Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ketua LPS Anggito Abimanyu Beber Kunci Sukses Self Leadership di Unila

Bandar Lampung
Ketua LPS Anggito Abimanyu Beber Kunci Sukses Self Leadership di Unila
Kuliah Umum bertema Self leadership: Sukses di Kampus dan Masa Depan digelar di Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung, Jumat (4/9/2026). (IDN Times/Martin L Tobing).
  • Ketua LPS Anggito Abimanyu menekankan self-leadership sebagai fondasi sukses mahasiswa, melalui kejujuran, kepedulian, kesadaran diri, motivasi, kerja keras, keberanian, pengendalian diri, dan keteladanan.
  • Anggito mengingatkan kepemimpinan diri diuji dalam lingkungan beragam: mahasiswa harus mampu bekerja sama dengan siapa pun serta mengapresiasi kontribusi orang lain, bukan hanya mengingat kesalahannya.
  • Menurut Anggito, kemampuan, pengambilan keputusan, dan keahlian menjadi tiga bekal sukses di kampus serta dunia profesional; Rektor Unila menilai kapasitas personal kian penting di tengah disrupsi teknologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Dentang musik mulai terdengar dari pengeras suara Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung, Jumat (4/9/2026). Perlahan, sekitar 750 mahasiswa yang memenuhi GSG untuk kuliah umum mulai terdiam, sebagian menoleh ke arah panggung.

Lagu Selalu Ada di Nadimu, soundtrack film Jumbo, mengalun mengisi suasana sebelum kuliah umum dimulai. Tak sedikit mahasiswa yang langsung mengenali lagu tersebut.

Beberapa ikut melantunkan penggalan liriknya, sementara yang lain tersenyum dan mengangguk kecil mengikuti irama. Ada yang semula sibuk berbincang dengan teman di sebelahnya, tetapi kemudian ikut larut ketika lirik demi lirik terdengar.

Sesekali terdengar suara mahasiswa menyanyikan bagian yang mereka hafal. Suasana GSG Unila pun berubah menjadi lebih hangat dan akrab, seolah lagu itu menjadi jeda sejenak sebelum para mahasiswa menyimak materi kuliah umum bertema Self leadership: Sukses di Kampus dan Masa Depan.

  1. 1. Mampu memimpin diri sendiri

    ilustrasi pemimpin (pexels.com/Mikhail Nilov)
    ilustrasi pemimpin (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Kuliah Umum bertema Self leadership: Sukses di Kampus dan Masa Depan menghadirkan narasumber utama Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu. Anggito menjelaskan, kesuksesan mahasiswa dalam menempuh studi dan membangun karier tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari di dalam ruang kelas.

    Pengalaman berorganisasi, berinteraksi, bekerja sama, hingga kemampuan memimpin diri sendiri juga menjadi bekal penting menghadapi dunia profesional. Ia menekankan, langkah pertama untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah memimpin orang lain, melainkan mampu mengendalikan dan memimpin diri sendiri.

    Menurut Anggito, kemampuan tersebut dikenal sebagai self-leadership atau kepemimpinan diri. Kemampuan ini menjadi fondasi sebelum seseorang dipercaya untuk memimpin orang lain.

    Ia menjelaskan, self-leadership setidaknya dibangun melalui sejumlah karakter penting. Di antaranya kejujuran, kepedulian, kesadaran diri, motivasi, sikap pantang menyerah, kesantunan, kerja keras, keberanian, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, serta keteladanan.

    Karakter-karakter tersebut, lanjutnya, tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Mahasiswa perlu membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi dengan orang lain di lingkungan kampus.

  2. 2. Self-Leadership tak bisa pilih-pilih teman

    ilustrasi pemimpin (pexels.com/olia danilevich)
    ilustrasi pemimpin (pexels.com/olia danilevich)

    Anggito juga mengingatkan mahasiswa kemampuan memimpin diri sendiri akan diuji ketika mereka berada di tengah lingkungan yang beragam. Karena itu, seseorang tidak bisa menerapkan self-leadership hanya kepada orang-orang yang dianggap cocok atau sepemikiran.

    Kemampuan bekerja sama dengan siapa pun menjadi bagian penting dalam membangun kepemimpinan. "Self-leadership tidak bisa pilih-pilih teman. Harus bisa kerja sama," kata pria kelahiran Bogor 19 Februari 1963 ini.

    Menurutnya, seorang calon pemimpin juga harus memiliki kemampuan melihat orang lain secara lebih utuh. Jangan sampai seorang pemimpin hanya mengingat kesalahan yang dilakukan orang lain, tetapi melupakan berbagai keberhasilan yang telah mereka capai.

    Sikap tersebut penting agar pemimpin tidak terjebak pada penilaian negatif terhadap orang lain. Sebaliknya, apresiasi terhadap keberhasilan dan kontribusi orang lain perlu menjadi bagian dari kepemimpinan.

  3. 3. Tiga bekal sukses di kampus dan masa depan

    Ilustrasi wisuda kelulusan (pexels.com/Emily Ranquist)
    Ilustrasi wisuda kelulusan (pexels.com/Emily Ranquist)

    Selain kemampuan memimpin diri sendiri, Anggito menyebut terdapat tiga hal yang menjadi syarat penting untuk meraih kesuksesan, baik selama berada di kampus maupun ketika memasuki kehidupan setelah lulus.

    Ketiganya adalah kemampuan, keputusan, dan keahlian. Kemampuan menjadi dasar bagi mahasiswa untuk menyelesaikan berbagai tantangan. Sementara kemampuan mengambil keputusan diperlukan agar seseorang mampu menentukan langkah ketika menghadapi pilihan dan persoalan.

    Adapun keahlian menjadi bekal yang membuat seseorang memiliki kompetensi yang dapat diterapkan di dunia kerja maupun kehidupan profesional. Karena itu, masa kuliah menurut Anggito tidak seharusnya hanya dimanfaatkan untuk mengejar nilai akademik.

    "Mahasiswa juga perlu mengembangkan karakter, pengalaman, kemampuan bekerja sama, serta berbagai keahlian yang akan menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia yang lebih luas," jelas lulusan magister dan doktoral dari University of Pennsylvania Amerika Serikat ini.

  4. 4. Fondasi penting kepemimpinan

    ilustrasi pemimpin (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
    ilustrasi pemimpin (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Rektor Unila, Lusmeilia Afriani menyampaikan, self-leadership merupakan fondasi penting dalam kepemimpinan. Sebelum seseorang memiliki otoritas untuk memimpin organisasi atau memformulasikan kebijakan bagi publik, seseorang perlu terlebih dahulu mampu mengendalikan dan mengarahkan dirinya sendiri.

    Jika Self-Leadership dilihat dari sudut pandang ekonomi dan bisnis, memiliki urgensi bagi generasi muda di tengah dinamika ketidakpastian global dan disrupsi teknologi.

    “Transformasi digital dan volatilitas ekonomi global menuntut tidak hanya penguasaan teknis, tetapi juga keandalan kapasitas personal atau self-governance,” ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More