Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Erupsi Anak Krakatau Bisa Ganggu Ekonomi, Potensi Kerugian Miliaran

Bandar Lampung
Erupsi Anak Krakatau Bisa Ganggu Ekonomi, Potensi Kerugian Miliaran
Ilustasi pesisir Lampung. Pesisir Pulau Pasaran Bandar Lampung. (IDN Times/Rohmah Mustaurida).

  • Erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi mengganggu transportasi Selat Sunda, menaikkan waktu tempuh dan biaya distribusi pada koridor ekonomi strategis yang menghubungkan Jawa-Sumatra.

  • Simulasi CURS memperkirakan keterlambatan rata-rata enam jam di Merak-Bakauheni memicu beban langsung Rp10-Rp20 miliar per hari; gangguan sehari penuh dapat mencapai Rp40-Rp80 miliar.

  • Lampung dan Banten bergantung pada pergerakan Selat Sunda; pemerintah didorong menyiapkan jalur alternatif serta melindungi sektor pesisir, termasuk perikanan, pariwisata, perdagangan, transportasi, dan UMKM.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda tidak hanya menjadi persoalan kebencanaan. Gangguan terhadap jalur transportasi di kawasan tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap rantai pasok dan aktivitas ekonomi menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra.

Peneliti Ekonomi Regional di Center for Urban and Regional Study (CURS), Erwin Octavianto mengatakan, Selat Sunda merupakan koridor strategis menghubungkan pusat produksi, kawasan industri, pelabuhan, jaringan logistik, perdagangan, pariwisata hingga kawasan permukiman di Banten dan Lampung.

"Gangguan pada jalur transportasi di Selat Sunda dapat menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian. Dampaknya tidak hanya berupa tertundanya perjalanan, tetapi juga dapat meningkatkan waktu tempuh dan biaya distribusi barang," ujar pakar ekonomi asal Lampung tersebut, Senin (7/9/2026).

  1. 1. Potensi economic time loss

    istockphoto-1472189897-1024x1024.jpg
    Ilustrasi truk logistik parkir. (Dok. iStock/Andresr)

    Menurut Erwin, bila aktivitas penerbangan, pelayaran maupun penyeberangan mengalami pembatasan, distribusi bahan baku dan kebutuhan pokok berpotensi ikut terdampak. Erwin melanjutkan, pelaku usaha juga harus menanggung biaya logistik lebih tinggi.

    "Kerugian yang muncul justru tidak selalu berasal dari kerusakan infrastruktur. Kerugian terbesar dapat muncul dari hilangnya waktu dan produktivitas ekonomi," ucapnya.

    Erwin mencontohkan, ketika satu truk tertahan selama enam jam, maka kerugian muncul bukan sekadar tambahan konsumsi bahan bakar. Tapi juga biaya pengemudi dan kendaraan, keterlambatan bongkar muat, perubahan jadwal kapal, tambahan biaya pergudangan hingga keterlambatan bahan baku masuk ke pabrik.

    "Termasuk hilangnya kesempatan kendaraan melakukan perjalanan berikutnya. Demikian juga ketika perjalanan masyarakat tertunda, karena waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja, melakukan kegiatan usaha atau aktivitas produktif lainnya berubah menjadi economic time loss," jelasnya.

  2. 2. Potensi kerugian miliaran rupiah

    ilustrasi penghitungan anggraan (freepik.com/pressfoto)
    ilustrasi penghitungan anggraan (freepik.com/pressfoto)

    Berdasarkan simulasi awal CURS dengan mempertimbangkan besarnya arus kendaraan pada koridor Merak-Bakauheni, Erwin melanjutkan, gangguan menyebabkan rata-rata keterlambatan sekitar enam jam diperkirakan dapat menimbulkan biaya langsung berupa kehilangan waktu, biaya operasi kendaraan dan produktivitas angkutan sekitar Rp6 miliar-Rp12 miliar per hari.

    Menurutnya, angka tersebut belum memperhitungkan biaya tambahan akibat rescheduling, penumpukan barang, tambahan inventory, keterlambatan distribusi serta aktivitas logistik lainnya. Dengan memperhitungkan komponen tersebut, beban ekonomi langsung kawasan secara konservatif dapat berkembang menjadi sekitar Rp10 miliar-Rp20 miliar per hari.

    "Angka ini bukan estimasi resmi kerugian bencana, melainkan ilustrasi mengenai besarnya opportunity cost apabila konektivitas Selat Sunda terganggu," kata Erwin.

    Apabila gangguan berlangsung lebih luas hingga satu hari penuh, maka economic exposure kawasan dapat meningkat hingga sekitar Rp40 miliar-Rp80 miliar per hari. Jumlah tersebut sangat bergantung pada tingkat pembatasan terjadi terhadap penyeberangan, pelayaran, penerbangan maupun jaringan jalan menjadi bagian dari konektivitas Jawa-Sumatra.

    "Angka ini belum memasukkan kerugian ekonomi lanjutan atau second-round effect. Apabila bahan baku terlambat sampai ke industri, maka kerugiannya tidak lagi berada di pelabuhan atau jalan. Kerugian berpindah ke dalam pabrik dalam bentuk berkurangnya jam produksi," sambung dia.

  3. 3. Lampung dan Banten punya keterkaitan ekonomi kuat

    IMG-20260907-WA0016.jpg
    Aktivitas Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Erwin mengatakan, struktur perekonomian Lampung dan Banten memiliki keterkaitan kuat dengan pergerakan barang dan manusia melalui Selat Sunda. Lampung menjadi salah satu pintu utama pergerakan berbagai komoditas dari Sumatra menuju Jawa.

    Sementara Banten memiliki kawasan industri dan logistik mempunyai hubungan ekonomi langsung dengan Sumatra. Gangguan transportasi di Selat Sunda berpotensi menghasilkan multiplier effect negatif terhadap berbagai sektor.

    "Transportasi terganggu, biaya distribusi meningkat. Kemudian memengaruhi harga barang, aktivitas industri, perdagangan, pariwisata hingga pendapatan masyarakat," jelasnya.

    Kondisi itu disebut menunjukkan pentingnya membangun resiliensi ekonomi regional. Pemerintah perlu memastikan ketika satu jaringan transportasi terganggu, masih tersedia alternatif pergerakan melalui jaringan jalan, pelabuhan, penyeberangan maupun simpul logistik lainnya.

    "Prinsip efisiensi tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan. Infrastruktur yang sangat efisien pada kondisi normal tetapi hanya bergantung kepada satu koridor utama dapat menjadi sangat rentan ketika menghadapi bencana," tambah dia.

  4. 4. Ekonomi masyarakat pesisir perlu dilindungi

    IMG-20260907-WA0015.jpg
    Aktivitas Pelabuhan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Selain menjaga konektivitas antarpulau, Erwin menilai, pemerintah perlu memperhatikan dampak erupsi terhadap ekonomi masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung. Sektor perikanan, pariwisata, perdagangan, transportasi dan UMKM sangat sensitif terhadap perubahan mobilitas masyarakat maupun pembatasan aktivitas akibat bencana.

    Sehingga mitigasi tidak cukup hanya diarahkan untuk menjaga keselamatan masyarakat, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi tidak berhenti terlalu lama. "Peristiwa Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa bencana alam dapat berubah menjadi gangguan ekonomi ketika sistem wilayah tidak memiliki ketahanan yang cukup," katanya.

    Erwin mendorong risiko bencana semakin kuat diintegrasikan ke dalam perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan industri serta strategi ekonomi regional. "Bagi CURS, menjaga Selat Sunda berarti menjaga lebih dari sekadar konektivitas transportasi. Selat Sunda merupakan koridor ekonomi yang menghubungkan dua pulau dengan kontribusi ekonomi terbesar di Indonesia," imbuh Erwin.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More