PGN Kembangkan CBM Berbasis Batubara, Tambah Pasokan Gas

- PGN mengembangkan proyek Coalbed Methane (CBM) di Tanjung Enim untuk menambah pasokan gas domestik dan membuka peluang monetisasi sumber daya gas non-konvensional.
- Pemerintah melalui KSP menilai pengembangan CBM memiliki nilai strategis nasional dan mendorong percepatan penyelesaian administrasi agar segera masuk tahap komersialisasi.
- PGN juga mengintegrasikan pasokan dari biomethane dan Synthetic Natural Gas dengan infrastruktur pipeline guna menjaga kestabilan pasokan energi di Sumatera Selatan.
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mencari sumber-sumber pasokan baru non-konvensional dengan melaksanakan beberapa program gasifikasi dari molekul-molekul gas dan juga sumber-sumber pasokan yang ada.
Salah satu inisiatif yang tengah dilakukan adalah pemanfaatan Coalbed Methane (CBM) atau gas berbasis batubara yang dapat dimanfaatkan untuk dapat dijadikan gas methane dan menambah pasokan bagi PGN.
1. Berpotensi membuka ruang monetisasi sumber daya gas non-konvensional domestik

Bagi PGN, pengembangan CBM di Tanjung Enim berpotensi membuka ruang monetisasi sumber daya gas non-konvensional domestik yang selama ini belum optimal. Inisiatif ini juga dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi pasokan gas domestik bagi PGN untuk mendukung kebutuhan industri dan pembangkit.
Berdasarkan data Ditjen Migas KESDM, potensi CBM di Tanjung Enim diperkirakan mencapai sekitar 9,7 TCF OGIP atau Original Gas in Place. Estimasi nilai potensi gas sekitar US$15,4 miliar.
PGN menegaskan kesiapan teknis maupun komersial melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang ada, dengan target penyaluran yang diproyeksikan tumbuh secara bertahap mulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai 25 MMSCFD.
2. Memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional

Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn), Dudung Abdurachman saat mengunjungi Stasiun Penerima Gas (SPG) dan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Pagardewa, Jumat (3/7/2026). menyampaikan, percepatan proyek pengembangan pemanfaatan CBM menjadi perhatian bersama. Itu karena, memiliki nilai strategis bagi kepentingan nasional.
Menurutnya, meskipun masih terdapat sejumlah aspek administrasi yang perlu diselesaikan, termasuk penyesuaian Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), seluruh pihak telah menyepakati pentingnya percepatan penyelesaian sesuai ketentuan yang berlaku.
KSP mendorong penyelesaian hambatan lintas sektor agar pengembangan Gas Metana Batubara dari wilayah Muara Enim ini dapat segera masuk tahap komersialisasi. Penyelesaian administrasi tetap harus mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku.
3. Jaga kestabilan pasokan dan manfaatkan SDA

Direktur Utama PGN Arief K Risdianto menjelaskan, selain coal-bed methane (CBM), PGN juga mencoba meraih potensi pasokan dari biomethane yang bersumber dari limbah kelapa sawit dan Synthetic Natural Gas (SNG). Potensi pasokan dari ketiga sumber ini sangat besar di Sumatera Selatan.
"Upaya menjaga kestabilan pasokan sekaligus memanfaatkan sumber daya alam tersedia di Sumatera Selatan, PGN melaksanakan pengembangan infrastruktur injection point," jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (6/7/2026).
Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan masukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada,” jelas Arief.
Integrasi infrastruktur berbasis pipeline dan non-pipeline menjadi kunci utama efektivitas penyerapan energi ini. Kendati kesiapan operasional, PGN menggarisbawahi percepatan proyek strategis ini membutuhkan dukungan dari seluruh stakeholder




















