21 Kasus Menonjol jadi Evaluasi Program MBG di Lampung, Ini Fokusnya

- Program Makan Bergizi Gratis di Lampung dievaluasi dengan fokus pada validasi data penerima manfaat, pendataan SPPG, dan pemetaan layanan di wilayah aglomerasi serta daerah 3T.
- Tercatat 21 kejadian menonjol termasuk kasus keracunan makanan ratusan siswa menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pelayanan, SDM, menu, dan infrastruktur program MBG.
- KPPG Lampung menegaskan tidak mengetahui isu mitra titipan dan memastikan seluruh mitra memiliki hak serta kewajiban yang sama demi pelaksanaan program MBG yang transparan.
Bandar Lampung, IDN Times - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Lampung masih terus dievaluasi. Salah satu perhatian utama dalam evaluasi tersebut ialah adanya 21 kejadian menonjol, termasuk kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan siswa.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bandar Lampung, Achmad Hery Setiawan mengatakan, evaluasi dilakukan sebagai tindak lanjut arahan pimpinan guna memastikan pelaksanaan program MBG berjalan lebih optimal.
"Hingga saat ini belum ada penambahan maupun pengurangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Lampung. Masih menggunakan data yang sama," ujarnya dikonfirmasi, Selasa (21/7/2026).
1. Validasi data penerima manfaat jadi fokus evaluasi

Hery menyampaikan, evaluasi MBG di Lampung difokuskan pada tiga aspek utama. Pertama, validasi dan pemutakhiran data penerima manfaat agar program tepat sasaran.
Kedua, pendataan SPPG yang masih dalam tahap persiapan di wilayah kerja Lampung. Ketiga, pemetaan layanan SPPG di kawasan aglomerasi maupun wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Evaluasi internal yang diminta pimpinan adalah validasi dan pemutakhiran data penerima manfaat, pendataan SPPG persiapan di wilayah kerja Lampung, serta pemetaan SPPG aglomerasi dan 3T demi optimalisasi MBG," ucapnya.
2. Sebanyak 21 kejadian menonjol menjadi bahan evaluasi

Selain validasi data, pelaksanaan MBG di Lampung juga menjadi sorotan setelah tercatat 21 kejadian menonjol, termasuk kasus keracunan makanan yang menyebabkan ratusan siswa terdampak.
Menurut Hery, catatan tersebut menjadi bagian dari bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program. Namun, pihaknya tidak merinci lokasi maupun waktu seluruh kejadian tersebut.
"Peningkatan kualitas pelayanan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sumber daya manusia, penyusunan menu, hingga kesiapan infrastruktur di setiap SPPG. Langkah ke depannya tentunya adalah perbaikan di semua lini, baik dari SDM, menu maupun infrastruktur," katanya.
3. KPPG bantah mengetahui isu mitra titipan

Terkait isu mengenai dugaan adanya mitra titipan di sejumlah daerah, Hery mengaku tidak mengetahui informasi tersebut. Ia menegaskan, seluruh mitra memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Menurutnya, tugas KPPG di wilayah memastikan setiap mitra menjalankan kewajibannya sesuai ketentuan dan memperoleh haknya secara benar. "Terkait isu mitra titipan, kami tidak mengetahuinya dan kami meyakini bahwa hak dan kewajiban mitra itu sama," tegasnya.
Menurut dia, keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari jumlah 1.199 SPPG yang masih beroperasi di Lampung, tetapi juga dari ketepatan sasaran penerima manfaat, kualitas layanan, serta keamanan pangan yang diterima siswa setiap hari. "Yang jelas, kami di daerah siap melaksanakan instruksi dan arahan dari pusat," imbuhnya.


















