Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kesaksian Warga Lihat Erupsi GAK: Ada 3 Dentuman dan Kilatan Petir

Kab. Lampung Selatan
Kesaksian Warga Lihat Erupsi GAK: Ada 3 Dentuman dan Kilatan Petir
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).
  • Warga yang memancing di perairan Gunung Anak Krakatau menyaksikan erupsi Sabtu dini hari, setelah sebelumnya gunung hanya terlihat diselimuti kabut hitam.
  • Saksi Eghie Febriansyah mendengar sekitar tiga dentuman serta melihat kilatan seperti petir dan semburan material panas dari jarak lebih dari 5 kilometer.
  • Eghie dan rekannya segera kembali ke dermaga demi keselamatan, diperkuat angin kencang dan gelombang setinggi sekitar 4–5 meter; ini pengalaman erupsi pertamanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari disaksikan langsung oleh sejumlah warga sedang berada di perairan sekitar gunung tersebut.

Salah seorang saksi, Eghie Febriansyah mengatakan, dirinya bersama sejumlah rekannya sedang memancing di perairan sekitar GAK. Saat awal berada di lokasi, kondisi gunung belum menunjukkan adanya erupsi dan hanya terlihat kabut berwarna hitam.

"Awalnya belum ada erupsinya, masih kabut hitam. Nah, pas jam 11-an lewat baru terjadi erupsinya," ujarnya dikonfirmasi.

  1. 1. Dengar tiga kali dentuman

    IMG_20260905_115231.jpg
    Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).

    Eghie mengatakan, erupsi tersebut juga disertai suara dentuman terdengar dari lokasi mereka memancing. Berdasarkan pendengarannya, terdapat sekitar tiga kali dentuman. "Tiga kali, kurang lebih," ucapnya.

    Selain dentuman, ia menyebut bersama dan rekan-rekannya melihat kilatan seperti petir hingga semburan material panas dari arah GAK. "Itu kami liatnya lebih dari sekitar 5 kilometer (area inti GAK)," lanjut dia.

  2. 2. Langsung tinggalkan lokasi

    Erupsi Gunung Anak Krakatau (Dok. Badan Geologi)
    Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sabtu dini hari (5/9/2026). (Dok. Badan Geologi)

    Melihat kondisi tersebut, Eghie bersama rekan-rekannya langsung memutuskan meninggalkan lokasi. Mereka tidak mencari lokasi memancing lain dan memilih kembali ke dermaga demi keselamatan.

    "Langsung keluar dari area situ. Gak cari spot lain lagi. Daripada terjadi apa-apa di situ, akhirnya kita keluar dan putusin untuk balik ke dermaga malam itu," jelasnya.

    Keputusan tersebut semakin diperkuat oleh kondisi cuaca di perairan yang dinilai kurang bersahabat. Ia mengatakan, angin saat itu cukup kencang dengan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 4-5 meter. "Angin lumayan kencang, ombak juga lumayan," sambung dia.

  3. 3. Pertama kali saksikan aktivitas erupsi

    IMG_20260905_115253.jpg
    Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah).

    Eghie menjelaskan, aktivitas memancing tersebut bukan merupakan agenda rutin komunitas. Ia bersama rekan-rekannya datang ke perairan tersebut dalam rangka rekreasi sekaligus acara bersama teman-teman kantor.

    Menurutnya, mereka juga tidak sering memancing di sekitar perairan GAK. Peristiwa erupsi yang disaksikan pada malam tersebut merupakan pengalaman pertama bagi Eghie.

    "Gak sering kok. Itu juga rekreasi. Gak begitu sering. Betul, pertama kali kejadian," imbuh Eghie.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More