Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puncak Musim Kemarau di Lampung September 2026, Ini Prediksi BMKG
ilustrasi musim kemarau (freepik.com/jcomp)

  • BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Lampung terjadi pada September 2026, bersamaan dengan gelombang ketiga wilayah Indonesia yang mengalami kondisi serupa.
  • Fenomena El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dengan dampak langsung terasa sampai Oktober 2026, memperkuat intensitas kekeringan di berbagai daerah termasuk Lampung.
  • BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah melakukan mitigasi seperti penyesuaian jadwal tanam, penghematan air, serta perbaikan infrastruktur air untuk menghadapi puncak kemarau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Masyarakat Provinsi Lampung diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kesiapan dalam menghadapi fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Lampung akan terjadi pada September 2026 mendatang.

Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II, Rudi Harianto mengatakan, kondisi tersebut diperkirakan akan berjalan beriringan dengan dampak fenomena El Nino masih bertahan di Indonesia.

"Ya, untuk Provinsi Lampung musim kemarau diprediksi baru akan mencapai titik tertingginya pada bulan September," ujarnya dikonfirmasi, Sabtu (20/6/2026).

1. Lampung masuk daftar wilayah puncak kemarau September

ilustrasi musim kemarau (pexels.com/AlesVeluscek)

Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia secara umum terbagi dalam tiga gelombang utama sejak Juli hingga September 2026. Sementara sebagian besar Indonesia atau mencakup sekitar 48,84 persen wilayah mengalami puncaknya pada Agustus.

Provinsi Lampung masuk ke dalam kelompok gelombang ketiga bersama Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, hingga sebagian besar Maluku Utara.

Total ada sebanyak 169 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 25,41 persen wilayah Indonesia yang puncaknya terjadi September mendatang tersebut.

2. El Nino bertahan hingga awal 2027, dampak langsung terasa sampai Oktober

ilustrasi musim kemarau (freepik.com/sergeycauselove)

Rudi menjelaskan, situasi kemarau kali ini diperkuat oleh keberadaan fenomena El Nino yang masih eksis. Berdasarkan perhitungan awal Juni 2026, BMKG mendeteksi adanya peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen, serta peluang kategori kuat sebesar 62 persen.

Alhasil, data BMKG memprediksi dan memperkirakan fenomena El Nino tersebut masih akan bertahan hingga awal tahun 2027.

"Sejauh ini, bagi wilayah Indonesia termasuk Lampung, fenomena El Nino diperkirakan hanya akan memberikan dampak langsung sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026," katanya.

3. Rekomendasi langkah mitigasi petani hingga pemerintah

Ilustrasi musim kemarau. https://images.app.goo.gl/6k4X6pF8YhAEoJDT9

Sejalan dengan prediksi tersebut, Rudi menambahkan, seluruh masyarakat diharapkan segera dan memulai tindakan antisipasi. Itu guna menekan risiko kerugian materil maupun non-materiil akibat dampak langsung keringan akibat El Nino tahun ini.

Mulai dari petani disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman hemat air dan tahan terhadap kondisi cuaca kering; pemerintah diminta merevitalisasi waduk, embung, serta perbaikan jaringan pipa air bersih demi menjaga pasokan air selama masa puncak kekeringan.

Termasuk memastikan kapasitas air bendungan tetap berada di batas aman, guna mendukung kelancaran operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Selain itu, wajib menyiapkan respons cepat mengantisipasi polusi udara yang berpotensi memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat.

"Langkah strategis mitigasi ini perlu diperhatikan lintas sektor. Tetap jaga kesehatan, hemat penggunaan air bersih, dan selalu pantau pembaruan informasi cuaca resmi dari BMKG," imbuh Rudi.

Editorial Team

Related Article