Comscore Tracker

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap Bersyukur

Terlahir berbeda sejak kecil, tangan kiri lebih dominan

Bandar Lampung, IDN Times - Terlahir berbeda sejak kecil, lantaran tangan kiri lebih dominan dibandingkan tangan kanan atau disebut kidal dialami Putra Jaka (27), pemuda asal Kelurahan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung.

Sejak usia balita, Putra mengaku sudah terbiasa dan lebih nyaman memfungsikan tangan kiri menjalankan aktivitas sehari-hari. Hingga kini, aktivitas menulis, makan, minum, hingga mengangkat beban berat, dan lain-lain lebih dominan tangan kiri.

Ia menganggap kondisi tersebut adalah hal wajar, meski terkadang kedua orang tua hingga lingkungan sekitar acapkali meminta bisa lebih mengandalkan tangan kanan.

"Waktu kecil saya masih ingat, karena kalimat 'pakai tangan kanan dek' ini sering saya dengar. Tapi gak begitu dipeduliin, ya saya pikir memang lebih nyaman pakai tangan kiri. Sesimple itu aja," kata dia, Jumat (12/8/2022).

Namun tak pernah disangka-sangka. Permintaan sederhana nandirasa berat kala itu, justru hingga detik ini membuat Putra sedikit berbeda dengan kebanyakan anggota keluarga hingga orang umum normal lainnya.

1. Tangan kidal masih dianggap tabu

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap BersyukurSusana sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Bandar Lampung (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Menurut Putra, menggunakan tangan kiri di tiap aktivitas berkegiatan sehari-hari bukan suatu kondisi dibuat-buat tanpa kehendak. Lantaran kemauan tersebut, seketika datang dengan cepat dan secara otomatis dalam kondisi apapun.

Namun sayangnya, kebanyakan masyarakat di Tanah Air, tak terkecuali Provinsi Lampung masih menganggap kondisi left handed atau tangan kidal sebagai perbuatan tabu, bahkan tidak sopan. Padahal, beraktivitas dengan tangan kiri terjadi secara normal bagi pribadi dan sebagian orang lain.

"Sampai hari ini masih ada tanggapan miring dari masyarakat yang katain kurang sopan, tidak punya adab. Apalagi sedang makan atau aktivitas lain di tempat-tempat umum, kadang ada yang melihat bagaimana gitu, tapi ya kebanyakan ada cuek juga," keluhnya.

Kondisi kurang nyaman tersebut diketahui perlahan menyadarkannya, tidak semua orang perlu mengetahui lebih dulu kekurangan diri pribadi tiap individu, untuk bisa lebih memahami keadaan seseorang. "Dari SMA pelan-pelan mulai latih tangan kanan, walaupun harus sedikit dipaksa. Andai makan di tempat umum atau sama orang baru ketemu, ya diusahakan pakai tangan kanan," sambung Putra.

2. Punya keahlian lebih memainkan alat musik

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap BersyukurUnsplash

Terkait keuntungan hingga kelebihan menggunakan kecenderungan tangan kiri, Putra mengaku tak mengetahui atau menyadari persis kedua hal tersebut dari dalam dirinya. Meskipun demikian, ia menyadari cukup piawai memainkan beragam alat musik semacam gitar, piano, hingga bass, bahkan semasa duduk di bangku SMA pernah mengikuti beragam festival musik bersama rekan sejawat.

"Ngeband saat ini gak begitu digeluti, karena teman-teman sekarang sudah pada sibuk sama kerjaannya masing-masing di luar aktivitas musik. Ya, termasuk saya, yang jadi karyawan setelah kuliah," katanya, seraya tersenyum tipis.

Selain itu, anak kedua dari tiga bersaudara ini juga amat bersyukur memiliki lingkungan keluarga, pertemanan, hingga pekerjaan dapat menerima kondisi tangan kidalnya tersebut.

"Buat semua orang bertangan kidal di luar sana. Kita harus terima dan sadar, kalau ini bukan sesuatu kondisi aneh, salah, atau berakibat fatal. Kidal juga bukan keinginan diri kita sendiri, tapi karena ketentuan pencipta. Jadi harus disyukuri," seru Putra.

Baca Juga: Stadion PKOR Way Halim Area Publik Sumber PAD, tapi Tak Dipelihara

3. Adat dan budaya Lampung tak permasalahkan tangan kidal

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap BersyukurIrjen Pol (Purn) Ike Edwin (tengah baju hitam). (Instagram/@danggustiike)

Lalu bagaimana pengguna tangan kidal dari sisi adat istiadat dan budaya masyarakat Lampung? Tokoh adat Provinsi Lampung, Irjen Pol (Purn) Ike Edwin menjelaskan, kondisi tersebut tidak diatur secara terperinci dan tertulis dalam norma kesopanan dan hukum adat provinsi berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai.

"Tidak ada yang mengatur itu (orang tangan kidal), tapi jelas untuk yang terbiasa atau berkondisi normal harus dan wajib menggunakan tangan kanan. Sebab dalam agama juga sudah jelas, kita diajarkan menggunakan tangan kanan," katanya.

Namun seyogyanya, setiap masyarakat adat Lampung bertangga kidal tetap harus menggunakan tangan kanan pada momen-momen tertentu. Misalnya, memberikan sesuatu barang atau menyantap makanan di hadapan orang baru dikenal, itu agar tidak menimbulkan rasa ketersinggungan atau kesan negatif.

"Kalaupun orang itu sudah kita kenal baik, alangkah bagusnya bila benar-benar tidak bisa memaksakan penggunaan tangan kanan, untuk meminta izin atau sekadar memberitahu tangan lebih dominan adalah tangan kiri," tambah Perdana Menteri Kepaksian Pernong Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak di Batu brak, Lampung Barat.

4. Dasar hukum Islam menggunakan tangan kanan

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap Bersyukurpixabay/pexels

Wakil Ketua Umum II Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung, KH Ihya Ulumuddin menegaskan, ajaran agama Islam jelas melarang umatnya mengedepankan penggunaan tangan kiri saat beraktivitas, apalagi urusan makan dan minum. Menurutnya, sebuah hadits Aisyah Radhiyallahu Anhu (RA) menjelaskan, Rasulullah SAW selalu makan dan minum menggunakan tangan kanan, bahkan sebelum itu beliau SAW selalu mengucapkan basmallah.

Bahkan sebagaimana hadits Umar bin Abi Salamah RA, sahabat Nabi bernama Umar bin Abi Salamah pernah bercerita, Rasulullah SAW sempat menegurnya terkait adab makan tersebut. Namun tentu, ini dikecualikan bagi mereka terlahir dalam kondisi tidak normal seperti cacat atau tangan kidal sejak lahir.

"Hukum fiqih mengikuti qodrat dan irodat Allah SWT, karena manusia dilahirkan tidak dalam kondisi normal 'kekuatan seorang pada tangan kiri dibandingkan tangan kanan'. Jelas ini tidak bisa dipaksakan," terangnya.

Meski demikian, pengecualian itu juga gugur alias tak berlaku dalam urusan pelaksanaan ibadah semisal berwudhu, bersalaman, dan lain-lain. "Apalagi berkaitan dengan salat, tetap diutamakan tangan kanan," sambung dia.

5. Orang normal dilarang menggunakan tangan kiri

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap BersyukurCth: Pinterest

Ihya berpandangan, masih banyak umat Muslim terlahir normal di sekitar lingkungan masing-masing, justru menganggap remeh penggunaan tangan kiri saat proses makan dan minum. Padahal jelas, sabda Rasulullah SAW menyebut perbuatan itu merupakan cara dilakukan oleh setan.

"Jangan itu, coba kita lihat. Ada orang makan pakai tangan kanan, sementara tangan kiri dipergunakan mengambil gelas air minum. Ini saja sebenarnya tidak boleh, tetap harus tangan kanan," imbuh dia.

Ia pun mengingatkan masing-masing orang tua memiliki anak tangan kidal, terus mengingatkan pemahaman ajaran tersebut. Sekalipun telah memasuki usia dewasa. "Anak cukup diingatkan dan ditegur, tidak perlu dimarahin. Saya rasa nanti pasti terbiasa dan sadar," lanjut ustaz sekaligus Dosen UIN Raden Intan Lampung tersebut.

6. Tangan kidal bisa dideteksi sejak dini

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap Bersyukurpixabay.com/HelenJank

Fenomena penggunaan tangan kidal menurut Wakil Ketua IDI Lampung, dr Boy Zaghlul Zaini dapat dijelaskan secara medis. Umumnya, tiap seseorang disebut kidal sudah terbiasa menggunakan tangan kiri sejak balita, lantaran lebih dominan tangan kiri dibandingkan tangan kanan sehingga segala hal selalu terbiasa memanfaatkan tangan kiri.

"Perintah menjalankan tangan kiri itu langsung dari otak, karena memang lebih dominan dan itu tidak apa-apa tidak ada pengaruh tertentu. Terkecuali, tangan kanan lumpuh hingga terpaksa pakai tangan kiri, ini lain lagi ceritanya karena dipaksa akibat kondisi," katanya.

Pandangan medis juga berpendapat tidak ada yang salah atas penggunaan tangan kiri karena bukan suatu kelainan dan sejenisnya, melainkan kondisi tersebut merupakan fisiologis alias normal. "Ini dapat dideteksi sejak dini, makanya tugas orang tua harus mengingatkan si anak kalau melihat balitanya sudah dominan pakai tangan kiri," sambung dia.

Boy juga menambahkan, kondisi tersebut tidak dapat diubah bila si pengguna tangan kiri sudah memasuki usia dewasa, dikaranakan kebiasa itu telah terbiasa dan terbentuk sejak usai dini. "Gerakan yang memerintah itu ada di otak, sering kita dengar orang tua bilang 'jangan tangan kiri, pakai tangan kanan'. Nah ini penting," ucap Dokter Umum RSUD Abdul Moeloek tersebut.

7. Psikolog bantah anak tangan kidal punya lebih khusus

Suara Hati Tangan Kidal Lampung, Menghadapi Tabu tapi Tetap Bersyukurilustrasi orang kidal sedang menulis (Pexels.com/RODNAE Productions)

Bila ditinjau dari kacamata ilmu psikologi, Retno Riani Psikolog Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung menyebutkan, kondisi seseorang lebih dominan menggunakan tangan kidal itu dapat dijelaskan melalui faktor Neurologi, sebuah ilmu bidang kedokteran berfokus pada otak dan sistem saraf.

"Jadi yang lebih dominan itu adalah saraf bagian kanan, sehingga lebih optimal di bagian kiri. Tapi dari sisi psikologis, saya menyatakan bahwasanya mana kekuatan dominan sebaiknya itu yang digunakan," kata Retno.

Misalnya, makan menggunakan tangan kiri yang tidak dapat dikatakan buruk. Namun masalahnya, Indonesia kental menganut norma kehidupan budaya timur,. Sebagian orang menganggap ini bertentangan dengan ajaran agama dan etika.

"Harusnya hal seperti ini harus bisa kita edukasi, sehingga jangan sampai ini menjadi bullying. Padahal sebenarnya tidak apa, kalau memang tangan kiri lebih aktif, tapi mungkin sedikit disesuaikan saat situasi-situasi tertentu saja," ucapnya.

Secara gamblang Retno turut mematahkan terkait mitos atau anggapan sebagian orang yang berpikir bahwa penggunaan tangan kidal disebut-sebut lebih cerdas dan kreatif, atau berumur pendek dibandingkan penggunaan dominan tangan kanan.

"Tidak ada, saya belum pernah ketemu studi atau penelitian seperti itu. Misal orang cerdas dan kreatif diukur melalui intelegensi, biasanya verbal dan performance lebih kepada kemampuan pemecahan masalah. Bukan dari gerakan tangan," tandas dia.

Baca Juga: Nestapa Warga Pulau di Bandar Lampung, Banjir Rob Langganan Tiap Tahun

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya