Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Survei Konsumen, Komitmen Lingkungan jadi Penentu Pilihan AMDK
Ilustrasi produk air minum dalam kemasan (AMDK) AQUA (Dok. AQUA).
  • Survei menunjukkan reputasi merek AMDK kini lebih dipengaruhi komitmen lingkungan, dengan AQUA meraih skor tertinggi 50,3 persen dibandingkan pesaingnya.
  • Inovasi seperti galon guna ulang dan kemasan plastik daur ulang memperkuat persepsi positif terhadap merek yang berkomitmen pada keberlanjutan.
  • Meningkatnya kesadaran publik soal sampah plastik mendorong pentingnya penggunaan kemasan berkelanjutan untuk menekan timbulan sampah nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Survei terbaru konsumen memilih produk air minum dalam kemasan (AMDK) menunjukkan aspek keberlanjutan kini berperan besar dalam membentuk reputasi dan tingkat kepercayaan publik.

Laporan World Visualized bertajuk Indonesia’s Bottled Water Brands Face a Moment of Truth in 2025 mencatat, konsumen menilai tanggung jawab lingkungan sebagai indikator penting dalam reputasi merek.

1. Reputasi merek AMDK tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk

Ilustrasi produk air minum dalam kemasan (AMDK) AQUA (Dok. AQUA).

Dalam kategori komitmen lingkungan, AQUA mencatat skor tertinggi sebesar 50,3 persen, unggul dibandingkan sejumlah merek lain di industri AMDK.

Di bawah AQUA, merek Le Minerale memperoleh skor 35,4 persen, sementara merek lain seperti Cleo, Vit, dan Hydrococo berada di kisaran sekitar 25 persen.

Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan reputasi merek AMDK tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh sejauh mana perusahaan dinilai memiliki komitmen nyata terhadap lingkungan dan keberlanjutan.

Survei tersebut melibatkan 1.094 responden pengguna internet berusia di atas 18 tahun di Indonesia dan dilakukan pada periode September hingga Oktober 2025.

2. Sejumlah inisiatif keberlanjutan dinilai menjadi faktor memperkuat persepsi positif

ilustrasi saringan air galon (freepik.com/freepik)

Sejumlah inisiatif keberlanjutan dinilai menjadi faktor memperkuat persepsi positif terhadap AQUA. Selain penggunaan galon guna ulang, perusahaan juga mengembangkan berbagai inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Termasuk botol berbahan plastik daur ulang serta desain kemasan yang menggunakan plastik lebih ringan untuk mengurangi dampak lingkungan.

Laporan tersebut mencatat meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan turut mendorong perusahaan memperkuat praktik keberlanjutan. Mulai dari pengelolaan sumber air, efisiensi proses produksi, hingga pengurangan dampak kemasan terhadap lingkungan.

3. Kesadaran publik terhadap isu sampah plastik juga terus meningkat

ilustrasi sampah plastik (pexels.com/SHVETS production)

Kesadaran publik terhadap isu sampah plastik juga terus meningkat seiring bertambahnya volume sampah di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA).

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat timbulan sampah nasional mencapai sekitar 36 juta ton pada 2024 dari 342 kabupaten/kota, dengan 19,59 persen di antaranya merupakan sampah plastik.

Sementara pada 2025, data sementara dari 249 kabupaten/kota menunjukkan timbulan sampah mencapai sekitar 25 juta ton, dengan 20,45 persen merupakan sampah plastik. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses penghitungan yang masih berjalan.

Kondisi tersebut mendorong pentingnya penggunaan kemasan yang lebih berkelanjutan, termasuk kemasan guna ulang yang dinilai mampu menekan timbulan sampah plastik.

4. Penggunaan galon guna ulang memiliki manfaat ekologis

ilustrasi galon dan dispenser (freepik.com/DC Studio)

Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia, Bisuk Abraham Sisungkunon, mengatakan, penggunaan galon guna ulang memiliki manfaat ekologis yang signifikan dibandingkan kemasan sekali pakai.

“Penggunaan galon guna ulang dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan galon sekali pakai,” kata Bisuk.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga menunjukkan tanpa keberadaan galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen berpotensi beralih ke kemasan sekali pakai, yang dapat meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.

5. Galon guna ulang dirancang untuk digunakan berkali-kali

ilustrasi galon (freepik.com/freepik)

Galon guna ulang dirancang untuk digunakan berkali-kali sehingga dapat menekan volume sampah plastik dan emisi karbon secara signifikan. Sebaliknya, galon sekali pakai langsung dibuang setelah digunakan sehingga berpotensi menambah beban sampah plastik di lingkungan.

Dalam skenario tanpa galon guna ulang, emisi sampah plastik bahkan diperkirakan dapat meningkat hingga 1,65 juta ton per tahun. Itu berpotensi menghambat target pemerintah menurunkan sampah plastik sebesar 30 persen pada 2025.

“Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air atau laut, maupun dibuang langsung ke tanah,” kata Bisuk.

Editorial Team