Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Musim Kemarau, BPBD Lampung Ingatkan Potensi Ancaman Karhutla
Peristiwa karhutla di Kabupaten Tulang Bawang. (IDN Times/Istimewa).

Bandar Lampung, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat seiring menguatnya musim kemarau "El Nino".

Analis Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza mengatakan, kondisi kemarau di Lampung terus meningkat sejak Juni. Itu berdasarkan analisis data curah hujan dasarian dan outlook Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Semakin ke bulan Juli, kondisi cuaca semakin kering karena curah hujan terus menurun. Di sisi lain, tren bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan tanah longsor justru menurun," ujarnya dikonfirmasi, Senin (27/7/2027).

1. Juli muncul lima laporan karhutla

Peristiwa karhutla di Kabupaten Tulang Bawang. (IDN Times/Istimewa).

Faresha melanjutkan, berkurangnya kejadian bencana hidrometeorologi tersebut menjadi salah satu indikator, musim kemarau mulai mendominasi sebagian besar wilayah Provinsi Lampung.

Dari laporan kebakaran hutan dan lahan mulai bermunculan pada Juli 2026. Tercatat, ada lima kejadian karhutla, terdiri dari empat kejadian di Kabupaten Pesisir Barat dan satu kejadian di Kabupaten Mesuji.

"Pada Juni, Mei, bahkan bulan-bulan sebelumnya tidak ada laporan karhutla. Juli menjadi bulan pertama muncul laporan dan langsung ada lima kejadian," ujarnya.

Meski luas area terbakar relatif kecil atau sekitar 100 meter persegi pada beberapa lokasi, ia memastikan, seluruh kejadian berhasil ditangani dengan cepat oleh BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran setempat. "Alhamdulillah, tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas," lanjut dia.

2. Hampir seluruh wilayah Lampung berpotensi rawan

Peristiwa karhutla di Kabupaten Tulang Bawang. (IDN Times/Istimewa).

Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) BPBD Provinsi Lampung, potensi karhutla mencakup hampir seluruh wilayah provinsi. Daerah dengan tingkat risiko relatif rendah umumnya berada di kawasan dataran tinggi dan Pegunungan Bukit Barisan.

Selain itu, vegetasi lebat justru dapat meningkatkan potensi kebakaran ketika berada dalam kondisi sangat kering, karena menjadi bahan bakar alami yang mempercepat penyebaran api.

"Sisanya memang banyak wilayah perkebunan dan pertanian. Ketika vegetasinya mengering akibat kemarau, itu menjadi media yang sangat mudah untuk perambatan api," jelas Faresha.

3. Mayoritas dipicu aktivitas manusia

puntung rokok (pexels.com/nn.TON.nn)

Dari data dan laporan Pusdalops, Faresha menegaskan, seluruh kejadian karhutla pada Juli tidak dipicu secara langsung oleh faktor alam, melainkan diduga berawal dari kegiatan atau aktivitas manusia.

Salah satu kejadian di Pesisir Barat diduga dipicu puntung rokok dibuang sembarangan di pinggir jalan. Sementara kejadian lainnya diduga berasal dari pembakaran sampah tidak terkendali, hingga api merambat ke vegetasi kering di sekitarnya.

"Faktor utamanya memang diduga aktivitas manusia. Kemarau yang panjang menjadi faktor pendukung karena vegetasi sangat kering sehingga api mudah menyebar," katanya.

4. Imbau masyarakat waspada karhutla

Peristiwa karhutla di Kabupaten Tulang Bawang. (IDN Times/Istimewa).

Berkaca dari peristiwa karhutla tersebut, Faresha menambahkan, BPBD Provinsi Lampung mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka, hingga membakar sampah secara sembarangan.

Termasuk membuang puntung rokok di area yang dipenuhi rumput ataupun semak-semak kering selama musim kemarau berlangsung.

"Peningkatan jumlah laporan pada Juli menjadi sinyal, agar seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau," imbut Faresha.

Curated For You

Editorial Team

Related Article