Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Veteran Lampung Ali Anwar, dari Medan Operasi ke Masa Senja

Bandar Lampung
Kisah Veteran Lampung Ali Anwar, dari Medan Operasi ke Masa Senja
Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
  • Ali Anwar, 82 tahun, memulai karier TNI AD sebagai Prada pada 1972, bertugas dalam operasi PGRS/Paraku di Kalimantan Barat, lalu pindah ke Batalyon 143/Garuda Hitam di Lampung.
  • Ali menjalani operasi selama 13 bulan di Timor Timur pada 1975 bersama sekitar 991 personel Batalyon 143, serta terlibat Operasi Warman di Lampung Utara pada 1977.
  • Setelah pensiun sebagai Serka pada 1999 usai 27 tahun berdinas, Ali menerima tunjangan veteran Rp1,83 juta per bulan dan aktif menyampaikan Jiwa Semangat Nasional kepada generasi muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Mengenakan seragam cokelat khas veteran lengkap dengan tanda jasa berjejer di dada, Serka (Purn) Ali Anwar duduk tenang di ruang rumahnya. Sesekali ia membetulkan kacamata, merapikan topi veteran berwarna kuning, lalu membuka dokumen berada di tangannya.

Di usia 82 tahun, ingatan Ali masih menyimpan potongan panjang perjalanan hidupnya sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Di rumahnya di Jalan Teratai, Kelurahan Surabaya, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, berbagai atribut veteran menjadi pengingat masa pengabdiannya.

Ia memulai karier militernya dari pangkat Prajurit Dua (Prada) pada 1972 dan mengakhiri masa dinas dengan pangkat Sersan Kepala (Serka) sebelum pensiun pada 1999. 

  1. 1. Dari Prada, mengawali operasi di Kalimantan Barat

    IMG-20260812-WA0086.jpg
    Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Ali mengatakan, mulai aktif meniti karier di dunia kemiliteran pada 1971. Setahun kemudian, ia dilantik menjadi prajurit TNI AD dari golongan Tamtama dengan pangkat prajurit dua (Prada).

    Tugas operasi pertamanya membawa Ali ke Kalimantan Barat. Ia bergabung dalam operasi penumpasan PGRS/Paraku selama sekitar 11 bulan. Saat itu, Ali sebelumnya berada di Batalyon 141 bergabung dalam Bawah Perintah (BP) Batalyon 144 untuk menjalankan operasi.

    "Alhamdulillah pelaksanaan operasi selama 11 bulan, kembali dalam keadaan sehat," ujar Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung ini kepada IDN Times, Rabu (12/8/2026)

     Sepulang dari Kalimantan Barat, Ali kembali ke Batalyon 141. Perjalanan kariernya kemudian membawanya ke Provinsi Lampung. Pada 1974, ia bersama personel lainnya dipindahkan ke Batalyon 143/Garuda Hitam.

  2. 2. Selama 13 bulan jalani operasi di Timor Timur

    IMG-20260812-WA0076.jpg
    Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Tahun 1975 menjadi salah satu bagian paling membekas dalam kehidupan Ali. Ratusan prajurit dari Batalyon 143/Garuda Hitam, termasuk dirinya saat itu diberangkatkan untuk menjalankan operasi di Timor Timur. Saat itu, konflik bersenjata masih berlangsung dan Fretilin menjadi salah satu kelompok utama berhadapan dengan pasukan bersenjata Indonesia.

    Ali mengaku menjadi bagian dari sekitar 991 personel Batalyon 143 yang menjalankan tugas selama 13 bulan. "Operasinya selama 13 bulan. Batalyon 143 itu 13 bulan," kenangnya.

    Bagi Ali, masa tersebut bukan sekadar bagian dari perjalanan karier. Ada suka dan duka, termasuk kehilangan rekan-rekan seperjuangan. Ia mengaku sampai sekarang masih memiliki perasaan emosional ketika membicarakan lepasnya Timor Timur dari Indonesia setelah proses politik dan referendum pada 1999.

    "Saya secara pribadi tidak rela Timor Timur menjadi negara sendiri," ucapnya tertunduk.

    Namun, sebagai prajurit sekaligus warga negara, ia mengatakan harus menerima keputusan negara. "Banyak sekali darah, banyak perjuangan kita yang sudah ditanamkan di Timor Timur. Prajurit-prajurit kita yang mati dalam melaksanakan operasi itu. Tetapi kita sadar karena warga negara, itu sudah keputusan negara," lanjut dia.

    Ali menyebut, pengalaman tersebut sebagai bagian dari sejarah yang akan terus melekat dalam kehidupannya. "Namanya perjuangan, sejarah militer, sejarah hidup selama hidup ini," lanjut dia.

  3. 3. Pensiun dinas di Lampung

    IMAGE 1.jpg
    Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Selain operasi di Kalimantan Barat dan Timor Timur, Ali juga mengingat keterlibatannya dalam Operasi Warman pada 1977 di wilayah Lampung Utara. Namun, operasi Timor Timur menjadi pengalaman operasi berskala nasional yang paling membekas selama menjadi prajurit.

    Puluhan tahun pengabdian membuat Ali akhirnya mencapai pangkat Serka, sebelum akhirnya pensiun pada 1999. Total, ia menghabiskan kehidupannya sebagai prajurit sekitar 27 tahun.

    "27 tahun saya di tentara. Itulah masa dinas saya. Saya pensiun dengan pangkat Serka di Lampung," ucapnya dengan penuh semangat.

  4. 4. Tunjangan veteran dan makna bersyukur

    IMAGE 2.jpg
    Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Setelah pensiun, Ali tidak hanya menerima hak pensiun sebagai purnawirawan TNI. Statusnya sebagai veteran juga membuatnya memperoleh tunjangan veteran. Ia menyebut, tunjangan veteran diterimanya saat ini sekitar Rp1,83 juta per bulan, jumlah itu belum termasuk uang pensiun sebagai purnawirawan TNI.

    Menurut Ali, tunjangan veteran disalurkan melalui PT Taspen, sementara hak pensiun purnawirawan TNI disalurkan melalui PT Asabri. Ia tidak menampik jika perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan veteran masih menjadi hal yang penting. Namun, Ali memilih tidak banyak menuntut.

    "Legiun Veteran ini suatu lembaga yang besar, yang gak boleh merengek-rengek. Apa adanya saja. Bersyukur dengan apa yang diberikan pemerintah," tuturnya.

    Bagi Ali, besarnya nominal bantuan bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. "Kalau manusiawi, dikasih ditambahkan Rp10 juta pun belum tentu bahagia. Belum tentu pula cukup. Mesti bersyukur," sambung dia.

    Meski begitu, ia tetap membuka ruang jika pemerintah ingin memberikan perhatian lebih kepada para veteran. "Kalau pemerintah peduli, silakan saja mau ditambah," ujarnya sambil tersenyum.

  5. 5. Tak banyak mengalir ke anak

    IMG-20260812-WA0083.jpg
    Serka (Purn) Ali Anwar (82) Sekretaris DPC Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Cerita kesejahteraan veteran juga dirasakan oleh keluarga Ali. Dari lima anaknya, empat perempuan dan satu laki-laki. Anak laki-laki Ali, Murni Irawan kini berusia 43 tahun mengaku sempat merasakan fasilitas pendidikan ketika ayahnya masih berstatus prajurit aktif TNI.

    Menurutnya saat masih menjadi prajurit aktif, terdapat bantuan pendidikan untuk anak dengan sejumlah persyaratan. Termasuk bukti anak masih menjalani pendidikan. Namun, fasilitas tersebut bukan berasal dari status veteran.

    "Kalau dari veteran, enggak ada," kata pria akrab disapa Wawan tersebut.

    Ia menjelaskan, manfaat yang diterima keluarga lebih banyak melekat pada hak orang tuanya sebagai prajurit maupun sebagai veteran, bukan berupa tunjangan langsung yang diwariskan kepada anak. "Kalau ke kami itu melalui bapak, tidak langsung ke anak," ujarnya.

    Wawan juga menyebut setelah orang tuanya berstatus veteran, tidak ada lagi fasilitas pendidikan yang diterima anak-anaknya karena seluruh anak sudah tidak berada dalam usia sekolah. "Kita sebagai keluarga yang paham, karena sudah ketentuannya seperti itu," sambung dia.

  6. 6. Menjaga jiwa semangat nasional

    Ilustrasi Nasionalisme (pexels.com/bima)
    Ilustrasi Nasionalisme (pexels.com/bima)

    Bagi Ali, menjadi veteran bukan semata-mata menerima tanda kehormatan atau tunjangan dari negara. Ada tanggung jawab lain yang menurutnya jauh lebih penting, yakni menjaga ingatan sejarah. Itu disebutnya dengan istilah JSN atau Jiwa Semangat Nasional.

    Melalui LVRI, Ali mengatakan para veteran memiliki kewajiban menyampaikan pengalaman dan nilai perjuangan kepada generasi muda. Menurut dia, masih banyak anak muda hanya mengetahui sejarah Indonesia secara umum tanpa memahami panjangnya proses perjuangan menuju kemerdekaan.

    "Yang perlu kita sampaikan kepada generasi muda, mulai tingkat SD, stakeholder lain, mahasiswa, pengusaha. Terus kita sampaikan isi JSN tadi untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia," serunya dengan nada lantang.

    Di masa sekarang, Ali ingin pengalaman generasinya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Oleh karenanya, para veteran tetap memiliki peran penting untuk mengisi kemerdekaan sesuai bidang masing-masing.

    "Termasuk kita semua, lembaga-lembaga, menyampaikan yang positif kepada seluruh lapisan masyarakat. Itu isinya," pesan Ali.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More