Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Aktivitas GAK Terkini, Kualitas Udara di Bandar Lampung Tidak Sehat

Bandar Lampung
Aktivitas GAK Terkini, Kualitas Udara di Bandar Lampung Tidak Sehat
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).
  • Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tinggi hingga 7 September 2026, ditandai erupsi serta puluhan gempa vulkanik. Kualitas udara Bandar Lampung dan sekitarnya masuk kategori Tidak Sehat.
  • Dua gempa bumi berkekuatan 3,1 dan 3,0 SR tercatat di Selat Sunda. Pemantauan satelit hingga pukul 10.00 WIB belum mendeteksi awan panas dari Gunung Anak Krakatau.
  • Abu vulkanik berpartikel tajam berpotensi mengiritasi pernapasan, mata, dan kulit; SO₂ mencapai 212–224 µg/m³. Warga diminta memakai masker, membatasi aktivitas luar, serta mengikuti informasi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda masih tinggi hingga Senin (7/9/2026). Kondisi ini turut berdampak terhadap kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya dengan konsentrasi masuk kategori Tidak Sehat (kuning).

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Provinsi Lampung diterima IDN Times, tercatat satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 58 milimeter dan durasi 44 detik, Minggu (6/9/2026) pukul 20.23 WIB. Sementara dalam periode pengamatan enam jam, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau tercatat sebanyak 50 kali gempa Low Frequency, 61 kali gempa Hybrid/Fase Banyak, serta satu kali Tremor Menerus.

Kemudian Senin (7/9/2026), aktivitas kegempaan masih berlangsung. Pada periode pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat empat kali gempa Hembusan, 17 kali gempa Harmonik, 34 kali gempa Low Frequency, dan 44 kali gempa Hybrid/Fase Banyak.

Namun, kondisi gelombang laut di sekitar wilayah pemantauan juga dilaporkan dalam keadaan tenang.

  1. 1. Dua gempa terjadi di Selat Sunda

    IMG_20260907_155307.jpg
    Pemprov Lampung menyampaikan konferensi pers kondisi terkini aktivitas Gunung Anak Krakatau di BPBD Lampung. (Dok. BPBD Lampung).

    Selain aktivitas vulkanik, dua kejadian gempa bumi juga dilaporkan tercatat di wilayah Selat Sunda pada Senin dini hari. Gempa pertama berkekuatan 3,1 SR terjadi pukul 00.05 WIB dengan kedalaman 11,7 kilometer. Selanjutnya, gempa berkekuatan 3,0 SR terjadi pukul 04.18 WIB dengan kedalaman 81,1 kilometer.

    Pada periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, Gunung Anak Krakatau masih terpantau tertutup kabut hingga mendung. Cuaca di sekitar gunung berawan dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

    Aktivitas kegempaan pada periode tersebut masih didominasi gempa Harmonik, Low Frequency, Hembusan/Fase Banyak, serta Tremor Menerus. Sedangkan dari pemantauan citra satelit Himawari-9 menggunakan citra True Color dan Air Mass RGB hingga pukul 10.00 WIB, belum terdeteksi adanya awan panas dari Gunung Anak Krakatau.

  2. 2. Abu vulkanik berpotensi mengiritasi

    IMG_20260907_155225.jpg
    Penampakan mikroskopis abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Dok. BPBD Lampung).

    Terkait kondisi ini, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, keberadaan abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.

    Hasil pengamatan mikroskopis abu vulkanik oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Lampung dengan pembesaran 100 kali menunjukkan adanya partikel kristal berukuran sekitar 5-10 mikrometer. Partikel abu disebut memiliki bentuk tidak beraturan dan cenderung tajam, dengan karakteristik mineral keras dan abrasif seperti silika membuat abu vulkanik berpotensi menyebabkan iritasi apabila terhirup maupun mengenai mata dan kulit.

    "Kondisi kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya juga menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂). Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi SO₂ berada pada kisaran 212–224 µg/m³ dan masuk dalam kategori kuning atau Tidak Sehat," jelasnya.

  3. 3. Minta warga tingkatkan kewaspadaan

    IMG_20260905_221806.jpg
    Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Atas kondisi ini, Jihan mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi kualitas udara masuk kategori Tidak Sehat.

    Selain itu, ia juga meminta masyarakat mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan lembaga terkait, agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

    "Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dibatasi apabila tidak mendesak," imbuh Wagub.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More