Bandar Lampung, IDN Times - Profesi arsitek sedang menghadapi ujian besar. Ironisnya, di tengah laju pembangunan yang semakin agresif, posisi arsitek justru belum sepenuhnya dipahami secara proporsional.
Bangunan tumbuh di mana-mana, kota berkembang, kawasan baru bermunculan, tetapi profesi arsitek masih terlalu sering direduksi hanya sebagai “tukang gambar”. Ini adalah cara pandang yang keliru sekaligus berbahaya.
Arsitek bukan sekadar pembuat denah, visualisasi, atau gambar kerja. Arsitek adalah perancang kualitas hidup. Ia bekerja menerjemahkan kebutuhan manusia menjadi ruang yang aman, sehat, efisien, manusiawi, dan berkelanjutan. Ketika sebuah rumah terasa nyaman ditinggali, ketika sekolah mendukung proses belajar, ketika ruang publik terasa hidup, ketika kota menjadi lebih tertata, di situlah sebenarnya peran arsitek bekerja.
Karena itu, arsitektur tidak boleh dipahami hanya sebagai urusan estetika bangunan. Arsitektur adalah urusan masa depan manusia. Di banyak negara maju, arsitek ditempatkan sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan.
Mereka terlibat sejak awal dalam perencanaan kota, mitigasi bencana, pembangunan lingkungan berkelanjutan, hingga penguatan identitas budaya. Sementara di Indonesia, termasuk di Lampung, profesi ini masih sering dipanggil hanya ketika proyek sudah hampir berjalan dan sekadar membutuhkan gambar teknis. Padahal, kualitas pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas perencanaannya.
