Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Unila Masuk Rekor Muri Penuangan Cairan Eco-Enzyme UI Green Matric

Bandar Lampung
Unila Masuk Rekor Muri Penuangan Cairan Eco-Enzyme UI Green Matric
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)
Intinya Sih
  • Unila tuangkan 1.200 liter cairan eco-enzyme ke embung Rusunawa Unila, memecahkan rekor MURI dalam Festival Eco-Enzyme 2024
  • Rektor menyatakan peringkat green metric sebagai tolok ukur penting untuk meningkatkan kualitas kampus dari sisi non akademisi dan menerapkan target pembangunan berkelanjutan
  • Pembuatan eco-enzyme kolaboratif oleh dosen Mikrobiologi Lingkungan Dewi Sartika dan mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian, dengan bahan baku ramah lingkungan
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times -Universitas Lampung (Unila) menjadi bagian dari pemecahan rekor MURI penuangan cairan Eco-Enzyme oleh perguruan tinggi terbanyak di Indonesia pada acara Festival Eco-Enzyme 2024 digelar UI Green Matric. Acara berlangsung sacara dalam jaringan melalui zoom diikuti 45 perguruan tinggi lainnya tersebut melakukan penuangan cairan Eco-Enzym secara serentak di berbagai lokasi di Indonesia sekaligus menandai perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan semangat keberlanjutan.

Sementara itu Rektor Unila Prof Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila.

"Unila mendapat urutan ke empat untuk menuangkan cairan Eco-Enzyme sebanyak 1.200 liter ke dalam embung. Beberapa tahun ini Unila memang masuk UI Green Matric karena kita termasuk kampus hijau," kata rektor Unila usai melakukan penuangan cairan Eco-Enzym di Embung Unila, Sabtu (17/8/2024).

1. Pentingnya pemeringkatan Green Matric bagi kampus

Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)

Rektor mengatakan, pemeringkatan green metric merupakan salah satu tolok ukur penting membantu meningkatkan kualitas kampus dari sisi non akademisi,l. Terutama di era yang penuh dengan berbagai konsep pelestarian saat ini, seperti smart city, eco green dan sebagainya.

Menurutnya, menerapkan indikator GreenMetric maka kampus tersebut secara langsung telah menerapkan target pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).

"Saya ucapkan terima kasih kepada pihak UI Green Metric yang telah bersedia dan mengajak bersama-sama Universitas Lampung untuk ikut andil dalam momen langka ini. Serta kepada LPPM dan jajaran panitia yang telah memungkinkan terlaksananya pemecahan rekor MURI ini," kata rektor.

Pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat memicu inisiasi atau ide-ide serupa yang mampu memunculkan keunggulan Unila di bidang pelestarian dan lingkungan hijau.

"Selain itu, cairan eco-enzyme yang digunakan pada kegiatan ini adalah produksi kita sendiri. Artinya Unila punya satu produk yang mempunyai daya tarik dan daya jual di mata masyarakat, dan nilai ekonomis bisa menambah pemasukan bagi Unila, mohon untuk BPU menindaklanjuti," terangnya.

2. Unila produksi Eco-Enzyme sendiri bersama mahasiswa

Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)

Pembuatan eco-enzyme dilakukan secara kolaboratif oleh dosen Mikrobiologi Lingkungan Dewi Sartika, bersama mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian. Menurut Dewi Sartika, Eco-enzyme Unila diproduksi menggunakan bahan baku ramah lingkungan, seperti limbah kulit buah-buahan seperti lemon, pisang, melon, mangga, nanas, semangka, pepaya, dan buah aromatis lainnya.

"Proses produksi melibatkan teknologi sederhana, yaitu pemanfaatan starter untuk mempercepat fermentasi, menghasilkan eco-enzyme dengan aroma segar khas fermentasi buah," jelasnya saat diwawancara IDN Times.

3. Manfaat Eco-Enzyme Unila

Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriyani bersama civitas akademika, himpunan mahasiswa Teknik serta Pertanian melakukan penuangan cairan Eco-Enzyme secara langsung di Embung Rusunawa Unila (IDN Times/Silviana)

Lebih lanjut Dewi menjelaskan, produk eco-enzyme Unila memiliki berbagai khasiat, antara lain sebagai anti-inflamasi, anti-mikroba, perawatan kulit, penuruncemaran air, dan pupuk. Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan konsep Eco Campus Unila yang mengusung prinsip Green Education for Sustainability Future dan Green Living for Sustainability Future.

"Eco-enzyme Unila merupakan contoh nyata dari upaya pengurangan sampah (Reduce), pemanfaatan kembali bahan yang tidak bermanfaat (Reuse), dan pengolahan bahan menjadi produk bernilai jual (Recycle)," katanya.

Dewi menambahkan, pembuatan dan penerapan produk ramah lingkungan seperti eco-enzyme, Unila menunjukkan komitmennya dalam menuju kampus berwawasan lingkungan berkelanjutan.

"Keberhasilan kegiatan ini tidak hanya menegaskan peran Unila dalam gerakan keberlanjutan, tetapi juga memperkuat posisi universitas sebagai pelopor dalam pendidikan dan praktik ramah lingkungan di Indonesia," tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More