Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bed Dryer, Solusi Proses Pengeringan Gabah Petani Lampung
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau penggunaan bed dryer sebagai bagian dari Program Desaku Maju diarahkan untuk memperkuat pengolahan hasil pertanian di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8/2026). (Dok. Biro Adpim Pemprov Lampung).
  • Teknologi bed dryer di Desa Sumber Agung mempercepat pengeringan gabah, mengurangi ketergantungan pada cuaca, serta memungkinkan penyimpanan lebih lama dan waktu jual lebih fleksibel.
  • Pemprov Lampung mendorong pengeringan, penggilingan, produk turunan, pemasaran, dan penyediaan input pertanian dilakukan di desa agar nilai ekonomi berputar bagi warga.
  • Pada 2026, Pemprov Lampung menyalurkan 82 bed dryer ke 12 kabupaten dan satu kota; petani Pringsewu melaporkan proses lebih mudah serta kualitas gabah lebih terjaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Penggunaan teknologi bed dryer menjadi salah satu solusi atasi persoalan selama ini dihadapi petani dalam proses pengeringan gabah. Dengan teknologi tersebut, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada panas matahari yang prosesnya dapat berlangsung lebih lama, terutama ketika masa panen bertepatan dengan musim hujan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau penggunaan bed dryer sebagai bagian dari Program Desaku Maju yang diarahkan untuk memperkuat pengolahan hasil pertanian di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8/2026).

“Jadi nanti desa ini tadinya jual produksi mentah, nanti tahun depan sudah bisa produksi beras berkualitas tinggi, pakan ayam, hingga pakan ikan,” ujar Mirza sapaan akrab gubernur.

1. Berikan manfaat dari sisi penyimpanan dan pemasaran

Petani memanen gabah di sawahnya di kawasan Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Menurut gubernur, pengeringan gabah langsung di desa tidak hanya mempercepat proses pascapanen, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi penyimpanan dan pemasaran. Gabah yang telah mencapai tingkat kekeringan yang sesuai dapat disimpan lebih lama sehingga petani memiliki pilihan waktu yang lebih fleksibel untuk menjual hasil panennya.

“Manfaatnya harga gabahnya naik. Selain itu, petani tidak takut harga jatuh karena kalau sudah kering bisa disimpan sampai setahun dengan bagus,” katanya.

Selain menjaga kualitas dan daya simpan, pengeringan gabah di desa juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi distribusi. Mirza mengatakan, gabah yang masih basah memiliki kandungan air yang tinggi sehingga sebagian beban angkutan yang selama ini dibawa keluar desa sebenarnya merupakan air.

“Kalau kita keringkan di desa, mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang, jadi jalan-jalan di desa akan lebih terjaga,” ujarnya.

2. Bagian perubahan pola pengelolaan hasil pertanian di desa

Bulog membeli gabah kering panen dari petani.(IDN Times/Daruwaskita)

Mirza menekankan keberadaan bed dryer tidak hanya dipandang sebagai bantuan peralatan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan hasil pertanian di desa. Setelah dikeringkan, gabah dapat dilanjutkan ke tahap penggilingan dan pengolahan produk turunan sehingga nilai ekonomi komoditas dapat lebih banyak dinikmati masyarakat desa.

“Bapak jual padi dibawa ke kota dijadikan beras, lalu Bapak beli lagi berasnya di desa. Jadi jalan bolak-balik. Kalau sekarang tidak perlu, di sini jadi beras, keluarnya sudah dalam bentuk beras,” jelasnya.

Pengembangan pengolahan hasil pertanian tersebut, lanjut Mirza, juga perlu melibatkan generasi muda. Menurutnya, anak muda memiliki peran penting dalam mengoperasikan teknologi, mengembangkan produk, membangun merek, hingga memperluas pemasaran hasil pertanian.

“Tugasnya anak muda tidak boleh jadi petani saja, tapi harus membantu desa menghilirisasi komoditas agar punya nilai tambah. Anak muda harus jadi motor untuk teknologi dan marketing,” kata Mirza.

3. Pengembangan agroindustri desa perlu diikuti upaya menekan biaya produksi

Seorang petani memakai mesin modern saat panen gabah (IDN Times/Fariz Fardianto)

Selain mendorong hilirisasi, gubernur menilai pengembangan agroindustri desa perlu diikuti dengan upaya menekan biaya produksi. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Lampung turut mendorong pengembangan input pertanian secara mandiri di desa, termasuk pupuk organik cair (POC).

Menurutnya, apabila proses produksi, pengeringan, pengolahan, pemasaran, hingga penyediaan input pertanian dapat dilakukan secara bertahap di desa, maka semakin banyak nilai ekonomi yang dapat berputar dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Jangan hanya jual gabah. Kalau sudah kering bisa dijadikan beras dan katul. Begitu juga jagung, bisa jadi pakan ayam dan ikan agar ekonomi berputar di desa,” ujarnya.

4. Pemprov Lampung salurkan 82 unit mesin bed dryer ke 12 kabupaten/kota

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga April 2025, produksi gabah nasional mencapai 13,9 juta ton (dok. Bulog)

Untuk mendukung penguatan pascapanen tersebut, pada 2026 Pemerintah Provinsi Lampung menyalurkan 82 unit mesin bed dryer ke 12 kabupaten dan satu kota. Di Kabupaten Pringsewu, dua unit bed dryer pada 2026 ditempatkan di Desa Sumber Agung dan Desa Tanjung Anom, Kecamatan Ambarawa. Sebelumnya, Kabupaten Pringsewu telah menerima tiga unit dryer pada 2025 yang ditempatkan di Desa Mataram dan Desa Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo.

Dukungan tersebut mulai dirasakan langsung oleh petani di Desa Sumber Agung. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sumber Agung, Tasbiah, mengatakan sebelum adanya bed dryer, petani harus mengeringkan gabah secara manual dengan mengandalkan kondisi cuaca.

“Sebelum ada dryer ini, petani mengeringkan gabah secara manual di halaman rumah. Kalau waktu musim hujan itu agak lama karena kendala cuaca, jadi sangat merepotkan,” ungkapnya.

Menurut Tasbiah, penggunaan bed dryer membuat gabah yang baru dipanen dapat langsung dikeringkan sehingga proses pascapanen menjadi lebih mudah dan tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca. “Setelah ada alat ini, alhamdulillah sangat membantu petani untuk mengeringkan gabah yang langsung dari sawah,” katanya.

5. Kelompok tani kini memiliki peluang menjaga kualitas gabah

Petani jemur gabah di Klungkung. (Dok. IDN Times/ist)

Hal serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Sumber Tani, Sandi. Ia mengatakan, persoalan waktu menjadi salah satu perubahan yang paling dirasakan setelah kelompok tani menggunakan bed dryer. Sebelumnya, proses pengeringan gabah dapat membutuhkan waktu berhari-hari, tergantung kondisi cuaca.

“Sebelum mendapatkan bed dryer, kami kesulitan dalam hal pengeringan. Untuk kapasitas 20 ton itu butuh waktu kurang lebih 15 hari, sehingga sangat menurunkan kualitas produksi,” ujarnya.

Dengan proses pengeringan yang lebih terkontrol, kelompok tani kini memiliki peluang untuk menjaga kualitas gabah sekaligus mengembangkan produk turunannya. Sandi berharap fasilitas tersebut dapat membantu kelompok tani memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

“Mudah-mudahan dryer ini dapat menjaga dan meningkatkan kualitas produksi tani kami agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas serta meningkatkan nilai ekonomisnya,” kata Sandi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article