Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Agustus 2024 Lampung Inflasi 0,07 Persen, Ternyata Ini Pemicunya

Agustus 2024 Lampung Inflasi 0,07 Persen, Ternyata Ini Pemicunya
ilustrasi bubuk kopi (pexels.com/readymade)
Intinya Sih
  • IHK Provinsi Lampung Agustus 2024 mengalami inflasi sebesar 0,07 persen (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang deflasi 0,16 persen (mtm).
  • Beberapa komoditas menyebabkan inflasi, seperti beras, kopi bubuk, biaya pendidikan sekolah menengah atas, SKM, dan SKT.
  • Peningkatan harga disebabkan oleh berakhirnya panen padi dan kopi robusta serta penyesuaian tarif SPP tahun ajaran baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Lampung Agustus 2024 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,07 persen (mtm). IHK itu lebih tinggi dibandingkan Juli 2024 mengalami deflasi sebesar 0,16 persen (mtm).

Bahkan, realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan rata rata tingkat perkembangan IHK di Provinsi Lampung periode Agustus tiga tahun terakhir tercatat deflasi sebesar 0,01 persen (mtm). Namun, lebih tinggi dibandingkan capaian nasional tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm).

Secara tahunan, IHK di Provinsi Lampung pada Agustus 2024 mengalami inflasi 2,33 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,55 persen (yoy), namun masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,12 persen (yoy). Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Junanto Herdiawan dalam keterangan tertulis diterima IDN Times, Senin (2/9/2024).

1. Pemicu inflasi Agustus 2024

ilustrasi bubuk kopi (pixabay.com/kalhh)
ilustrasi bubuk kopi (pixabay.com/kalhh)

Terkait sumber inflasi Agustus 2024, Junanto mengatakan, disebabkan beberapa komoditas harganya naik seperti beras, kopi bubuk, biaya pendidikan sekolah menengah atas, sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT). Andil masing-masing komoditas itu sebesar 0,15 persen; 0,07 persen; 0,06 persen; 0,04 persen dan 0,02 persen.

Harga beras dan kopi bubuk naik selaras berakhir puncak panen raya padi dan kopi robusta pada teriwulan sebelumnya. Harga acuan kopi robusta dunia tetap tinggi sejalan dengan kuatnya permintaan ekspor di tengah belum optimalnya panen kopi robusta di Vietnam.

"Peningkatan harga sekolah menengah atas sejalan dengan penyesuaian tarif SPP memasuki tahun ajaran baru. Adapun peningkatan harga SKM dan SKT terjadi seiring dengan berlanjutnya penyesuaian harga pasca kenaikan tarif cukai rokok pada awal tahun 2024," papar pria berkacamata ini.

2. Ada komoditas alami deflasi

ilustrasi jeruk (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi jeruk (pexels.com/Pixabay)

Di sisi lain menurut Junanto, inflasi yang lebih tinggi pada Agustus 2024 tertahan oleh sejumlah komoditas mengalami deflasi, terutama jeruk, bawang merah, tomat, telur ayam ras dan daging ayam ras. Andil masing-masing sebesar -0,13 persen; -0,12 persen; -0,05 persen; -0,04 persen dan - 0,04 persen.

Penurunan harga jeruk sejalan masuknya panen raya jeruk di sentra produksi Lampung Timur dan Lampung Tengah pada awal triwulan III 2024. Penurunan harga bawang merah terjadi seiring masuknya periode panen raya di sentra produksi Brebes yang merupakan daerah pemasok bawang merah untuk Provinsi Lampung.

Sedangkan penurunan harga telur dan daging ayam ras disebabkan oleh penurunan harga pakan ternak di tengah periode low season pasca HBKN.

3. Perlu mitigasi risiko

ilustrasi orang yang punya tujuan (freepik.com/ijeab)
ilustrasi orang yang punya tujuan (freepik.com/ijeab)

Junato mengatakan, ke depan, Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung memprakirakan inflasi IHK di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) sampai dengan akhir tahun 2024.

Namun, diperlukan upaya mitigasi risiko-risiko sebagai berikut, antara lain dari Inflasi Inti berupa berlanjutnya kenaikan harga emas Provinsi Lampung seiring meningkatnya harga emas dunia.

Sementara itu dari sisi Inflasi Volatile Food (VF) hal perlu diperhatikan yakni, kenaikan harga beras seiring berakhirnya periode panen raya; kenaikan harga minyak goreng sejalan dengan relaksasi HET MinyaKita.

Selanjutnya risiko dari Inflasi Administered Price (AP) perlu mendapat perhatian di antaranya yaitu, kenaikan harga aneka rokok sejalan dengan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2024 sebesar 10 persen dan rokok elektrik sebesar 15 persen dan kenaikan harga BBM sejalan meningkatnya harga acuan

Share Article
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More