kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya menunjukkan parameter PM10 dan PM2,5 berada dalam kategori sedang. Namun, konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) di Bandar Lampung masih perlu diwaspadai.

    "Konsentrasi SO₂ di Bandar Lampung berada pada kategori tidak sehat dengan kisaran 210–223 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut telah bertahan lebih dari 72 jam tanpa penurunan berarti," jelasnya.

    Sementara kondisi debu di Bandar Lampung disebut sudah kembali membaik. Sumber pencemaran utama terpantau berasal dari sebaran gas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

    Berbeda dengan Bandar Lampung, kondisi udara di Lampung Selatan menunjukkan konsentrasi SO₂ yang sangat rendah dan masih aman, yakni sekitar 39,6 mikrogram per meter kubik.

    Namun, konsentrasi debu di Lampung Selatan masih berfluktuasi pada kategori sedang dan sempat meningkat hingga kategori tidak sehat pada dini hari. Kondisi tersebut bersifat lokal dan tidak disebabkan oleh gas vulkanik.

    "Perbedaan kondisi kualitas udara di kedua wilayah tersebut dipengaruhi arah angin dan posisi wilayah terhadap sumber gas vulkanik Anak Krakatau. Pemantauan tetap dilakukan karena arah angin dapat berubah sewaktu-waktu dan berpengaruh terhadap sebaran abu maupun gas vulkanik," lanjut Jihan.

  3. 3. Bandara Radin Inten II dan Soekarno-Hatta kembali beroperasi

    IMG-20260908-WA0022.jpg
    Konferensi pers penyampaian aktivitas Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung, Selasa (8/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Di sektor penerbangan, Jihan menyampaikan, Bandara Radin Inten II Lampung melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan dengan membersihkan runway, taxiway, dan apron menggunakan kendaraan ARFF.

    Menurutnya, pembersihan kemudian dilanjutkan dengan water blasting oleh tim teknik untuk memastikan area operasional bandara tetap dalam kondisi aman. Seiring perkembangan kondisi erupsi, Bandara Radin Inten II dan Bandara Soekarno-Hatta telah kembali melayani penerbangan.

    Sementara untuk sektor pelayaran, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga terus dipantau karena berada di kawasan Selat Sunda. Pemerintah bersama instansi terkait melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan keselamatan pelayaran.

    "Nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir diminta mengikuti informasi resmi mengenai kondisi perairan dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau," pinta Jihan.

  4. 4. Warga diminta pakai masker dan kurangi aktivitas di luar

    IMG-20260908-WA0026.jpg
    Konferensi pers penyampaian aktivitas Gunung Anak Krakatau oleh Pemprov Lampung, Selasa (8/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Sejalan dengan kondisi terkini, Jihan terus mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, namun tetap tenang dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

    Selain itu, masyarakat diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, membatasi kegiatan yang tidak mendesak, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik.

    "Warga yang mengalami gangguan pernapasan atau iritasi pada mata dan kulit diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan," ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More