Pameran rupa di Gedung Dewan Kesenian Lampung (IDN Times/Silviana)
Selain masalah SDM, menurut pria kelahiran 1975 itu, pemerintah tidak turun secara efektif untuk memberdayakan tradisi dan budaya Lampung. Bahkan, dalam kondisi seperti sekarang, menurutnya tradisi Lampung khususnya bahasa tidak akan lebih baik dan semakin tergerus budaya asing.
"Intinya, pemerintah daerah atau orang-orang kebudayaan di Lampung itu gak punya strategi kebudayaan yang benar. Bagaimana caranya memberdayakan dan menumbuh kembangkan kebudayaan Lampung menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tuturnya.
Ari mengambil contoh, strategi kebudayaan dilakukan pemerintah Korea Selatan, fenomena K-pop dan K-Drama bukan tidak sengaja. Namun sebuah desain dibuat oleh pemerintah Korea bekerjasama dengan pihak swasta, kementerian pendidikan, pariwisata dan lainnya.
"Bagaimana mengembangkan, memberdayakan, mengekspor habis-habisan budaya Korea ke dunia. Jadi ekosistem seni di Korea itu benar-benar diberdayakan. Isinya jelas, bagaimana mendapat keuntungan ekonomis dari ekspor budaya itu. Strategi semacam itu di Lampung tidak jalan," jelasnya .
Menurutnya, pemerintah sama sekali tidak pernah peduli dengan grup teater dan kesenian di Lampung. Tidak ada bantuan, beasiswa dan biaya untuk riset. Namun, lanjut Ari, pegiat seni menggali kebudayaan untuk banding dengan budaya asing.
"Kita sendiri yang gali, duitnya dari mana? Emang gali gak perlu cangkul? Terus hasil temuannya siapa yang masarin? Pentas tetap harus bayar gedung. Gua yang gali, gua yang nyangkul, gua yang masarin sendiri, gua yang nyari duit. Terus orang menuntut harus memberdayakan budaya lokal. Itu gak tau diri namanya," tegasnya.