IDI: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Picu Sesak Napas dan Bronkitis

Bandar Lampung, IDN Times - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung menyebut partikel abu vulkanik yang terhirup dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari batuk dan sesak napas hingga masalah yang lebih serius pada saluran pernapasan.
Ketua IDI Lampung, dr Josi Harnos, mengatakan saluran pernapasan secara alami akan memberikan respons ketika terpapar benda asing, termasuk partikel abu vulkanik.
Respons tersebut dapat berupa peradangan, peningkatan produksi lendir, hingga penyempitan saluran napas. Kondisi ini kemudian dapat memicu batuk maupun sesak napas.
"Batuk pasti, pasti sesak napas, karena itu bentuk self-defense-nya saluran napas," katanya, Senin (7/9/2026).
1. Paparan lama dan berulang bisa berdampak ke paru-paru

ilustrasi paru-paru manusia (unsplash.com/Aakash Dhage) Menurut Josi, risiko kesehatan semakin besar apabila seseorang terpapar abu vulkanik dalam jumlah banyak, terlalu sering, atau dalam waktu yang lama.
Partikel abu yang masuk lebih jauh ke saluran pernapasan dapat mencapai paru-paru dan berpotensi menyebabkan gangguan yang lebih serius.
"Kalau dalam jangka waktu yang terlalu lama, terlalu banyak, atau terlalu sering, maka itu akan masuk ke saluran pernapasan yang lebih dalam lagi. Di dalam paru-parunya sendiri, itu bisa menyebabkan gangguan yang serius, misalnya bronkitis dan lain sebagainya," ujarnya.
2. Penderita asma dan PPOK perlu lebih waspada

ilustrasi asma (pexels.com/Cnordic Nordic) Josi mengingatkan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan untuk meningkatkan kewaspadaan selama paparan abu vulkanik masih terjadi.
Menurutnya, abu vulkanik dapat memperberat kondisi penderita asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
"Dia bisa jadi lebih berat, lebih cepat, lebih membahayakan nantinya. Sangat dikhawatirkan," jelasnya.
3. Mata juga bisa mengalami iritasi

ilustrasi iritasi mata (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Gangguan akibat abu vulkanik tidak hanya terjadi pada sistem pernapasan. Mata juga dapat terdampak ketika terkena partikel abu.
Josi menyebut, paparan abu dapat memicu konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata. Gejalanya antara lain mata merah dan terasa tidak nyaman.
"Informasi akan terjadi konjungtivitis, peradangan pada selaput mata. Merah. Itu mengganggu," katanya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut dapat membaik setelah mata dibersihkan. Namun, masyarakat tetap perlu membatasi paparan abu agar keluhan tidak berulang atau semakin berat.
4. Warga diminta kurangi aktivitas di luar rumah

Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana saat menghimbau warga soal mengenakan masker. (Dok. Komdigi Bandar Lampung) IDI Lampung telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga telah diimbau menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Josi meminta warga mengurangi kegiatan di luar rumah selama sebaran abu vulkanik masih terjadi. Aktivitas olahraga di luar ruangan juga sebaiknya ditunda sementara.
"Batasi dulu kegiatan di luar gedung, di luar rumah, khususnya karena sekali lagi ini pasti akan mengganggu penglihatan dan pernapasan," tuturnya.
Menurut Josi, perkembangan kondisi masih perlu dipantau, terutama terkait durasi erupsi dan berapa lama paparan abu vulkanik berlangsung.
Jika paparan berlanjut, upaya mitigasi terhadap risiko gangguan pernapasan perlu dilakukan lebih intensif.


















